Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Evi Mustikawati Arifin (dok. Ist)KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menargetkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di wilayah terdampak rampung hingga akhir Mei 2026. Program ini dilakukan sebagai respons terhadap munculnya kasus campak di sejumlah kabupaten dan kota.
Langkah percepatan vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular tersebut. Pemprov Sulsel menilai imunisasi menjadi langkah utama dalam mengendalikan penyebaran campak di masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin, mengatakan target waktu hingga akhir Mei ditetapkan dengan mempertimbangkan dinamika penyebaran penyakit menular. Menurutnya, pemberian rentang waktu diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan penambahan kasus baru di lapangan.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan imunisasi harus menyesuaikan perkembangan situasi epidemiologi. Hal ini dilakukan agar seluruh sasaran dapat dijangkau secara maksimal.
“Kami target sampai akhir Mei untuk melakukan vaksinasi terhadap kabupaten kota yang terdampak, Ini kita rencanakan sampai akhir Mei sudah semuanya tervaksinasi karena harus ada range waktu yang diberikan terhadap situasi yang berkembang, karena jangan sampai masih ada tambahan, kan namanya penyakit menular tidak ada hentinya. Jangan sampai masih ada, sehingga kita agak perpanjang sampai akhir Mei 2026. Kita target segitu. Ini untuk ORI,” ungkap Evi, Selasa (14/04/2026).
Evi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu salah memahami program ORI sebagai satu-satunya jadwal imunisasi campak. Ia menyebut imunisasi campak tetap dilakukan secara rutin sesuai program nasional yang telah berjalan selama ini.
ORI dilakukan sebagai langkah tambahan untuk merespons kejadian luar biasa atau peningkatan kasus. Program ini diharapkan mampu mempercepat perlindungan terhadap anak-anak yang berisiko terpapar campak.
“Tapi ini jangan disalahartikan bahwa imunisasi campak hanya di bulan Mei, tidak. Vaksinasi campak itu vaksinasi rutin. Cuma karena ada kejadian seperti ini, sehingga kita buat menjadi sebuah kegiatan outbreak response immunization dan itu kita targetkan sampai dengan akhir Mei 2026,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan ORI campak, Pemprov Sulsel menetapkan sasaran anak usia 9 bulan hingga 59 bulan di beberapa wilayah prioritas. Penentuan sasaran dilakukan berdasarkan wilayah yang terdampak kasus campak.
Setiap daerah memiliki jumlah sasaran yang berbeda sesuai kondisi di lapangan. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan vaksin dan tenaga kesehatan.
“Untuk sasaran usia 9 bulan sampai 59 bulan, Sinjai itu jumlah sasarannya 9.252. Untuk Makassar ini tinggi nih, 106.473, sementara Wajo itu 636, dan Luwu 447. Totalnya 116.808” tutur Evi.
Secara keseluruhan, jumlah sasaran imunisasi ORI campak di wilayah prioritas mencapai lebih dari seratus ribu anak. Angka tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan intervensi kesehatan di wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga menyiapkan strategi pelaksanaan untuk memastikan seluruh sasaran dapat terjangkau. Koordinasi lintas wilayah dilakukan untuk mendukung kelancaran program imunisasi.
Selain wilayah prioritas, sejumlah daerah lain juga melaksanakan imunisasi kejar atau catch up immunization untuk meningkatkan cakupan vaksinasi. Program ini dilakukan untuk menjangkau anak-anak yang belum menerima imunisasi sesuai jadwal.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pencegahan penyebaran campak secara lebih luas. Pemerintah daerah berharap langkah ini dapat meningkatkan kekebalan kelompok di masyarakat.
“Selebihnya itu imunisasi catch up di Maros, Jeneponto, Bulukumba,” pungkas Evi.


















































