
Instiper Dampingi 4 KWT Ngestiharjo Naik Kelas ke Pasar Komersial./ Ist
JOGJA— Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta terus memperluas transfer teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) skema Program Desa Binaan (PDB) di Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, Instiper memperluas cakupan pendampingan dengan melibatkan dua kelompok wanita tani (KWT) baru, yakni KWT Tanjung Asri dan KWT Ngudi Lestari. Keduanya bergabung dengan KWT Kenanga dan KWT Sumber Rejeki yang telah lebih dahulu mendapat pendampingan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai ekonomi dan daya saing produk hortikultura desa sekaligus mendorong hasil olahan pertanian lokal menembus pasar yang lebih luas.
Program pendampingan ini menyasar penguatan ekonomi warga Desa Ngestiharjo melalui pemberdayaan asosiasi KWT. Kegiatan yang dipimpin Dr. Ngatirah, S.P., M.P., bersama tim PDB, Mohammad Prasanto Bimantio, S.T., M.Eng., Prof. Dr. Ir. Siti Tamaroh Cahyono Murti, M.P., dan Elizabeth Nanik Kristalisasi, S.P., M.P., telah dimulai sejak 2024.
Fokus utama program tersebut adalah meningkatkan nilai tambah produk olahan hortikultura sekaligus membuka peluang komersialisasi. Memasuki tahun ketiga, pendampingan diarahkan pada penguatan manajemen dan perluasan pasar bagi empat KWT binaan di Ngestiharjo.
Produk yang dikembangkan meliputi olahan lidah buaya oleh KWT Sumber Rejeki, bumbu pecel oleh KWT Kenanga, olahan serai oleh KWT Tanjung Asri, serta sayuran segar oleh KWT Ngudi Lestari. Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk dari hulu hingga hilir.
Program ini didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdiktisaintek melalui skema Pengabdian Desa Binaan (PDB). Program tersebut didasarkan pada kontrak induk DPPM dengan LLDIKTI V Nomor 208/C3/DT.05.00/PM/2026 tertanggal 13 April 2026, kontrak turunan LLDIKTI dengan PTS Nomor 0353.24/LL5-INT/AL.04.03/2026 tertanggal 28 April 2026, serta kontrak turunan PTS dengan dosen penerima hibah Nomor 002/LM/KS/IV/2026 tertanggal 30 April 2026.
Sejumlah pelatihan dan pengembangan telah dilaksanakan dalam program tersebut. Di antaranya pelatihan budidaya bawang merah secara vertikultur untuk mendorong pemanfaatan lahan terbatas, pelatihan masa simpan dan penentuan waktu kedaluwarsa produk untuk meningkatkan mutu serta menjamin keamanan pangan, serta pelatihan pemasaran digital dan pembuatan website asosiasi KWT untuk memperluas jangkauan pasar.
Selain pelatihan, program ini juga didukung bantuan alat dan mesin pengolahan untuk meningkatkan kapasitas serta efisiensi produksi. Peralatan yang diberikan antara lain spinner, cup sealer, blender, dan mesin perajang basreng lidah buaya sebagai pelengkap bantuan peralatan pada tahap sebelumnya.
Untuk mendukung produksi sayuran, KWT juga memperoleh bibit okra, cabai, sawi, tomat, dan terong serta berbagai sarana produksi lainnya. Dukungan turut diberikan melalui penyediaan sarana pengairan berupa sumur, mesin diesel, selang, jaringan pipa irigasi, dan kolam penampung air.
Dengan dukungan teknologi, pelatihan, peralatan, serta akses pemasaran tersebut, KWT diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk. Pendampingan juga diarahkan agar kelompok tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi mampu mengembangkan inovasi produk dan strategi pemasaran secara berkelanjutan.
Ke depan, program ini diharapkan dapat mendorong KWT semakin mandiri secara ekonomi sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pengembangan potensi pertanian desa. Melalui penguatan dari sisi produksi hingga pemasaran, Desa Ngestiharjo diharapkan semakin siap mewujudkan cita-cita sebagai Desa Mandiri Pangan.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
7

















































