
Foto ilustrasi tempat kejadian perkara. - Freepik
Harianjogja.com, PALEMBANG—Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan DNA dari sampel tulang untuk mengidentifikasi korban tabrakan bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Metode tersebut dilakukan karena sebagian besar jenazah mengalami kerusakan berat akibat kebakaran hebat setelah kecelakaan.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati mengatakan tim memilih sampel tulang yang masih berwarna kemerahan karena dinilai masih memiliki kandungan DNA yang dapat diperiksa di laboratorium.
"Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang. Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa," katanya saat konferensi pers di Palembang, Sabtu (9/5/2026).
Wahyu menjelaskan proses identifikasi terhadap 17 korban meninggal dunia mengalami hambatan karena kondisi jenazah rusak parah akibat suhu panas tinggi saat bus ALS terbakar usai bertabrakan dengan truk tangki BBM.
Menurut dia, identifikasi melalui ciri fisik maupun barang pribadi korban sulit dilakukan lantaran banyak properti korban terlepas dari tubuh saat insiden terjadi.
Tim DVI sebelumnya berharap proses identifikasi bisa dibantu melalui pemeriksaan gigi korban. Namun metode tersebut juga mengalami kendala karena sebagian besar struktur gigi telah rapuh dan hancur akibat kobaran api.
"Karena apinya sangat besar sehingga sebagian besar tulang, termasuk gigi, itu juga menjadi rapuh," jelasnya.
Pemeriksaan DNA akhirnya menjadi metode utama untuk memastikan identitas korban kecelakaan maut tersebut. Meski demikian, proses analisis laboratorium membutuhkan waktu cukup panjang untuk memperoleh profil DNA yang akurat.
Tim DVI memperkirakan hasil pemeriksaan DNA paling cepat dapat diketahui dalam waktu lima hari sejak sampel diterima dan diproses.
Hingga kini, tim telah menerima 15 sampel antemortem dari pihak keluarga korban untuk dicocokkan dengan sampel jenazah. Data tersebut diharapkan dapat membantu mengungkap identitas 16 korban dewasa dan satu korban anak-anak yang meninggal dalam kecelakaan bus ALS di Muratara.
"DNA-nya itu memang agak lama. Paling cepat itu lima hari. Kita mohon doanya supaya bisa muncul semua profil DNA," kata Wahyu.
Kecelakaan bus ALS dan truk tangki BBM di Muratara menjadi perhatian publik karena besarnya kebakaran yang terjadi setelah tabrakan, sehingga menyulitkan proses identifikasi korban oleh tim forensik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
6
















































