Ini Lokasi Rumah Laksamana Maeda, Tempat Perumusan Naskah Proklamasi

4 hours ago 7

Ini Lokasi Rumah Laksamana Maeda, Tempat Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi di bekas rumah Laksamana Maeda menyimpan jejak perumusan, pengetikan, hingga penandatanganan naskah Proklamasi. /Bisnis.

Harianjogja.com, JAKARTA— Di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi salah satu tahapan penting menuju kemerdekaan Indonesia. Gedung bercat putih bergaya art deco tersebut merupakan bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang rumahnya digunakan sebagai tempat perumusan dan pengetikan naskah Proklamasi pada 16 Agustus 1945.

Bangunan yang berada tidak jauh dari Taman Suropati itu kini difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Museum tersebut berdiri di atas lahan seluas 3.914 meter persegi dengan luas bangunan 1.138 meter persegi.

Pada masa pendudukan Jepang, Maeda dikenal memiliki simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengizinkan kediamannya digunakan para tokoh bangsa untuk berkumpul dan membahas persiapan proklamasi.

Ketika memasuki museum, suasana remang-remang dan penataan ruang membuat pengunjung seolah dibawa kembali ke malam 16 Agustus 1945, ketika para tokoh bangsa menyusun naskah yang kemudian menjadi dasar pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jaka Perbawa, menjelaskan rangkaian peristiwa yang membawa Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo ke rumah Maeda.

"Semuanya bermula pada 16 Agustus 1945, setelah Sukarno dan Mohammad Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok, situasi sempat menemui jalan buntu. Ahmad Soebardjo kemudian datang untuk berunding dan memberikan jaminan bahwa proklamasi akan dilaksanakan keesokan harinya. Rombongan lalu dibawa ke Jakarta," ujar Jaka.

Pertemuan di Rumah Maeda

Sesampainya di rumah Maeda, Sukarno, Hatta, dan Soebardjo terlebih dahulu berada di ruang tamu. Ruangan tersebut kini masih menyimpan meja dan kursi yang menjadi bagian dari penataan museum.

Menurut Jaka, ruangan tersebut menjadi tempat Maeda menyambut kedatangan ketiga tokoh tersebut pada malam 16 Agustus 1945.

Maeda kemudian mempersilakan kediamannya digunakan untuk berkumpul dan berdiskusi. Sukarno, Hatta, dan Soebardjo tidak lama berada di ruang tamu sebelum berpindah ke ruang tengah.

Ruang tengah memiliki ukuran lebih luas. Saat ini, ruangan tersebut dilengkapi diorama yang menggambarkan Sukarno, Hatta, dan Soebardjo tengah berdiskusi merumuskan naskah Proklamasi.

Diorama tersebut memperlihatkan Sukarno menuliskan konsep awal naskah, sementara Hatta dan Soebardjo memberikan masukan secara lisan.

Dari pembahasan itu kemudian lahir kalimat pembuka naskah Proklamasi, "Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia."

Pembahasan berlanjut dengan sejumlah masukan. Hatta mengusulkan penambahan kalimat mengenai pengalihan kekuasaan agar isi proklamasi menjadi lebih lengkap.

Setelah melalui pembahasan dan koreksi, konsep naskah Proklamasi akhirnya disepakati.

Naskah Diketik Sayuti Melik

Setelah konsep naskah selesai dirumuskan, Sukarno, Hatta, dan Soebardjo keluar menuju serambi depan rumah Maeda. Mereka membacakan hasil rumusan kepada tokoh-tokoh yang telah menunggu.

Sukarno kemudian meminta persetujuan dari mereka yang hadir. Setelah mendapat persetujuan, konsep naskah tersebut diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang.

Sayuti Melik kemudian menuju sebuah ruangan kecil di bawah tangga rumah Maeda. Di tempat itulah proses pengetikan naskah Proklamasi dilakukan.

Museum kini menampilkan diorama Sayuti Melik yang didampingi BM Diah ketika mengetik ulang naskah tersebut.

Dalam proses pengetikan, terdapat sejumlah penyesuaian redaksional. Di antaranya perubahan kata "tempoh" menjadi "tempo", penyempurnaan penulisan tanggal, serta perubahan frasa "wakil-wakil Bangsa Indonesia" menjadi "atas nama Bangsa Indonesia".

Setelah selesai diketik, Sayuti Melik membawa naskah tersebut kembali kepada para tokoh yang menunggu.

Di area bawah tangga, tepat di atas sebuah piano yang hingga kini masih berada di museum, Sukarno dan Mohammad Hatta membubuhkan tanda tangan pada naskah tersebut.

Dari rumah Laksamana Maeda inilah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dirumuskan, diketik, dan ditandatangani sebelum akhirnya dibacakan pada pagi 17 Agustus 1945.

Menyusuri Sejarah dari Setiap Ruangan

Pembacaan Proklamasi sendiri berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada pagi 17 Agustus 1945. Namun, rangkaian perumusan naskah yang menjadi dasar pernyataan kemerdekaan tersebut berlangsung beberapa jam sebelumnya di rumah Laksamana Maeda.

Kini, Museum Perumusan Naskah Proklamasi menghadirkan kembali rangkaian peristiwa tersebut melalui koleksi, penataan ruangan, dan diorama.

Pengunjung dapat menelusuri ruang tamu tempat Maeda menerima para tokoh, ruang tengah tempat perumusan naskah, ruangan kecil di bawah tangga tempat Sayuti Melik mengetik, hingga piano yang menjadi bagian dari lokasi penandatanganan naskah.

Museum tersebut tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menghadirkan kembali perjalanan sebuah keputusan yang mengubah sejarah Indonesia. Setiap ruangan menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang bermuara pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news