Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) menyatakan siap mendukung rencana pemerintah Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Namun, ekspansi energi surya dalam skala besar dinilai membutuhkan kesiapan sistem kelistrikan agar mampu mengelola pasokan listrik yang bergantung pada kondisi cuaca.
Director of the Indonesia/Asean Energy Programme GIZ Lisa Tinschert mengatakan Jerman menyambut baik rencana Indonesia memperbesar kapasitas PLTS. Menurutnya, energi surya merupakan pilihan yang tepat bagi Indonesia tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari perspektif ekonomi.
"Dari sisi kami, sudah sangat jelas bahwa PLTS merupakan pilihan yang paling cerdas, bukan hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga secara ekonomi,” ujarnya dalam Media Briefing Indonesia Sustainable Energy Week 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
PLTS 100 GW Butuh Sistem Listrik Fleksibel
Tinschert mengatakan pembangunan PLTS melalui lebih banyak lelang dan realisasi proyek berpotensi menekan biaya pembangkitan. Penurunan biaya tersebut diyakini semakin terlihat apabila pembangunan proyek PLTS dilakukan dalam skala yang lebih luas.
Dengan skala pengembangan yang semakin besar, energi surya berpotensi menjadi sumber listrik dengan biaya paling murah.
Namun, peningkatan kapasitas PLTS juga membawa tantangan pada sistem kelistrikan. Karakteristik pembangkit listrik tenaga surya yang sangat bergantung pada kondisi cuaca membuat jaringan listrik harus memiliki kemampuan yang lebih responsif dan fleksibel.
Menurut Tinschert, sistem kelistrikan yang sebelumnya tidak menghadapi kebutuhan pengelolaan pasokan energi surya dalam skala besar perlu beradaptasi dengan pasokan listrik yang dapat mengalami fluktuasi.
Atas dasar itu, GIZ saat ini bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memperkuat kerangka regulasi yang dapat mempercepat pengembangan PLTS.
GIZ juga bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk menyiapkan sistem kelistrikan menghadapi peningkatan pembangkit listrik berbasis energi surya.
GIZ Dorong Energi Surya Skala Kecil
Dukungan GIZ terhadap pengembangan energi surya tidak hanya diarahkan pada proyek PLTS berskala besar. GIZ juga mendorong pemanfaatan energi surya dalam skala lebih kecil yang dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Salah satu contohnya adalah solar icemaker, yakni fasilitas pembuat es bertenaga surya yang digunakan oleh nelayan di wilayah yang belum terhubung dengan jaringan listrik.
Fasilitas tersebut sepenuhnya menggunakan tenaga surya dan ditujukan untuk mendukung mata pencaharian nelayan. Menurut Tinschert, solusi berskala kecil dapat memberikan dampak yang lebih besar apabila direplikasi dalam jumlah ribuan hingga puluhan ribu unit.
GIZ juga tengah mengembangkan fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage berbasis energi surya.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi surya yang tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Agrivoltaik Jadi Alternatif Pemanfaatan Lahan
Persoalan ketersediaan lahan juga menjadi perhatian dalam pengembangan PLTS. Untuk mengatasinya, pengembangan agrivoltaik atau agri-PV dinilai memiliki peluang karena lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara bersamaan untuk produksi pangan dan listrik.
Dengan konsep tersebut, pengembangan pembangkit energi surya dapat diarahkan agar berjalan berdampingan dengan aktivitas pertanian.
Lisa juga mengatakan pengembangan PLTS dapat diarahkan ke sektor industri melalui pemasangan solar rooftop di atap bangunan.
Sementara itu, pengembangan baterai sebagai penyimpanan energi turut menjadi bagian penting dari ekosistem energi surya. Keberadaan penyimpanan energi diperlukan untuk mendukung pengelolaan pasokan listrik dari pembangkit yang produksinya dipengaruhi kondisi cuaca.
"GIZ siap mendukung pengembangan tersebut melalui koneksi dengan pengembang proyek dan investor, penyediaan keahlian, serta pelaksanaan studi pra-kelayakan," ujar Tinschert.
GIZ Siapkan Dukungan untuk Pengembang dan Investor
Menurut Tinschert, dukungan terhadap pengembangan PLTS dapat dilakukan melalui berbagai aspek. GIZ membuka koneksi dengan pengembang proyek dan investor, menyediakan keahlian, serta melakukan studi pra-kelayakan.
Dengan demikian, pengembangan energi surya di Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan pembangkit, tetapi juga ekosistem pendukung yang mencakup regulasi, jaringan listrik, teknologi penyimpanan, pembiayaan, hingga kesiapan proyek.
Pengembangan PLTS 100 GW juga membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kebutuhan tenaga terampil mencakup orang-orang yang merencanakan sistem dan proyek, insinyur, hingga tenaga yang menjalankan operasi dan pemeliharaan pembangkit.
Tinschert menyebut GIZ telah bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk memperkuat keterampilan tenaga kerja di sektor energi. Mitra tersebut termasuk PLN, BPSDM Kementerian ESDM, politeknik, dan sekolah vokasi.
Kerja sama pengembangan keterampilan tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi kebutuhan tenaga kerja seiring dengan meningkatnya pembangunan pembangkit energi surya.
Dengan dukungan tersebut, rencana PLTS 100 GW Indonesia tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan. Kesiapan regulasi, jaringan listrik, penyimpanan energi, pemanfaatan lahan, investasi, proyek, serta sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam pengembangan energi surya dalam skala besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis

4 hours ago
3

















































