Harianjogja.com, JOGJA—Raksasa otomotif global Stellantis mengambil langkah strategis seusai membukukan kerugian bersih sekitar Rp3.800 triliun sepanjang 2025. Induk merek Jeep dan Dodge itu resmi mengoreksi arah bisnis dengan membatalkan fokus elektrifikasi penuh (EV-only) dan kembali menghidupkan mesin konvensional V8 demi memulihkan profitabilitas.
CEO Stellantis, Antonio Filosa, mengakui percepatan transisi elektrifikasi yang terlalu agresif menjadi beban finansial. “Hasil setahun penuh 2025 kami mencerminkan biaya dari perkiraan yang berlebihan terhadap laju transisi energi,” ujarnya dikutip dari Drive.
Kembalinya V8 dan “Kebebasan Memilih”
Sebagai respons atas tekanan kinerja, Stellantis mengembalikan “kebebasan memilih” kepada konsumen, khususnya di pasar Amerika Utara yang menjadi tulang punggung keuntungan. Sejumlah model kunci dipastikan kembali mengusung mesin konvensional maupun opsi hybrid:
Jeep Cherokee: Generasi terbaru bakal hadir dengan opsi mesin hybrid penuh.
Dodge Charger: Versi bensin “Six-Pack” diproduksi massal untuk memenuhi permintaan penggemar performa.
RAM 1500: Mesin V8 legendaris kembali dipasang pada model terbaru.
Langkah ini dinilai sebagai upaya realistis menjaga margin keuntungan di tengah fluktuasi permintaan kendaraan listrik dan tekanan biaya produksi.
Kolaborasi dengan Teknologi China
Meski mengerem laju EV di Amerika, Stellantis tetap memperkuat strategi elektrifikasi di Eropa melalui kolaborasi dengan perusahaan teknologi China, Zero. Kerja sama ini difokuskan pada efisiensi biaya riset dan pengembangan baterai serta motor listrik.
Teknologi dari Zero akan diaplikasikan pada sejumlah merek di bawah payung Stellantis seperti Fiat, Opel, dan Peugeot. Bahkan, Stellantis menargetkan produksi model Zero B10 di pabrik Zaragoza, Spanyol, mulai kuartal IV 2026.
Optimisme 2026 di Tengah Tantangan
Seusai paruh kedua 2025 menunjukkan perbaikan performa, Stellantis optimistis kembali mencetak laba pada 2026. Penjualan di Amerika Utara dilaporkan melonjak 39 persen menjelang akhir 2025, menjadi sinyal positif pemulihan.
Namun, tekanan di pasar Eropa masih membayangi, terutama akibat kompetisi harga yang ketat. Perusahaan juga telah menganggarkan biaya tarif impor hingga 16 miliar euro untuk mengantisipasi dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan otomotif global pada 2026.
Langkah korektif ini menandai perubahan strategi besar Stellantis: menyeimbangkan elektrifikasi dengan mesin konvensional demi menjaga arus kas dan loyalitas pasar tradisional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

9 hours ago
4

















































