Pakar: Umat Islam Perlu Terbuka Tanpa Tinggalkan Tradisi

9 hours ago 4

 Umat Islam Perlu Terbuka Tanpa Tinggalkan Tradisi Pakar UII tekankan umat Islam perlu terbuka pada modernitas tanpa meninggalkan tradisi dalam menghadapi tantangan zaman. - Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN— Pakar menekankan pentingnya sikap intelektual umat Islam yang adaptif terhadap modernitas tanpa kehilangan akar tradisi. Pendekatan ini dinilai krusial agar umat mampu berperan aktif di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.

Gagasan tersebut mengemuka dalam forum Bedah Buku Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif yang digelar pada Senin (27/4/2026), menghadirkan akademisi Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai narasumber utama.

Guru Besar Hukum Perdata Islam UII, Prof. Yusdani, menilai bahwa keterlibatan dengan dunia modern merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, keterlibatan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan menjaga pijakan pada tradisi intelektual dan budaya Islam.

"Tetap mengakar pada tradisi secara intelektual dan budaya seraya tetap terlibat dengan dunia modern dan mengambil manfaat dari sumber daya intelektual dan budaya yang ditawarkan modernitas," ujar Prof. Yusdani.

Ia menegaskan, umat Islam perlu mengembangkan sikap kritis dalam menyikapi tradisi maupun modernitas. Hal ini penting agar umat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu berperan sebagai subjek yang aktif menyaring dan memanfaatkan perkembangan zaman.

Menurutnya, proses pembelajaran tidak boleh terbatas pada khazanah Islam klasik, pertengahan, maupun modern saja, melainkan juga perlu membuka diri terhadap berbagai peradaban lain yang memiliki nilai pembebasan dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Keterbukaan tersebut mencakup keberanian melawan praktik kolonialisme pengetahuan serta mendorong integrasi wawasan episteme modern ke dalam tradisi keilmuan Islam secara sistematis.

"Keterbukaan dan kelenturan epistemologis mencerminkan semangat untuk secara kritis dan kreatif memasukkan teori ilmu sosial dan teori-teori humaniora kontemporer yang berasal dari episteme modern untuk tujuan melibatkan dan menafsirkan kembali tradisi Islam," jelasnya.

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, turut menekankan pentingnya pendekatan lintas disiplin bagi akademisi, khususnya yang mendalami studi Islam. Menurutnya, pemahaman yang luas akan membantu membangun sikap terbuka dan kemampuan hidup berdampingan di tengah perbedaan.

"Ini ilustrasi, memang kita harus membuka diri terhadap berbagai hal, terutama tentang Islam yang mungkin bisa jadi kita tidak setuju. Perumpamaanya kita Jabariyah, penting lho untuk mempelajari Qodariyah itu seperti apa, karena tanpa tahu itu akan sangat susah untuk hidup berdampingan, karena keduanya itu kan antitesis," katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Pakar Studi Islam Prof. Amin Abdullah yang mencontohkan praktik keterbukaan dalam forum akademik. Ia kerap menghadirkan narasumber nonmuslim dalam bedah buku karyanya untuk memperoleh perspektif eksternal terhadap studi Islam.

"Ini tujuannya adalah untuk keterbukaan, bagaimana orang menilai diri kita, bukan dari kalangan kita saja yang menilai," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news