
Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock
Harianjogja.com, JAKARTA— Otoritas Kolombia menetapkan status bencana nasional menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat negara tersebut pada Senin (10/8/2026). Hingga kini, bencana tersebut dilaporkan telah menyebabkan 111 orang meninggal dunia serta merusak sejumlah infrastruktur penting, termasuk enam bandara.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menginstruksikan pemerintah dan pimpinan militer memastikan sumber daya yang dibutuhkan segera didistribusikan ke wilayah terdampak. Pemerintah juga menyiapkan keputusan resmi terkait penetapan status bencana nasional.
Otoritas masih menunggu kedatangan tim penyelamat pertama di sejumlah wilayah yang mengalami dampak paling parah. Unit Nasional untuk Manajemen Risiko Bencana (UNGRD) telah mengerahkan empat tim pencarian dan penyelamatan kota dari Bogota, Envigado, Yopal, dan Medellin untuk membantu proses evakuasi.
Gempa tersebut awalnya dilaporkan berkekuatan magnitudo 6,8 oleh Pusat Seismologi Eropa-Mediterania (EMSC). Namun, hasil pemutakhiran para ahli seismologi Eropa kemudian menaikkan kekuatannya menjadi magnitudo 7,4. Besaran yang sama juga dilaporkan berdasarkan analisis para ahli Amerika Serikat.
Pusat gempa berada di sekitar Kota San Jose del Palmar, wilayah administratif Choco. Guncangan kuat tersebut berdampak pada berbagai fasilitas dan infrastruktur di wilayah barat Kolombia.
Enam Bandara Rusak dan Ditutup
Dampak gempa juga dirasakan sektor transportasi udara. Otoritas Penerbangan Sipil Kolombia atau Aerocivil menyatakan enam bandara mengalami kerusakan sehingga aktivitas penerbangan untuk sementara dihentikan.
Enam bandara tersebut berada di Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura. Penghentian operasional dilakukan demi keselamatan penumpang dan petugas hingga pemeriksaan terhadap kondisi infrastruktur selesai dilakukan.
Aerocivil menyatakan evaluasi diperlukan untuk memastikan kondisi landasan, bangunan terminal, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya sebelum penerbangan kembali diizinkan.
Penghentian sementara tersebut menjadi langkah antisipasi mengingat kerusakan akibat gempa tidak selalu dapat terlihat secara langsung. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk memastikan fasilitas bandara tetap aman digunakan.
Tim Penyelamat Dikerahkan
Penanganan korban menjadi prioritas setelah gempa mengguncang sejumlah wilayah di Kolombia. Empat tim pencarian dan penyelamatan dari Bogota, Envigado, Yopal, dan Medellin telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi.
Pemerintah juga mengarahkan sumber daya ke daerah yang terdampak paling parah. Kehadiran tim penyelamat diharapkan dapat mempercepat pencarian korban serta penanganan warga yang membutuhkan pertolongan.
Dengan jumlah korban meninggal dunia yang telah mencapai 111 orang, proses evakuasi dan pendataan dampak bencana masih menjadi perhatian utama pemerintah Kolombia.
Mitigasi Gempa Perlu Diperkuat
Gempa berkekuatan besar seperti yang terjadi di Kolombia kembali menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pemerintah perlu memastikan bangunan dan infrastruktur di wilayah rawan gempa memenuhi standar konstruksi yang mampu mengurangi risiko kerusakan.
Penataan tata ruang berdasarkan pemetaan wilayah rawan gempa juga menjadi bagian penting dalam mitigasi. Jalur evakuasi yang jelas di fasilitas publik dan kawasan permukiman diperlukan agar masyarakat dapat segera menuju tempat aman ketika terjadi guncangan.
Selain langkah struktural, mitigasi dapat diperkuat melalui edukasi kebencanaan, sistem peringatan dini, serta penyediaan perlengkapan darurat di tingkat rumah tangga.
Masyarakat juga perlu memahami tindakan dasar ketika gempa terjadi. Salah satunya melalui prinsip drop, cover, hold on, yakni merunduk, berlindung di bawah meja atau struktur kokoh, kemudian berpegangan hingga guncangan berhenti.
Warga juga disarankan menjauhi kaca, benda yang mudah jatuh, dan struktur bangunan yang berpotensi roboh. Setelah guncangan berhenti dan kondisi memungkinkan, evakuasi dilakukan menuju titik kumpul dengan tetap tenang.
Edukasi serta simulasi evakuasi secara rutin di sekolah, perkantoran, fasilitas publik, dan lingkungan permukiman diperlukan untuk membentuk budaya sadar bencana.
Dengan kesiapsiagaan yang baik, masyarakat diharapkan dapat merespons lebih cepat ketika gempa terjadi sehingga potensi korban jiwa dan kerugian material dapat ditekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
3

















































