Jumali Kamis, 18 Juni 2026 22:37 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia 2026 menghadirkan lebih dari sekadar persaingan memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola. Turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu juga menjadi panggung yang memperlihatkan bagaimana keberagaman agama dan budaya dapat berjalan berdampingan dalam satu tim.
Di saat banyak negara menghadapi tantangan polarisasi sosial dan perbedaan identitas, lapangan hijau justru menunjukkan gambaran berbeda. Para pemain dengan latar belakang keyakinan yang beragam tampil bersama, berjuang untuk satu tujuan, dan saling menghormati meski memiliki cara beribadah yang berbeda.
Fenomena tersebut terlihat jelas pada sejumlah tim peserta Piala Dunia 2026. Negara-negara Eropa Barat yang dahulu identik dengan dominasi pemain kulit putih dan beragama Kristen kini dihuni pemain dari berbagai etnis dan keyakinan.
Timnas Inggris, misalnya, kini memiliki pemain Muslim di skuad senior. Sementara Prancis diperkuat pemain dari latar belakang Katolik, Protestan, hingga Muslim. Spanyol juga memiliki bintang muda berbakat, Lamine Yamal, yang terbuka menjalankan keyakinannya sebagai seorang Muslim.
Presiden organisasi Interfaith America, Eboo Patel, menilai sepak bola memberikan contoh nyata bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan.
"Para pemain mencetak gol, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, lalu saling berpelukan. Itulah cara membangun tim dan komunitas yang hebat," ujarnya dikutip dari AP News, Kamis (18/6/2026).
Salah satu sosok paling dikenal dalam fenomena ini adalah Mohamed Salah. Penyerang Mesir tersebut kerap melakukan sujud syukur setiap kali mencetak gol. Pengaruhnya bahkan disebut melampaui sepak bola setelah sejumlah penelitian menemukan menurunnya sentimen antimuslim di kalangan pendukung Liverpool sejak kehadirannya di klub tersebut.
Dari Kroasia, nama Luka Modric menjadi contoh pemain yang terbuka menunjukkan keyakinan Katoliknya. Gelandang veteran itu diketahui kerap mengenakan pelindung tulang kering bergambar Yesus Kristus dan Bunda Maria serta mengikuti misa bersama rekan setim menjelang turnamen.
Timnas Inggris juga mencatat sejarah melalui kehadiran Djed Spence. Bek sayap tersebut disebut sebagai pemain Muslim pertama yang tampil untuk tim nasional senior Inggris.
"Senang bisa mencetak sejarah dan semoga dapat menginspirasi anak-anak muda di seluruh dunia," katanya.
Sementara itu, perhatian publik juga tertuju kepada Lamine Yamal. Bintang muda Spanyol berdarah Maroko itu menjadi salah satu simbol generasi baru sepak bola Eropa yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.
Keberagaman juga terlihat pada skuad Irak. Tim asal Timur Tengah tersebut dihuni pemain dari berbagai kelompok etnis dan agama, termasuk Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kurdi, hingga umat Kristen. Salah satu contohnya adalah Aimar Sher yang secara terbuka menunjukkan identitas Kristennya.
Di kubu tuan rumah, kapten Amerika Serikat Christian Pulisic juga dikenal terbuka mengenai keyakinannya. Ia kerap mengenakan kalung salib dan beberapa kali terlibat dalam kegiatan pembacaan Alkitab bersama rekan-rekannya.
Tak hanya para pemain, keberagaman juga tercermin dalam kultur ruang ganti tim-tim modern. Perbedaan agama tidak lagi dipandang sebagai penghalang untuk bekerja sama. Sebaliknya, banyak pelatih dan federasi melihat keragaman sebagai modal penting untuk membangun solidaritas dan rasa saling menghormati.
Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola masih memiliki kemampuan unik untuk menyatukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Di tengah persaingan sengit dan tekanan tinggi turnamen, para pemain menunjukkan bahwa identitas agama dapat berjalan beriringan dengan semangat kebersamaan.
Pesan yang muncul dari lapangan hijau pun sederhana namun kuat: keberagaman tidak harus menjadi sumber perpecahan. Dalam banyak kasus, justru perbedaan itulah yang membuat sebuah tim menjadi lebih kuat.
Ketika pemain Muslim melakukan sujud syukur, pemain Kristen membuat tanda salib, lalu keduanya merayakan gol bersama, Piala Dunia 2026 menghadirkan gambaran nyata tentang toleransi yang hidup dalam tindakan, bukan sekadar slogan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































