TN Kutai Prioritaskan Perlindungan 6 Flora Langka Khas Kalimantan

4 hours ago 3

TN Kutai Prioritaskan Perlindungan 6 Flora Langka Khas Kalimantan

Taman Nasional Kutai menjaga enam flora penting Kalimantan, mulai ulin, pasak bumi, meranti hingga anggrek hitam demi kelestarian ekosistem. /Antara.

Harianjogja.com, KUTAI TIMUR—Balai Taman Nasional Kutai (TNK) terus memperkuat upaya pelestarian flora langka Kalimantan dengan memberikan perhatian khusus terhadap enam jenis tumbuhan penting yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, kesehatan, dan budaya. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan hujan tropis yang menjadi salah satu kekayaan hayati terbesar di Indonesia.

Di kawasan Taman Nasional Kutai yang memiliki luas mencapai 193.753,42 hektare, sejumlah flora khas Kalimantan mendapat prioritas perlindungan karena perannya yang vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari eksploitasi hingga kerusakan habitat.

Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Syaiful Bahri, mengatakan perlindungan habitat alami, pencegahan penebangan liar, serta rehabilitasi kawasan hutan menjadi fokus utama dalam menjaga keberlangsungan spesies-spesies tersebut.

"Perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, serta program rehabilitasi hutan menjadi prioritas utama kami agar keberadaan tanaman khas ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan," ujar Syaiful Bahri di Kutai Timur, Sabtu.

Enam flora penting yang menjadi prioritas konservasi di Taman Nasional Kutai meliputi pasak bumi (Eurycoma longifolia), pohon ulin (Eusideroxylon zwageri), pohon bendang (Borassodendron borneense), ekosistem mangrove, kelompok pohon meranti (Shorea spp), serta anggrek hitam (Coelogyne pandurata).

Pasak bumi dikenal luas sebagai tanaman herbal yang memiliki nilai kesehatan tinggi. Sementara itu, pohon ulin atau kayu besi merupakan salah satu flora identitas Kalimantan yang terkenal karena kekuatan dan ketahanannya. Adapun pohon bendang merupakan palma endemik Borneo yang memiliki karakteristik daun berbentuk kipas besar.

Selain ketiga flora tersebut, TNK juga menjaga keberadaan hutan mangrove di kawasan pesisir yang berfungsi menahan abrasi pantai. Perlindungan juga diberikan kepada kelompok pohon meranti yang mendominasi tajuk hutan dataran rendah serta anggrek hitam yang menjadi ikon keanekaragaman hayati Kalimantan.

Taman Nasional Kutai saat ini tercatat sebagai habitat bagi 1.302 jenis flora yang berasal dari 118 famili. Kekayaan hayati tersebut mencakup delapan genus Dipterocarp dan sedikitnya 15 spesies tumbuhan endemik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu.

Perhatian khusus diberikan kepada pohon ulin yang populasinya terus mengalami tekanan akibat eksploitasi besar-besaran pada masa lalu. Kayu berkualitas tinggi tersebut selama bertahun-tahun dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi berat sehingga jumlahnya di alam semakin berkurang.

"Langkah serupa diterapkan untuk memproteksi kelompok pohon meranti, yang kayunya sangat diminati pasar, namun kini terancam alih fungsi lahan meski peranannya krusial sebagai tempat berlindung satwa endemik seperti orangutan," jelas Syaiful.

Untuk menjaga kelestarian pasak bumi, pengelola kawasan juga mendorong pengembangan budidaya tanaman tersebut. Upaya ini dilakukan guna mengurangi praktik pengambilan akar secara berlebihan yang berpotensi merusak populasi di habitat alami.

Pengawasan terhadap anggrek hitam juga terus diperketat melalui patroli rutin di dalam kawasan hutan. Flora khas Kalimantan ini dikenal sebagai tanaman epifit dengan bunga berwarna gelap yang tumbuh menempel pada pohon besar dan sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan.

"Patroli pengawasan turut kami kerahkan untuk memantau kelestarian anggrek hitam, tanaman epifit ikonik berbibir bunga gelap yang hidup menempel pada pohon besar dan sangat rentan mati jika terjadi perubahan kelembapan mikroklimat hutan," ungkap Syaiful.

Sementara itu, pada kawasan hutan bercurah hujan tinggi, petugas terus menjaga keberadaan pohon bendang yang berperan penting dalam rantai makanan alami. Buah dari palma endemik Borneo tersebut menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis satwa liar yang hidup di dalam hutan.

Perlindungan juga dilakukan terhadap ekosistem mangrove yang berada di pesisir Selat Makassar. Vegetasi mangrove menjadi benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi sekaligus berfungsi sebagai area pemijahan berbagai biota laut, sehingga pengelola kawasan terus mengantisipasi ancaman pencemaran yang dapat mengganggu kelangsungan ekosistem pesisir tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news