Jumali Jum'at, 19 Juni 2026 21:07 WIB

Timnas Iran vs Selandia Baru/Instagram
Harianjogja.com, JOGJA—Timnas Iran masih harus menjalani fase grup Piala Dunia 2026 di bawah pembatasan ketat yang memengaruhi persiapan pertandingan, pemulihan pemain, hingga mobilitas seluruh delegasi tim. Kondisi tersebut memunculkan sorotan terkait prinsip kesetaraan dalam kompetisi sepak bola dunia.
Situasi yang dihadapi Iran berbeda dibandingkan negara peserta lainnya. Setelah laga pembuka melawan Selandia Baru, skuad Team Melli tidak dapat menjalani proses pemulihan secara normal karena harus segera meninggalkan wilayah Amerika Serikat dan kembali ke markas mereka di Tijuana, Meksiko.
Paulo Alexandre Araujo, fisioterapis Timnas Iran yang telah berpengalaman menangani pemain-pemain elite dunia, mengaku belum pernah menghadapi kondisi seperti yang dialaminya di Piala Dunia kali ini.
"Begitu banyak hal yang tidak adil. Tidak ada yang peduli. Ini bukan cara memperlakukan olahragawan ketika Anda berbicara tentang kompetisi yang adil," katanya kepada The New York Times.
Araujo mengungkapkan, sejumlah prosedur pemulihan pemain yang biasanya dilakukan secara optimal di ruang ganti harus dilakukan secara terburu-buru karena tim diwajibkan segera meninggalkan Amerika Serikat setelah pertandingan selesai.
Menurutnya, terapi es yang umumnya dilakukan sekitar 12 menit untuk membantu pemulihan otot pascalaga hanya dapat dijalankan dalam waktu sangat singkat.
"Setiap pemain seharusnya menghabiskan sekitar 12 menit di bak es setelah pertandingan untuk pemulihan. Tapi karena harus segera pergi, itu hanya sekitar satu menit. Seperti 'masukkan mereka, keluarkan, mandi, dan cepat' karena informasinya adalah kami harus segera pergi."
Akar persoalan bermula dari hubungan diplomatik yang memburuk antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan yang berkembang sejak 2025 membuat pemerintah Amerika Serikat menerapkan pembatasan visa terhadap delegasi Iran menjelang turnamen berlangsung.
Akibat kebijakan tersebut, Iran membatalkan rencana pemusatan latihan di Arizona dan memindahkan markas utamanya ke Tijuana, Meksiko.
Dalam aturan yang berlaku saat ini, skuad Iran hanya diperbolehkan memasuki wilayah Amerika Serikat sehari sebelum pertandingan untuk menjalani konferensi pers dan agenda resmi. Setelah pertandingan selesai, mereka diwajibkan kembali ke Meksiko tanpa diperbolehkan menginap untuk proses pemulihan.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bahkan menyebut timnya sebagai "tim yang paling tertindas" dalam sejarah Piala Dunia.
Kondisi tersebut juga berdampak pada kelengkapan personel pendukung tim. Dari 15 anggota delegasi yang semula ditolak visanya, hanya empat orang yang akhirnya memperoleh izin masuk setelah proses banding.
Mereka yang gagal memperoleh visa termasuk Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bersama sejumlah direktur teknis dan staf media.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan penolakan dilakukan terhadap individu yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Selain aspek teknis, tekanan psikologis juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Araujo menilai pengalaman menjalani pemeriksaan ketat dan berada di bawah pengawasan keamanan bersenjata bukan situasi yang biasa dihadapi atlet profesional saat mengikuti turnamen olahraga.
"Ketika Anda mendapatkan pemain yang menunggu di bandara selama dua, tiga jam, dan tiba di sana dikelilingi oleh orang-orang dengan senapan mesin dan semua ini, mereka tidak terbiasa dengan hal itu," ujarnya, ungkapnya di kutip dari USA Today.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Iran tetap mampu mencuri perhatian dengan menahan imbang Selandia Baru 2-2 pada pertandingan pembuka. Hasil itu dinilai menjadi modal penting untuk menjaga peluang lolos dari fase grup.
Araujo bahkan menyebut hasil tersebut sebagai sesuatu yang "hampir ajaib" mengingat kondisi yang harus dihadapi tim.
Presiden FIFA, Gianni Infantino , dilaporkan sempat mengunjungi ruang ganti Iran seusai pertandingan untuk memberikan dukungan kepada skuad Team Melli.
Perjuangan Iran belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi Belgia pada 22 Juni 2026 dan Mesir pada 27 Juni 2026. Dengan pembatasan yang tetap berlaku, setiap pertandingan tidak hanya menjadi ujian kemampuan di lapangan, tetapi juga ketahanan fisik dan mental di luar pertandingan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
4
















































