Skuad EPA PSIM Jogja saat bertanding di Stadion Gemilang, Magelang, beberapa waktu lalu. Ist - PSIM Jogja
Harianjogja.com, JOGJA— Tim muda PSIM Jogja langsung menunjukkan daya saing pada musim debut di EPA Super League 2025/2026.
Kelompok usia U-16 menjadi tim paling menonjol setelah berhasil menembus papan atas klasemen Grup B dan melampaui target awal manajemen.
Kompetisi usia muda tersebut resmi ditutup akhir pekan lalu di Stadion Gemilang. Bagi skuad muda PSIM, ajang tersebut menjadi pengalaman pertama tampil di level EPA sekaligus mengukur kekuatan akademi yang mayoritas diisi pemain lokal Daerah Istimewa Yogyakarta.
Manajer EPA PSIM, Joshua Dio, mengaku cukup puas dengan perkembangan tim sepanjang musim, terutama performa skuad U-16.
“Secara keseluruhan untuk musim pertama teman-teman lumayan puas. Saya juga lumayan puas dengan perkembangannya, apalagi di skuad U-16,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Tim U-16 berhasil mengoleksi 53 poin dan menempati posisi tiga besar Grup B, meski klasemen akhir masih menunggu hasil pertandingan tim lain.
Capaian tersebut dinilai melampaui ekspektasi karena sebagian besar pemain yang memperkuat tim berasal dari DIY.
“Ternyata kita bisa bicara banyak dengan komposisi hampir 95 persen pemain lokal DIY. Kita bisa berbicara banyak, bahkan kita masih punya kans untuk finish di tiga besar grup,” katanya.
Sementara itu, performa kelompok usia lain seperti U-18 dan U-20 belum sepenuhnya stabil sepanjang musim.
Menurut Joshua, faktor cedera dan minimnya kedalaman skuad menjadi kendala utama saat menghadapi jadwal pertandingan yang padat.
“Mungkin di kelompok umur U-18 salah satu kelompok umur agak meleset. Tapi kalau kita bilang meleset juga terlalu tinggi untuk dinilai karena memang ini musim pertama mereka di EPA,” ucapnya.
Ia menjelaskan jadwal pertandingan dengan dua laga dalam satu akhir pekan cukup menguras kondisi fisik pemain muda.
Kondisi tersebut membuat performa tim kerap menurun pada pertandingan kedua.
“Tidak bisa pemain bertanding di dua game berturut-turut dengan level dan intensitas sama, pemain pasti akan sangat lelah. Apalagi U-16 dan U-18 main di pagi dan siang hari, itu lumayan menguras energi,” jelasnya.
Selain faktor stamina, PSIM juga mengakui masih kalah dalam kedalaman skuad dibanding sejumlah klub besar lain di EPA.
Joshua menilai klub seperti Bali United FC dan Persebaya Surabaya memiliki stok pemain lebih merata sehingga mampu menjaga konsistensi permainan sepanjang musim.
“Jumlah dan kualitas pemain kita mungkin belum sekaya Bali United atau Persebaya. Bali United bisa memainkan dua tim berbeda di dua hari beruntun dengan kualitas sama,” paparnya.
Karena itu, evaluasi utama yang disiapkan manajemen untuk musim depan adalah memperkuat kedalaman skuad di seluruh kelompok usia.
Menurut dia, perekrutan pemain baru nantinya tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga kualitas yang sesuai standar tim.
“Yang jelas bukan cuma kuantitas. Percuma kalau kuantitasnya lebih banyak tapi saat dimainkan kita tidak percaya diri atau tidak in. Pertama kita harus menetapkan standarnya dulu agar bisa konsisten,” ujarnya.
Dengan fondasi yang mulai terbentuk pada musim pertama EPA, manajemen optimistis PSIM mampu bersaing lebih jauh dengan akademi klub besar lainnya pada musim mendatang.
“Jika dikelola dengan lebih baik lagi musim depan, saya rasa PSIM bisa bersaing dengan akademi-akademi yang sudah lama di EPA. Kita tidak perlu minder. Untuk tahun pertama ini yang penting kita punya fondasi dulu,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

2 hours ago
3
















































