Harianjogja.com, JAKARTA—Kinerja ekspor Indonesia berpeluang membaik pada Juli 2026 setelah ketidakpastian dan volatilitas pasar global mulai lebih terkendali. Namun, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan tingginya biaya produksi masih menjadi ancaman terhadap keberlanjutan pemulihan ekspor.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya optimistis neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Juli 2026. Optimisme itu muncul setelah defisit neraca perdagangan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut mulai menyusut, dari US$1,61 miliar pada Mei 2026 menjadi US$0,45 miliar pada Juni 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menilai optimisme Kemendag memiliki dasar yang cukup kuat. Menurutnya, kondisi pasar global dalam satu bulan terakhir relatif lebih terkendali sehingga memberikan ruang bagi produsen dan pembeli untuk kembali meningkatkan aktivitas secara bertahap.
“Dua faktor yang menciptakan tekanan besar terhadap kinerja ekspor nasional adalah cost-push inflation di sisi produksi dan kontraksi demand pasar ekspor karena imbas dari shock krisis energi global. Kedua faktor ini masih terus berlangsung,” kata Shinta kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (9/8/2026).
Ekspor Juli Berpeluang Lebih Tinggi
Shinta mengatakan meredanya ketidakpastian dan volatilitas pasar global telah meningkatkan kepercayaan produsen di dalam negeri maupun pembeli di luar negeri. Kondisi tersebut diharapkan mendorong produktivitas secara bertahap dan memperbaiki kinerja ekspor nasional.
Meski demikian, perbaikan ekspor belum otomatis memastikan neraca perdagangan kembali surplus pada Juli 2026. Beban impor minyak dan gas (migas) masih tinggi, sedangkan kondisi global belum sepenuhnya kondusif.
Tekanan cost-push inflation masih berlangsung dan permintaan pasar ekspor juga masih menyesuaikan diri dengan dampak krisis global.
“Kami cukup confidence bahwa kinerja ekspor di Juli setidaknya bisa lebih tinggi dibandingkan Juni 2026 atau empat bulan sebelumnya yang diwarnai shock dan volatilitas akibat krisis geopolitik dan krisis energi,” ujarnya.
Manufaktur Jadi Salah Satu Penopang
Dalam jangka pendek, Shinta memperkirakan sektor manufaktur menjadi salah satu penopang ekspor Indonesia. Industri pengolahan nikel dan industri elektronik dinilai memiliki peluang untuk mendukung kinerja tersebut.
Kedua sektor itu masih memperoleh dorongan dari pertumbuhan industri digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang di berbagai sektor ekonomi.
Selain manufaktur, ekspor crude palm oil (CPO), biofuel, dan batu bara juga berpotensi meningkat. Prospek tersebut didorong kebutuhan sejumlah negara untuk mengatasi tekanan krisis energi sekaligus melakukan substitusi minyak dan gas.
Peluang juga terbuka bagi produk fast-moving consumer goods (FMCG). Tekanan inflasi yang mulai melandai di sejumlah negara tujuan ekspor berpotensi meningkatkan daya beli terhadap produk FMCG asal Indonesia.
“Tidak tertutup kemungkinan perbaikan kinerja juga jg terjadi di sektor-sektor lain seperti ekspor FMCG karena tekanan inflasi di berbagai pasar tujuan ekspor melandai sehingga daya beli pasar ekspor terhadap ekspor produk-produk FMCG asal Indonesia menjadi lebih besar dan bisa turut mendongkrak kinerja ekspor nasional,” imbuhnya.
Biaya Produksi Masih Membayangi
Di tengah prospek perbaikan tersebut, Apindo menilai pemulihan ekspor masih rapuh. Pelaku usaha belum dapat sepenuhnya meningkatkan kapasitas produksi karena tekanan biaya masih tinggi.
Shinta mengingatkan peluang perbaikan ekspor sewaktu-waktu dapat berbalik arah. Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha dinilai tidak boleh terlena atau terlalu percaya diri bahwa kinerja ekspor akan terus membaik.
Cost-push inflation masih terjadi akibat kenaikan biaya produksi dan bahan baku impor. Situasi tersebut membatasi ruang pelaku usaha dan eksportir untuk melakukan ekspansi karena biaya yang harus ditanggung semakin tinggi.
“Cost push inflation ini juga menciptakan keterbatasan di sisi pelaku usaha dan eksportir terkait sejauh mana kami bisa melakukan ekspansi produksi karena beban ekspansi yang semakin tinggi atau tidak affordable,” jelasnya.
Pada saat yang sama, pemulihan permintaan global masih berjalan lambat. Pasar ekspor masih menghadapi ketidakpastian ekonomi yang berpotensi memengaruhi inflasi, lead time, biaya perdagangan, hingga daya beli.
Apindo Minta Pemerintah Tekan Beban Usaha
Melihat kondisi tersebut, Apindo meminta pemerintah memperkuat dukungan kepada pelaku usaha agar momentum ekspor dapat dipertahankan. Salah satu langkah yang dinilai penting ialah mengendalikan cost-push inflation.
Upaya itu dapat dilakukan melalui penjagaan stabilitas nilai tukar serta peningkatan efisiensi biaya energi, logistik, kepatuhan regulasi, dan suku bunga. Menurut Shinta, langkah tersebut dibutuhkan untuk menahan tekanan inflasi dari sisi produsen.
Intervensi pemerintah juga dinilai perlu dilakukan secara konsisten dan terkoordinasi. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan serta meningkatkan kapasitas produksi.
Selain menekan biaya produksi, Apindo mendorong pemerintah memperluas pasar ekspor dengan memperkuat sosialisasi dan fasilitasi perdagangan ke negara-negara mitra nontradisional.
Shinta menilai India, China, dan Asean memiliki permintaan yang relatif lebih tahan dibandingkan pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Jepang.
“Potensi pasar-pasar nontradisional ini, khususnya negara-negara rekan FTA/CEPA Indonesia, harus terus dipromosikan dan dimanfaatkan untuk menstabilkan dan mengoptimalkan kinerja ekspor nasional,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

4 hours ago
1

















































