Klimaks

5 hours ago 1

promo hayati padang agustus

Emosi seperti juga masturbasi; ketika dilepas ia akan berlari mengejar klimaks, lalu setelah reda, ia menyisa sesal. Seperti itulah yang Bina rasakan sehabis memukuli anaknya yang belum genap berusia lima tahun.

Bina kembali memukuli anaknya sebab anak itu lagi-lagi membuat rumah berantakan. Mainan yang tiada bedanya dengan sampah, berserak di lantai, membuat ruang tamu terlihat seperti kota selepas banjir surut. Padahal Bina telah berkali-kali membersihkannya. Pagi sebelum suaminya berangkat kerja, ia telah menyapu dan mengepel seluruh lantai rumah. Setelah itu ia lanjut mencuci dan masak. Setelah itu ia menyuapi anaknya. Setelah itu ia menyapu dan mengepel lagi karena anaknya makan dengan mengajak serta ruang tamu ikut makan bersamanya. Bina masih mampu menahan diri ketika itu. Namun setelah dia mengingatkan anaknya agar tidak lagi membuat ruang tamu berantakan dan anaknya hanya mendengar sambil lalu—anak itu malah mengambil keranjang mainan yang berisi mainan-mainan rusak, mainan yang seharusnya sudah dibuang ke tong sampah sejak dulu tetapi terus saja disimpannya, dan mainan itu lantas ia tumpahkan ke lantai—Bina tidak mampu lagi menahan dirinya. Ia mencubit anak itu sekeras-kerasnya. Ketika si anak menjerit, ia mengambil sapu. Baru setelah sapu patah jadi dua, kesadarannya kembali.

Bina memeluk anaknya dengan kata maaf. Anak itu tidak bergerak. Daripada senang dipeluk ibunya, ia lebih terlihat takut. Wajahnya tampak ingin menangis. Namun anak itu tidak menangis. Memanglah anak itu tidak menangis. Ia bisa tersenyum dan bermain lagi, lupa pada apa yang baru terjadi. Bina tidak. Ia tidak pernah bisa melupakannya. Setiap selesai menumpahkan emosinya, rasa bersalah menerkamnya. Ia tahu ada yang salah dengan dirinya, tetapi ia tidak tahu itu apa. Bersama datangnya rasa bersalah, tubuhnya menjadi gatal. Teramat gatal. Sesuatu muncul di permukaan kulitnya. Bintik-bintik kemarahan yang meminta digaruk. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai kulitnya terluka, sampai kulitnya berubah merah dan berdarah, sampai rasa perih membuatnya lupa pada rasa gatal, barulah dia berhenti.

Telah berbagai salep gatal dicobanya. Telah berbagai dokter spesialis kulit dikunjunginya, namun tidak ada perubahan. Bintik-bintik gatal terus saja bermunculan begitu badai emosi reda dan rasa bersalah mencengkeramnya. Bintik-bintik gatal itu juga muncul setiap dia dilanda gelisah, dan setiap bintik gatal itu muncul, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya.

***

Bina tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Akan tetapi ia tahu bahwa ini bukan semata perkara kulit. Ia mulai berpikir bahwa salep dan dokter tidak akan menyelesaikan semuanya. Terpikir juga olehnya untuk pergi ke ahli jiwa, tetapi pikiran itu segera ditepisnya. Terlalu memalukan. Bina tidak ingin orang-orang berpikir bahwa dirinya sudah kehilangan kewarasan. Bersebab itu, ia selalu menutup rapat-rapat masalahnya dari orang-orang, termasuk juga apa yang ia lakukan pada anaknya.

Namun, tentu saja, itu tidak bisa disembunyikan.

“Kamu pukul Aldo lagi?”

Suaminya berdiri di pintu dapur.

Bina tidak menjawab. Tidak juga ia menoleh. Tangannya masih memegang piring yang sedang dicucinya. Ia menunduk dan memandang air yang mengalir dari keran.

“Aldo tidak mengadu,” kata lelaki itu.

Tangan Bina berhenti. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.

“Kamu tidak bisa seperti itu. Sampai kapan kamu melampiaskannya ke Aldo.”

Bina tetap menunduk. Matanya masih memandang air yang membasuh piring di tangannya.

“Dia masih kecil.” Suaminya mengambil jeda. “Kalau terus begitu, nanti dia makin takut sama kamu.”

Suaminya mengambil gelas di atas meja, mengisinya dengan air, lalu meminumnya.

“Aku cuma tidak mau Aldo kenapa-kenapa.”

Setelah mengatakannya lelaki itu pergi. Bina masih berdiri di depan bak cuci. Air terus mengalir. Ia baru mengangkat kepala ketika mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suaminya terdengar sedang bermain bersama putranya. Rasa gatal datang lagi. Mula-mula di leher. Kemudian menjalar ke lengan dan dadanya. Bina menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai tidak tahan lagi. Ia masuk ke kamar mandi. Pintu ditutup. Dikunci. Keran dibukanya lebar-lebar. Suara air mengalir memenuhi kamar mandi. Bina berdiri di depan cermin. Napasnya pendek. Tangannya gemetar. Sesuatu mendesak keluar dari tubuhnya. Bina membuka celananya. Setelah ledakan itu kepalanya terasa kosong. Ia duduk di lantai kamar mandi, menatap ubin di antara kedua kakinya. Untuk beberapa saat ia merasa pikirannya ringan. Namun itu tidak lama. Mendadak ia merasa matanya panas. Bina menangis dan sekuat mungkin menahan agar suara tangisnya tidak keluar. Rasa gatal kembali menyerang seluruh tubuhnya. Kali ini lebih ganas. Bintik-bintik merah muncul di permukaan kulitnya, dan ia menggaruknya. Bina terus menggaruknya sampai rasa perih di kulit mengalahkan rasa perih di hatinya.

***

“Aku tidak pulang malam ini. Kamu tidak usah menunggu,” kata suaminya.

Bina tidak membalas. Ia hanya mengangguk. Ia memang tidak pernah banyak bertanya kepada suaminya. Sejak naik jabatan, lelaki itu sering pulang malam. Kadang tidak pulang sama sekali. Lembur alasannya. Bina percaya saja. Ia setia menunggu di rumah. Tidak pernah ia meminta apa-apa dari suaminya. Termasuk juga urusan ranjang. Sejak hubungan mereka tidak lagi hangat, sejak itu pula suaminya selalu tampak lelah sepulang kerja. Sejak kulit-kulit Bina dipenuhi luka yang tak kunjung sembuh, sejak itu pula suaminya enggan menyentuhnya.

Sesekali mereka masih berhubungan intim. Akan tetapi apa yang mereka lakukan sekadar menuntaskan kewajiban. Biasanya tidak lama. Setelahnya suaminya terlelap, Bina masih terjaga menatap langit-langit kamarnya. Dulu hubungan mereka tidak begitu. Meskipun jarang mendapatkan mencapai klimaks, setidaknya Bina merasa suaminya lebih berusaha. Sekarang suaminya selalu tampak buru-buru. Terlihat betul ia ingin cepat-cepat menyudahi. Gairah telah padam dari matanya. Bina bisa merasakan lewat tatapan mata suaminya. Tatapannya membuat Bina merasa jijik pada dirinya sendiri. Apalagi saat mata suaminya tertuju pada luka-luka di kulitnya.

***

Sebuah pesan masuk ke ponsel Bina. Dari suaminya. Lelaki itu mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang malam ini. Ada tugas mendadak. Bina tidak bertanya. Ia hanya berpesan agar suaminya tidak lupa istirahat dan cukup makan.

Malam itu perasaan tidak nyaman kembali mendatanginya. Pikiran Bina terganggu. Ada sesuatu yang seperti hendak meledak dari dalam dirinya. Ketika melihat Aldo sedang memainkan mobil-mobilan di sofa, timbul dorongan menjambak rambut putranya. Dorongan itu coba dialihkannya dengan menonton televisi. Namun dorongan itu tidak pergi juga, malah semakin kuat mencengkeramnya. Tubuhnya kembali gatal. Bina menggaruk. Mulai dari lehernya, turun ke dada, hingga lanjut seluruh tubuh. Bukannya hilang, gatal itu semakin garang menggigit seluruh kulitnya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari seorang kawan. Kawan itu mengatakan melihat suami Bina jalan dengan seorang perempuan. Bina tidak percaya. Lalu kawannya mengirimkan pesan susulan. Dalam pesan itu terlampir sebuah foto seorang lelaki sedang merangkul pinggang seorang perempuan. Bina memerhatikan detail foto itu. Postur lelaki itu memang mirip suaminya. Potongan rambutnya pun dari belakang terlihat seperti suaminya. Dadanya berkecamuk dan tubuhnya semakin gatal.

Setelah menidurkan putranya, ia tidak tidur dan duduk menunggu suaminya di ruang tengah. Bina dibekap gelisah. Ia memperbesar foto itu. Mengecilkannya. Memperbesarnya lagi. Meskipun wajah lelaki itu tidak terlihat, posturnya benar-benar mirip suaminya. Kulit di sekujur tubuhnya kembali gatal. Kali ini lebih hebat. Ia menggaruknya sampai kuku-kukunya basah oleh darah. Ia pernah mewanti-wanti suaminya. Bina berkata dirinya bisa memaafkan apa pun kecuali satu: perselingkuhan.

Bina memang tidak pernah bilang akan melakukan apa, tetapi ia pernah membayangkan beberapa. Ia membayangkan pisau. Ia membayangkan darah. Ia membayangkan pisau menancap di perut suaminya dan darah mengucur deras. Bina menggaruk lebih keras. Kulitnya terbuka. Merah menyala di sekujur kulit tangannya.

Bina semakin tidak sabar. Dorongan untuk melakukannya semakin kuat saja. Meski begitu, ia telah berjanji untuk memberi suaminya kesempatan. Mungkin segalanya belum terlambat. Jika lelaki itu mau mengakui perbuatannya, tidak memperumit situasinya, Bina tidak akan melakukan apa yang terbayang di kepalanya.

Suaminya baru pulang begitu matahari dalam perjalanan menuju titik tertinggi. Bina masih duduk di kursi di meja makan dengan wajah kusut sisa semalam. Aldo menyambut kepulangan ayahnya. Lelaki itu memeluk dan mencium putranya. Wajahnya tampak girang. Namun begitu masuk ke ruang tamu, senyum girang lenyap dari wajahnya. “Apa-apaan ini?” katanya melihat mainan berserakan. Kemudian ia menuju ruang tengah. Di sana ia langsung menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya duduk manis, tidak melakukan apa-apa. “Kenapa kamu tidak membereskannya?” tanyanya. Bina tidak menjawab. Menoleh pun tidak dilakukannya. Tangan kirinya berada di atas meja makan dan tangan kanannya menggantung di atas paha. Darah segar mengalir di permukaan kulit lengan istrinya. Mendadak perutnya mual.

“Kamu benar-benar harus ke dokter.”

Bina masih tidak menanggapi. Tatapannya kosong mengarah ke meja makan.

“Kamu tidak bisa membiarkan itu terus terjadi.”

Bina masih tidak menanggapi. “Dari mana kamu?” tanyanya.

Nada bicara istrinya dingin dan tenang. Namun entah mengapa terdengar kasar di telinganya. Dipandanginya wajah istrinya yang dingin tanpa ekspresi.

“Dari mana saja kamu?” ulang Bina.

“Aku sudah bilang semalam. Aku lembur.”

“Dengan siapa?”

Wajah lelaki itu berubah bingung.

“Ya, di tempat kerja.”

Bina menatapnya. “Aku tanya dengan siapa,” kata Bina.

Lelaki itu menghela napas dan geleng-geleng. Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, ia membuka tudung saji. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali piring kosong.

“Kamu tidak masak?”

Tidak ada jawaban.

“Kamu ini apa tidak ada satu pun kerjaanmu yang…”

Belum sempat lelaki itu menyelesaikan kata-katanya, pisau menancap di batang lehernya. Lelaki itu menoleh ke arah istrinya. Wajahnya bingung. Bina menarik pisau dan darah mengucur. Beberapa memercik ke wajahnya. Namun Bina tidak bereaksi. Ia menatap dingin wajah heran suaminya. Bahkan ketika lelaki itu terjatuh lemas dengan mata melotot menatapnya, Bina tidak mengubah ekspresinya. Lelaki itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hanya darah yang keluar. Bina kemudian meninggalkan lelaki yang sedang meregang nyawa itu dan berjalan ke ruang tamu. Di sana ia melihat putranya sedang bermain mobil-mobilan di antara tumpukan sampah yang disebutnya mainan. Bina memandanginya. Kemudian timbul keinginan yang sama seperti semalam. Ia menatap benda di tangannya. Darah masih menempel di sana. Kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bina mengambilnya. Pesan itu datang dari operator. Bina melihat ternyata ada begitu banyak pesan. Pesan-pesan itu dari temannya yang semalam.

“Ternyata aku salah lihat!” begitu bunyi pesan temannya. Di bawah pesan itu, temannya mengirim foto tampak samping lelaki semalam. Bina memandanginya lama. Ternyata memang bukan suaminya. Kemudian ia kembali memandangi putranya. Aldo masih asyik bermain. Mobil-mobil kecil bergerak di antara tumpukan mainan. Bina tidak mengatakan apa-apa. Gatal di tangannya masih ada. (*)

Gunungsari, 2025

Emosi seperti juga masturbasi; ketika dilepas ia akan berlari mengejar klimaks, lalu setelah reda, ia menyisa sesal. Seperti itulah yang Bina rasakan sehabis memukuli anaknya yang belum genap berusia lima tahun.

Bina kembali memukuli anaknya sebab anak itu lagi-lagi membuat rumah berantakan. Mainan yang tiada bedanya dengan sampah, berserak di lantai, membuat ruang tamu terlihat seperti kota selepas banjir surut. Padahal Bina telah berkali-kali membersihkannya. Pagi sebelum suaminya berangkat kerja, ia telah menyapu dan mengepel seluruh lantai rumah. Setelah itu ia lanjut mencuci dan masak. Setelah itu ia menyuapi anaknya. Setelah itu ia menyapu dan mengepel lagi karena anaknya makan dengan mengajak serta ruang tamu ikut makan bersamanya. Bina masih mampu menahan diri ketika itu. Namun setelah dia mengingatkan anaknya agar tidak lagi membuat ruang tamu berantakan dan anaknya hanya mendengar sambil lalu—anak itu malah mengambil keranjang mainan yang berisi mainan-mainan rusak, mainan yang seharusnya sudah dibuang ke tong sampah sejak dulu tetapi terus saja disimpannya, dan mainan itu lantas ia tumpahkan ke lantai—Bina tidak mampu lagi menahan dirinya. Ia mencubit anak itu sekeras-kerasnya. Ketika si anak menjerit, ia mengambil sapu. Baru setelah sapu patah jadi dua, kesadarannya kembali.

Bina memeluk anaknya dengan kata maaf. Anak itu tidak bergerak. Daripada senang dipeluk ibunya, ia lebih terlihat takut. Wajahnya tampak ingin menangis. Namun anak itu tidak menangis. Memanglah anak itu tidak menangis. Ia bisa tersenyum dan bermain lagi, lupa pada apa yang baru terjadi. Bina tidak. Ia tidak pernah bisa melupakannya. Setiap selesai menumpahkan emosinya, rasa bersalah menerkamnya. Ia tahu ada yang salah dengan dirinya, tetapi ia tidak tahu itu apa. Bersama datangnya rasa bersalah, tubuhnya menjadi gatal. Teramat gatal. Sesuatu muncul di permukaan kulitnya. Bintik-bintik kemarahan yang meminta digaruk. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai kulitnya terluka, sampai kulitnya berubah merah dan berdarah, sampai rasa perih membuatnya lupa pada rasa gatal, barulah dia berhenti.

Telah berbagai salep gatal dicobanya. Telah berbagai dokter spesialis kulit dikunjunginya, namun tidak ada perubahan. Bintik-bintik gatal terus saja bermunculan begitu badai emosi reda dan rasa bersalah mencengkeramnya. Bintik-bintik gatal itu juga muncul setiap dia dilanda gelisah, dan setiap bintik gatal itu muncul, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya.

***

Bina tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Akan tetapi ia tahu bahwa ini bukan semata perkara kulit. Ia mulai berpikir bahwa salep dan dokter tidak akan menyelesaikan semuanya. Terpikir juga olehnya untuk pergi ke ahli jiwa, tetapi pikiran itu segera ditepisnya. Terlalu memalukan. Bina tidak ingin orang-orang berpikir bahwa dirinya sudah kehilangan kewarasan. Bersebab itu, ia selalu menutup rapat-rapat masalahnya dari orang-orang, termasuk juga apa yang ia lakukan pada anaknya.

Namun, tentu saja, itu tidak bisa disembunyikan.

“Kamu pukul Aldo lagi?”

Suaminya berdiri di pintu dapur.

Bina tidak menjawab. Tidak juga ia menoleh. Tangannya masih memegang piring yang sedang dicucinya. Ia menunduk dan memandang air yang mengalir dari keran.

“Aldo tidak mengadu,” kata lelaki itu.

Tangan Bina berhenti. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.

“Kamu tidak bisa seperti itu. Sampai kapan kamu melampiaskannya ke Aldo.”

Bina tetap menunduk. Matanya masih memandang air yang membasuh piring di tangannya.

“Dia masih kecil.” Suaminya mengambil jeda. “Kalau terus begitu, nanti dia makin takut sama kamu.”

Suaminya mengambil gelas di atas meja, mengisinya dengan air, lalu meminumnya.

“Aku cuma tidak mau Aldo kenapa-kenapa.”

Setelah mengatakannya lelaki itu pergi. Bina masih berdiri di depan bak cuci. Air terus mengalir. Ia baru mengangkat kepala ketika mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suaminya terdengar sedang bermain bersama putranya. Rasa gatal datang lagi. Mula-mula di leher. Kemudian menjalar ke lengan dan dadanya. Bina menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai tidak tahan lagi. Ia masuk ke kamar mandi. Pintu ditutup. Dikunci. Keran dibukanya lebar-lebar. Suara air mengalir memenuhi kamar mandi. Bina berdiri di depan cermin. Napasnya pendek. Tangannya gemetar. Sesuatu mendesak keluar dari tubuhnya. Bina membuka celananya. Setelah ledakan itu kepalanya terasa kosong. Ia duduk di lantai kamar mandi, menatap ubin di antara kedua kakinya. Untuk beberapa saat ia merasa pikirannya ringan. Namun itu tidak lama. Mendadak ia merasa matanya panas. Bina menangis dan sekuat mungkin menahan agar suara tangisnya tidak keluar. Rasa gatal kembali menyerang seluruh tubuhnya. Kali ini lebih ganas. Bintik-bintik merah muncul di permukaan kulitnya, dan ia menggaruknya. Bina terus menggaruknya sampai rasa perih di kulit mengalahkan rasa perih di hatinya.

***

“Aku tidak pulang malam ini. Kamu tidak usah menunggu,” kata suaminya.

Bina tidak membalas. Ia hanya mengangguk. Ia memang tidak pernah banyak bertanya kepada suaminya. Sejak naik jabatan, lelaki itu sering pulang malam. Kadang tidak pulang sama sekali. Lembur alasannya. Bina percaya saja. Ia setia menunggu di rumah. Tidak pernah ia meminta apa-apa dari suaminya. Termasuk juga urusan ranjang. Sejak hubungan mereka tidak lagi hangat, sejak itu pula suaminya selalu tampak lelah sepulang kerja. Sejak kulit-kulit Bina dipenuhi luka yang tak kunjung sembuh, sejak itu pula suaminya enggan menyentuhnya.

Sesekali mereka masih berhubungan intim. Akan tetapi apa yang mereka lakukan sekadar menuntaskan kewajiban. Biasanya tidak lama. Setelahnya suaminya terlelap, Bina masih terjaga menatap langit-langit kamarnya. Dulu hubungan mereka tidak begitu. Meskipun jarang mendapatkan mencapai klimaks, setidaknya Bina merasa suaminya lebih berusaha. Sekarang suaminya selalu tampak buru-buru. Terlihat betul ia ingin cepat-cepat menyudahi. Gairah telah padam dari matanya. Bina bisa merasakan lewat tatapan mata suaminya. Tatapannya membuat Bina merasa jijik pada dirinya sendiri. Apalagi saat mata suaminya tertuju pada luka-luka di kulitnya.

***

Sebuah pesan masuk ke ponsel Bina. Dari suaminya. Lelaki itu mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang malam ini. Ada tugas mendadak. Bina tidak bertanya. Ia hanya berpesan agar suaminya tidak lupa istirahat dan cukup makan.

Malam itu perasaan tidak nyaman kembali mendatanginya. Pikiran Bina terganggu. Ada sesuatu yang seperti hendak meledak dari dalam dirinya. Ketika melihat Aldo sedang memainkan mobil-mobilan di sofa, timbul dorongan menjambak rambut putranya. Dorongan itu coba dialihkannya dengan menonton televisi. Namun dorongan itu tidak pergi juga, malah semakin kuat mencengkeramnya. Tubuhnya kembali gatal. Bina menggaruk. Mulai dari lehernya, turun ke dada, hingga lanjut seluruh tubuh. Bukannya hilang, gatal itu semakin garang menggigit seluruh kulitnya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari seorang kawan. Kawan itu mengatakan melihat suami Bina jalan dengan seorang perempuan. Bina tidak percaya. Lalu kawannya mengirimkan pesan susulan. Dalam pesan itu terlampir sebuah foto seorang lelaki sedang merangkul pinggang seorang perempuan. Bina memerhatikan detail foto itu. Postur lelaki itu memang mirip suaminya. Potongan rambutnya pun dari belakang terlihat seperti suaminya. Dadanya berkecamuk dan tubuhnya semakin gatal.

Setelah menidurkan putranya, ia tidak tidur dan duduk menunggu suaminya di ruang tengah. Bina dibekap gelisah. Ia memperbesar foto itu. Mengecilkannya. Memperbesarnya lagi. Meskipun wajah lelaki itu tidak terlihat, posturnya benar-benar mirip suaminya. Kulit di sekujur tubuhnya kembali gatal. Kali ini lebih hebat. Ia menggaruknya sampai kuku-kukunya basah oleh darah. Ia pernah mewanti-wanti suaminya. Bina berkata dirinya bisa memaafkan apa pun kecuali satu: perselingkuhan.

Bina memang tidak pernah bilang akan melakukan apa, tetapi ia pernah membayangkan beberapa. Ia membayangkan pisau. Ia membayangkan darah. Ia membayangkan pisau menancap di perut suaminya dan darah mengucur deras. Bina menggaruk lebih keras. Kulitnya terbuka. Merah menyala di sekujur kulit tangannya.

Bina semakin tidak sabar. Dorongan untuk melakukannya semakin kuat saja. Meski begitu, ia telah berjanji untuk memberi suaminya kesempatan. Mungkin segalanya belum terlambat. Jika lelaki itu mau mengakui perbuatannya, tidak memperumit situasinya, Bina tidak akan melakukan apa yang terbayang di kepalanya.

Suaminya baru pulang begitu matahari dalam perjalanan menuju titik tertinggi. Bina masih duduk di kursi di meja makan dengan wajah kusut sisa semalam. Aldo menyambut kepulangan ayahnya. Lelaki itu memeluk dan mencium putranya. Wajahnya tampak girang. Namun begitu masuk ke ruang tamu, senyum girang lenyap dari wajahnya. “Apa-apaan ini?” katanya melihat mainan berserakan. Kemudian ia menuju ruang tengah. Di sana ia langsung menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya duduk manis, tidak melakukan apa-apa. “Kenapa kamu tidak membereskannya?” tanyanya. Bina tidak menjawab. Menoleh pun tidak dilakukannya. Tangan kirinya berada di atas meja makan dan tangan kanannya menggantung di atas paha. Darah segar mengalir di permukaan kulit lengan istrinya. Mendadak perutnya mual.

“Kamu benar-benar harus ke dokter.”

Bina masih tidak menanggapi. Tatapannya kosong mengarah ke meja makan.

“Kamu tidak bisa membiarkan itu terus terjadi.”

Bina masih tidak menanggapi. “Dari mana kamu?” tanyanya.

Nada bicara istrinya dingin dan tenang. Namun entah mengapa terdengar kasar di telinganya. Dipandanginya wajah istrinya yang dingin tanpa ekspresi.

“Dari mana saja kamu?” ulang Bina.

“Aku sudah bilang semalam. Aku lembur.”

“Dengan siapa?”

Wajah lelaki itu berubah bingung.

“Ya, di tempat kerja.”

Bina menatapnya. “Aku tanya dengan siapa,” kata Bina.

Lelaki itu menghela napas dan geleng-geleng. Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, ia membuka tudung saji. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali piring kosong.

“Kamu tidak masak?”

Tidak ada jawaban.

“Kamu ini apa tidak ada satu pun kerjaanmu yang…”

Belum sempat lelaki itu menyelesaikan kata-katanya, pisau menancap di batang lehernya. Lelaki itu menoleh ke arah istrinya. Wajahnya bingung. Bina menarik pisau dan darah mengucur. Beberapa memercik ke wajahnya. Namun Bina tidak bereaksi. Ia menatap dingin wajah heran suaminya. Bahkan ketika lelaki itu terjatuh lemas dengan mata melotot menatapnya, Bina tidak mengubah ekspresinya. Lelaki itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hanya darah yang keluar. Bina kemudian meninggalkan lelaki yang sedang meregang nyawa itu dan berjalan ke ruang tamu. Di sana ia melihat putranya sedang bermain mobil-mobilan di antara tumpukan sampah yang disebutnya mainan. Bina memandanginya. Kemudian timbul keinginan yang sama seperti semalam. Ia menatap benda di tangannya. Darah masih menempel di sana. Kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bina mengambilnya. Pesan itu datang dari operator. Bina melihat ternyata ada begitu banyak pesan. Pesan-pesan itu dari temannya yang semalam.

“Ternyata aku salah lihat!” begitu bunyi pesan temannya. Di bawah pesan itu, temannya mengirim foto tampak samping lelaki semalam. Bina memandanginya lama. Ternyata memang bukan suaminya. Kemudian ia kembali memandangi putranya. Aldo masih asyik bermain. Mobil-mobil kecil bergerak di antara tumpukan mainan. Bina tidak mengatakan apa-apa. Gatal di tangannya masih ada. (*)

Gunungsari, 2025

Emosi seperti juga masturbasi; ketika dilepas ia akan berlari mengejar klimaks, lalu setelah reda, ia menyisa sesal. Seperti itulah yang Bina rasakan sehabis memukuli anaknya yang belum genap berusia lima tahun.

Bina kembali memukuli anaknya sebab anak itu lagi-lagi membuat rumah berantakan. Mainan yang tiada bedanya dengan sampah, berserak di lantai, membuat ruang tamu terlihat seperti kota selepas banjir surut. Padahal Bina telah berkali-kali membersihkannya. Pagi sebelum suaminya berangkat kerja, ia telah menyapu dan mengepel seluruh lantai rumah. Setelah itu ia lanjut mencuci dan masak. Setelah itu ia menyuapi anaknya. Setelah itu ia menyapu dan mengepel lagi karena anaknya makan dengan mengajak serta ruang tamu ikut makan bersamanya. Bina masih mampu menahan diri ketika itu. Namun setelah dia mengingatkan anaknya agar tidak lagi membuat ruang tamu berantakan dan anaknya hanya mendengar sambil lalu—anak itu malah mengambil keranjang mainan yang berisi mainan-mainan rusak, mainan yang seharusnya sudah dibuang ke tong sampah sejak dulu tetapi terus saja disimpannya, dan mainan itu lantas ia tumpahkan ke lantai—Bina tidak mampu lagi menahan dirinya. Ia mencubit anak itu sekeras-kerasnya. Ketika si anak menjerit, ia mengambil sapu. Baru setelah sapu patah jadi dua, kesadarannya kembali.

Bina memeluk anaknya dengan kata maaf. Anak itu tidak bergerak. Daripada senang dipeluk ibunya, ia lebih terlihat takut. Wajahnya tampak ingin menangis. Namun anak itu tidak menangis. Memanglah anak itu tidak menangis. Ia bisa tersenyum dan bermain lagi, lupa pada apa yang baru terjadi. Bina tidak. Ia tidak pernah bisa melupakannya. Setiap selesai menumpahkan emosinya, rasa bersalah menerkamnya. Ia tahu ada yang salah dengan dirinya, tetapi ia tidak tahu itu apa. Bersama datangnya rasa bersalah, tubuhnya menjadi gatal. Teramat gatal. Sesuatu muncul di permukaan kulitnya. Bintik-bintik kemarahan yang meminta digaruk. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai kulitnya terluka, sampai kulitnya berubah merah dan berdarah, sampai rasa perih membuatnya lupa pada rasa gatal, barulah dia berhenti.

Telah berbagai salep gatal dicobanya. Telah berbagai dokter spesialis kulit dikunjunginya, namun tidak ada perubahan. Bintik-bintik gatal terus saja bermunculan begitu badai emosi reda dan rasa bersalah mencengkeramnya. Bintik-bintik gatal itu juga muncul setiap dia dilanda gelisah, dan setiap bintik gatal itu muncul, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya.

***

Bina tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Akan tetapi ia tahu bahwa ini bukan semata perkara kulit. Ia mulai berpikir bahwa salep dan dokter tidak akan menyelesaikan semuanya. Terpikir juga olehnya untuk pergi ke ahli jiwa, tetapi pikiran itu segera ditepisnya. Terlalu memalukan. Bina tidak ingin orang-orang berpikir bahwa dirinya sudah kehilangan kewarasan. Bersebab itu, ia selalu menutup rapat-rapat masalahnya dari orang-orang, termasuk juga apa yang ia lakukan pada anaknya.

Namun, tentu saja, itu tidak bisa disembunyikan.

“Kamu pukul Aldo lagi?”

Suaminya berdiri di pintu dapur.

Bina tidak menjawab. Tidak juga ia menoleh. Tangannya masih memegang piring yang sedang dicucinya. Ia menunduk dan memandang air yang mengalir dari keran.

“Aldo tidak mengadu,” kata lelaki itu.

Tangan Bina berhenti. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.

“Kamu tidak bisa seperti itu. Sampai kapan kamu melampiaskannya ke Aldo.”

Bina tetap menunduk. Matanya masih memandang air yang membasuh piring di tangannya.

“Dia masih kecil.” Suaminya mengambil jeda. “Kalau terus begitu, nanti dia makin takut sama kamu.”

Suaminya mengambil gelas di atas meja, mengisinya dengan air, lalu meminumnya.

“Aku cuma tidak mau Aldo kenapa-kenapa.”

Setelah mengatakannya lelaki itu pergi. Bina masih berdiri di depan bak cuci. Air terus mengalir. Ia baru mengangkat kepala ketika mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suaminya terdengar sedang bermain bersama putranya. Rasa gatal datang lagi. Mula-mula di leher. Kemudian menjalar ke lengan dan dadanya. Bina menggaruknya. Ia terus menggaruknya sampai tidak tahan lagi. Ia masuk ke kamar mandi. Pintu ditutup. Dikunci. Keran dibukanya lebar-lebar. Suara air mengalir memenuhi kamar mandi. Bina berdiri di depan cermin. Napasnya pendek. Tangannya gemetar. Sesuatu mendesak keluar dari tubuhnya. Bina membuka celananya. Setelah ledakan itu kepalanya terasa kosong. Ia duduk di lantai kamar mandi, menatap ubin di antara kedua kakinya. Untuk beberapa saat ia merasa pikirannya ringan. Namun itu tidak lama. Mendadak ia merasa matanya panas. Bina menangis dan sekuat mungkin menahan agar suara tangisnya tidak keluar. Rasa gatal kembali menyerang seluruh tubuhnya. Kali ini lebih ganas. Bintik-bintik merah muncul di permukaan kulitnya, dan ia menggaruknya. Bina terus menggaruknya sampai rasa perih di kulit mengalahkan rasa perih di hatinya.

***

“Aku tidak pulang malam ini. Kamu tidak usah menunggu,” kata suaminya.

Bina tidak membalas. Ia hanya mengangguk. Ia memang tidak pernah banyak bertanya kepada suaminya. Sejak naik jabatan, lelaki itu sering pulang malam. Kadang tidak pulang sama sekali. Lembur alasannya. Bina percaya saja. Ia setia menunggu di rumah. Tidak pernah ia meminta apa-apa dari suaminya. Termasuk juga urusan ranjang. Sejak hubungan mereka tidak lagi hangat, sejak itu pula suaminya selalu tampak lelah sepulang kerja. Sejak kulit-kulit Bina dipenuhi luka yang tak kunjung sembuh, sejak itu pula suaminya enggan menyentuhnya.

Sesekali mereka masih berhubungan intim. Akan tetapi apa yang mereka lakukan sekadar menuntaskan kewajiban. Biasanya tidak lama. Setelahnya suaminya terlelap, Bina masih terjaga menatap langit-langit kamarnya. Dulu hubungan mereka tidak begitu. Meskipun jarang mendapatkan mencapai klimaks, setidaknya Bina merasa suaminya lebih berusaha. Sekarang suaminya selalu tampak buru-buru. Terlihat betul ia ingin cepat-cepat menyudahi. Gairah telah padam dari matanya. Bina bisa merasakan lewat tatapan mata suaminya. Tatapannya membuat Bina merasa jijik pada dirinya sendiri. Apalagi saat mata suaminya tertuju pada luka-luka di kulitnya.

***

Sebuah pesan masuk ke ponsel Bina. Dari suaminya. Lelaki itu mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang malam ini. Ada tugas mendadak. Bina tidak bertanya. Ia hanya berpesan agar suaminya tidak lupa istirahat dan cukup makan.

Malam itu perasaan tidak nyaman kembali mendatanginya. Pikiran Bina terganggu. Ada sesuatu yang seperti hendak meledak dari dalam dirinya. Ketika melihat Aldo sedang memainkan mobil-mobilan di sofa, timbul dorongan menjambak rambut putranya. Dorongan itu coba dialihkannya dengan menonton televisi. Namun dorongan itu tidak pergi juga, malah semakin kuat mencengkeramnya. Tubuhnya kembali gatal. Bina menggaruk. Mulai dari lehernya, turun ke dada, hingga lanjut seluruh tubuh. Bukannya hilang, gatal itu semakin garang menggigit seluruh kulitnya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari seorang kawan. Kawan itu mengatakan melihat suami Bina jalan dengan seorang perempuan. Bina tidak percaya. Lalu kawannya mengirimkan pesan susulan. Dalam pesan itu terlampir sebuah foto seorang lelaki sedang merangkul pinggang seorang perempuan. Bina memerhatikan detail foto itu. Postur lelaki itu memang mirip suaminya. Potongan rambutnya pun dari belakang terlihat seperti suaminya. Dadanya berkecamuk dan tubuhnya semakin gatal.

Setelah menidurkan putranya, ia tidak tidur dan duduk menunggu suaminya di ruang tengah. Bina dibekap gelisah. Ia memperbesar foto itu. Mengecilkannya. Memperbesarnya lagi. Meskipun wajah lelaki itu tidak terlihat, posturnya benar-benar mirip suaminya. Kulit di sekujur tubuhnya kembali gatal. Kali ini lebih hebat. Ia menggaruknya sampai kuku-kukunya basah oleh darah. Ia pernah mewanti-wanti suaminya. Bina berkata dirinya bisa memaafkan apa pun kecuali satu: perselingkuhan.

Bina memang tidak pernah bilang akan melakukan apa, tetapi ia pernah membayangkan beberapa. Ia membayangkan pisau. Ia membayangkan darah. Ia membayangkan pisau menancap di perut suaminya dan darah mengucur deras. Bina menggaruk lebih keras. Kulitnya terbuka. Merah menyala di sekujur kulit tangannya.

Bina semakin tidak sabar. Dorongan untuk melakukannya semakin kuat saja. Meski begitu, ia telah berjanji untuk memberi suaminya kesempatan. Mungkin segalanya belum terlambat. Jika lelaki itu mau mengakui perbuatannya, tidak memperumit situasinya, Bina tidak akan melakukan apa yang terbayang di kepalanya.

Suaminya baru pulang begitu matahari dalam perjalanan menuju titik tertinggi. Bina masih duduk di kursi di meja makan dengan wajah kusut sisa semalam. Aldo menyambut kepulangan ayahnya. Lelaki itu memeluk dan mencium putranya. Wajahnya tampak girang. Namun begitu masuk ke ruang tamu, senyum girang lenyap dari wajahnya. “Apa-apaan ini?” katanya melihat mainan berserakan. Kemudian ia menuju ruang tengah. Di sana ia langsung menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya duduk manis, tidak melakukan apa-apa. “Kenapa kamu tidak membereskannya?” tanyanya. Bina tidak menjawab. Menoleh pun tidak dilakukannya. Tangan kirinya berada di atas meja makan dan tangan kanannya menggantung di atas paha. Darah segar mengalir di permukaan kulit lengan istrinya. Mendadak perutnya mual.

“Kamu benar-benar harus ke dokter.”

Bina masih tidak menanggapi. Tatapannya kosong mengarah ke meja makan.

“Kamu tidak bisa membiarkan itu terus terjadi.”

Bina masih tidak menanggapi. “Dari mana kamu?” tanyanya.

Nada bicara istrinya dingin dan tenang. Namun entah mengapa terdengar kasar di telinganya. Dipandanginya wajah istrinya yang dingin tanpa ekspresi.

“Dari mana saja kamu?” ulang Bina.

“Aku sudah bilang semalam. Aku lembur.”

“Dengan siapa?”

Wajah lelaki itu berubah bingung.

“Ya, di tempat kerja.”

Bina menatapnya. “Aku tanya dengan siapa,” kata Bina.

Lelaki itu menghela napas dan geleng-geleng. Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, ia membuka tudung saji. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali piring kosong.

“Kamu tidak masak?”

Tidak ada jawaban.

“Kamu ini apa tidak ada satu pun kerjaanmu yang…”

Belum sempat lelaki itu menyelesaikan kata-katanya, pisau menancap di batang lehernya. Lelaki itu menoleh ke arah istrinya. Wajahnya bingung. Bina menarik pisau dan darah mengucur. Beberapa memercik ke wajahnya. Namun Bina tidak bereaksi. Ia menatap dingin wajah heran suaminya. Bahkan ketika lelaki itu terjatuh lemas dengan mata melotot menatapnya, Bina tidak mengubah ekspresinya. Lelaki itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hanya darah yang keluar. Bina kemudian meninggalkan lelaki yang sedang meregang nyawa itu dan berjalan ke ruang tamu. Di sana ia melihat putranya sedang bermain mobil-mobilan di antara tumpukan sampah yang disebutnya mainan. Bina memandanginya. Kemudian timbul keinginan yang sama seperti semalam. Ia menatap benda di tangannya. Darah masih menempel di sana. Kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bina mengambilnya. Pesan itu datang dari operator. Bina melihat ternyata ada begitu banyak pesan. Pesan-pesan itu dari temannya yang semalam.

“Ternyata aku salah lihat!” begitu bunyi pesan temannya. Di bawah pesan itu, temannya mengirim foto tampak samping lelaki semalam. Bina memandanginya lama. Ternyata memang bukan suaminya. Kemudian ia kembali memandangi putranya. Aldo masih asyik bermain. Mobil-mobil kecil bergerak di antara tumpukan mainan. Bina tidak mengatakan apa-apa. Gatal di tangannya masih ada. (*)

Gunungsari, 2025

Aliurridha, Dosen dan penulis. Tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news