Jumali Jum'at, 08 Mei 2026 22:17 WIB

Logo Hyundai/Ist-Car Logos
Harianjogja.com, JOGJA— Hyundai Motor Company baru saja mengumumkan capaian finansial yang luar biasa dengan membukukan pendapatan sebesar 45,94 triliun won atau setara Rp544,19 triliun pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini mencatatkan sejarah baru sebagai pendapatan kuartalan tertinggi yang pernah diraih perusahaan otomotif tersebut, tumbuh 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja keuangan yang sangat solid ini didorong oleh kuatnya permintaan pasar terhadap kendaraan elektrifikasi di tingkat global. Segmen kendaraan listrik berbasis baterai (EV) dan mobil hybrid (HEV) menjadi motor utama pertumbuhan dengan peningkatan penjualan mencapai 14,2 persen atau sebanyak 242.612 unit. Tingginya minat masyarakat dunia terhadap mobil ramah lingkungan ini memberikan sinyal positif bagi masa depan bisnis Hyundai.
Secara mendalam, laporan yang dirilis pada Kamis (8/5/2026) menunjukkan bahwa kendaraan jenis hybrid memberikan kontribusi paling signifikan. Terdapat 173.977 unit mobil hybrid yang terjual, sementara kendaraan listrik murni mencatatkan angka 58.788 unit. Capaian ini menjadikan kendaraan elektrifikasi menyumbang hampir seperempat dari total seluruh penjualan Hyundai di pasar dunia.
Namun, di balik rekor pendapatan tersebut, Hyundai harus menghadapi kenyataan pahit terkait perolehan laba mereka. Laba operasional perusahaan tercatat mengalami penurunan drastis sebesar 30,8 persen menjadi 2,51 triliun won atau sekitar Rp29,7 triliun. Merosotnya keuntungan ini merupakan dampak langsung dari kebijakan tarif yang diterapkan di Amerika Serikat sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Kondisi tersebut juga berimbas pada laba bersih perusahaan yang ikut terseret turun hingga 23,6 persen menjadi 2,58 triliun won. Meskipun omzet yang diraih sangat tinggi, margin laba operasional Hyundai akhirnya tertahan di angka 5,5 persen. Dinamika ini menggambarkan betapa besarnya pengaruh kebijakan perdagangan internasional terhadap kesehatan finansial perusahaan multinasional.
Dari sisi volume penjualan, Hyundai mengalami sedikit perlambatan dengan total pengiriman kendaraan secara wholesale mencapai 976.219 unit. Angka ini turun 2,5 persen dari tahun sebelumnya akibat ketidakpastian kondisi geopolitik dan melemahnya daya beli di beberapa kawasan. Meski demikian, Hyundai justru berhasil memperluas pangsa pasar globalnya dari 4,6 persen menjadi 4,9 persen di tengah persaingan yang kian ketat.
Di pasar Amerika Serikat, Hyundai justru menunjukkan performa yang cukup tangguh dengan pertumbuhan penjualan sebesar 0,3 persen. Pangsa pasar mereka di Negeri Paman Sam tersebut menguat menjadi 6 persen, sebuah pencapaian penting di tengah hambatan tarif perdagangan yang ada. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Korea Selatan yang mengalami penurunan penjualan sebesar 4,4 persen karena konsumen menanti peluncuran model baru.
Menghadapi sisa tahun 2026, Hyundai berencana mempercepat peluncuran sejumlah model kendaraan listrik dan hybrid terbaru untuk menjaga momentum pertumbuhan. Fokus perusahaan kini tertuju pada efisiensi operasional guna memitigasi dampak kerugian dari kebijakan luar negeri. Langkah strategis ini diharapkan mampu mengembalikan tren positif laba perusahaan sembari terus memperkuat dominasi di pasar kendaraan ramah lingkungan dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
5
















































