Alat Pemantau Udara Rusak, DLH Sumbar Imbau Warga Waspada Dampak Kabut Asap

22 hours ago 10

promo hayati padang agustus

KLIKPOSITIF- Pemantauan kualitas udara di Sumatera Barat (Sumbar) mengalami kendala. Alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang berada di depan Kantor Gubernur Sumbar mengalami kerusakan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Tasliatul Fuadi, mengatakan kerusakan alat tersebut diketahui sejak Juni 2026. Menurutnya, salah satu kerusakan terjadi pada bagian atap yang mengalami kebocoran.

Alat tersebut merupakan perangkat pemantauan yang terhubung dengan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kita sudah mengetahui sejak bulan Juni. Ada kerusakan, ada kebocoran pada atapnya. Ini pemantauannya langsung dari kementerian,” ujarnya, Sabtu (15/8/2026).

Ia mengatakan, DLH Sumbar telah melaporkan kerusakan tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup sejak Juni lalu. Laporan kembali disampaikan kepada pemerintah pusat pada Kamis (13/8/2026) sore melalui direktur terkait di Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kita berharap segera diperbaiki agar kita bisa mengantisipasi dan memantau kondisi udara secara real time, terutama di masa El Nino,” katanya.

Pemantauan kualitas udara secara langsung dinilai penting karena Sumbar mulai memasuki periode kemarau. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tasliatul menyebut, berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September. Di sisi lain, DLH Sumbar mencatat lebih dari 200 titik panas atau hotspot terdeteksi sepanjang 1 hingga 13 Agustus 2026.

Data tersebut diperoleh melalui koordinasi dengan Dinas Kehutanan serta pemantauan satelit NOAA.
Hotspot tersebut tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Dharmasraya, Sijunjung, Pesisir Selatan, Pasaman, Pasaman Barat dan Limapuluh Kota.

“Dari pantauan kita, koordinasi dengan Dinas Kehutanan, juga pantauan dari satelit NOAA, dari sekitar tanggal 1 Agustus sampai 13 Agustus, terpantau sekitar 200-an lebih titik hotspot di Sumatera Barat,” jelasnya.

Meski secara visual mulai terlihat kabut asap di sejumlah wilayah, Tasliatul memastikan kondisi kualitas udara yang masih terpantau belum menunjukkan kategori mengkhawatirkan.

Berdasarkan alat pemantauan yang berada di Padang Pariaman, parameter kualitas udara dalam 13 hari terakhir masih berada pada kategori baik hingga sedang.

“Dari hasil pemantauan alat kita yang ada di Padang Pariaman, sebenarnya dari parameter-parameter yang dipantau, sesuai indikatornya kualitas udara di Sumatera Barat meskipun secara visual terlihat seperti ada kabut asap, namun masih dalam batas-batas kondisi baik sampai sedang,” jelasnya.

Ia menegaskan, kondisi kualitas udara Sumbar saat ini belum masuk kategori tidak sehat, sangat tidak sehat maupun berbahaya.

“Belum sampai kepada tingkat tidak sehat, apalagi sangat buruk. Masih kondisi lebih baik, masih hijau,” katanya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news