
Kontingen Kabupaten Kulonprogo tampil di hari kedua Festival Kethoprak DIY 2026 di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Sabtu (8/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja. \r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Kontingen Kabupaten Sleman menjadi Penyaji Terbaik I dalam Festival Kethoprak DIY 2026 dengan nilai 2.397. Festival yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, pada 7-8 Agustus 2026 itu mempertemukan lima kontingen dari kabupaten/kota se-DIY.
Pengumuman pemenang dilakukan pada hari kedua festival, Sabtu (8/8/2026), setelah seluruh kontingen menyelesaikan penampilannya. Kabupaten Gunungkidul menempati posisi kedua dengan nilai 2.362, disusul Kabupaten Bantul dengan nilai 2.245.
Sementara itu, Kabupaten Kulonprogo berada di posisi keempat dengan nilai 2.226 dan kontingen Kota Jogja menjadi Penyaji Terbaik V dengan nilai 2.109.
Sleman Unggul dalam Festival Kethoprak DIY 2026
Festival Kethoprak DIY 2026 berlangsung selama dua hari dengan pembagian penampilan menjadi tiga kontingen pada hari pertama dan dua kontingen pada hari kedua.
Pada Jumat (7/8/2026), tiga kontingen tampil di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman. Ketiganya yakni Kabupaten Sleman dengan lakon Tatu, Kota Jogja dengan Prang Trah, serta Kabupaten Bantul dengan Gunung Gamping.
Hari berikutnya, Sabtu (8/8/2026), giliran Kabupaten Kulonprogo menampilkan Dhawuh dan Kabupaten Gunungkidul dengan Hangreksa. Hari kedua sekaligus menjadi momentum pengumuman hasil festival.
Berikut hasil lengkap Penyaji Terbaik Festival Kethoprak DIY 2026:
- Penyaji Terbaik I — Kontingen Kabupaten Sleman, nilai 2.397
- Penyaji Terbaik II — Kontingen Kabupaten Gunungkidul, nilai 2.362
- Penyaji Terbaik III — Kontingen Kabupaten Bantul, nilai 2.245
- Penyaji Terbaik IV — Kontingen Kabupaten Kulonprogo, nilai 2.226
- Penyaji Terbaik V — Kontingen Kota Jogja, nilai 2.109
Salah satu juri Festival Kethoprak DIY 2026, Okie Surya Ikawati, menjelaskan bahwa kelima kontingen diberikan keleluasaan untuk mengembangkan tema 'Episode Pasca Perjanjian Giyanti Sebelum Geger Sepehi' berdasarkan ide dan kreativitas masing-masing.
Meski demikian, kebebasan dalam mengembangkan cerita tetap harus dibarengi kajian sejarah agar pertunjukan tidak keluar dari konteks periode yang telah ditentukan.
"Jadi teman-teman dituntut untuk melakukan kajian sebenarnya. Sejarahnya jangan sampai lepas," ujarnya ditemui di sela-sela acara, Sabtu malam (8/8/2026).
Menurut Okie, kondisi sosial yang muncul setelah Perjanjian Giyanti dapat menjadi salah satu materi yang dikembangkan menjadi cerita. Ia menyebut terdapat peristiwa sosial yang menyertai periode tersebut, termasuk kebingungan masyarakat dalam menentukan wilayah yang akan diikuti serta kondisi perekonomian masyarakat yang kurang baik pada masa itu.
Karena itu, sejak tahap awal penyusunan materi, para kontingen diarahkan melakukan riset. Menurut Okie, pengembangan cerita maupun tafsir cerita tidak akan terwujud apabila pembuat pertunjukan tidak memahami kondisi sebenarnya yang terjadi pada masa tersebut.
Riset tidak hanya bersumber dari buku sejarah. Cerita tutur maupun kunjungan ke lokasi yang menjadi jejak sejarah masa itu juga dapat digunakan sebagai bahan untuk menyusun cerita.
Data dari berbagai sumber tersebut kemudian dikolaborasikan atau dibandingkan dengan tulisan sejarah agar cerita yang dikembangkan tetap berada dalam koridor tema festival.
Lima Kontingen Punya Cerita Berbeda
Okie menjelaskan masing-masing kontingen hanya memperoleh tema besar beserta batasan periode sejarah yang harus diangkat. Dengan batasan tersebut, setiap kontingen tetap memiliki ruang untuk menghadirkan cerita yang berbeda.
"Kalau pure mengangkat sejarah, nanti jatuhnya hanya paparan. Sementara kalau penyajian begini kan butuh kita mengelola konflik, dramatik. Jadi seperti-seperti itu bisa, diambil sebagai cerita juga, namun tetap dalam koridor pasca Perjanjian Giyanti," jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat sejarah tidak hanya disampaikan sebagai paparan, tetapi dapat dikembangkan menjadi pertunjukan yang memiliki konflik dan dramatik.
Di sisi lain, Okie menilai keberlanjutan kethoprak juga berkaitan dengan minat generasi muda. Kethoprak merupakan salah satu cabang kesenian rakyat yang dapat ditinggalkan apabila tidak terus-menerus diangkat.
Ia menyebut salah satu tantangan yang dapat membuat generasi muda menjauh dari kethoprak adalah persoalan bahasa karena sebagian anak muda kurang familiar dengan bahasa Jawa atau kendala lainnya.
Festival Jadi Ruang Memperkuat Kethoprak
Okie menilai penyelenggaraan Festival Kethoprak DIY di tingkat provinsi dapat menjadi salah satu cara meningkatkan prestise seni ketoprak. Festival tersebut sekaligus memberikan ruang bagi kethoprak untuk berkembang melalui sebuah wadah yang bergengsi.
"Dengan begitu anak mudanya tentu akan tertarik. Harapan saya, dengan adanya ini kemudian anak muda tetap melirik kethoprak. Kemudian kalau sudah melirik, sayang dan cinta. Jadi ketoprak tidak punah," harapnya.
Upaya mempertemukan kesenian tradisional dengan generasi muda juga mendapat respons dari penonton. Salah satu penonton, Sofia, 42, warga Kota Jogja, mengaku memang menyukai kethoprak dan teater.
Ia mengatakan ketertarikannya antara lain muncul dari peran-peran yang dibawakan para pemain dalam pertunjukan.
Sofia, warga Jakarta yang sudah enam tahun tinggal di Jogja, juga menyampaikan bahwa suami dan anaknya menyukai kegiatan berkesenian. Keluarganya turut memiliki ketertarikan terhadap kethoprak dan teater.
"Keluarga suami dan anak saya orang seni juga, suka kethoprak dan teater. [nonton] lebih ke mendukung kesenian di Jogja seperti kethoprak," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
1

















































