Harga Bahan Naik Tiga Kali Lipat, UMKM Buket Jogja Justru Laris Manis

4 hours ago 1

Harga Bahan Naik Tiga Kali Lipat, UMKM Buket Jogja Justru Laris Manis

Pemilik usaha Ayabi Buket, Dimas Septian, tengah menata barang dagangan di tokonya di Warungboto, Umbulharjo, pada Rabu (10/6/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA— Tekanan kenaikan harga bahan baku hingga tiga kali lipat tak membuat usaha buket di Kota Jogja surut. Justru sebaliknya, pelaku UMKM seperti Ayabi Buket mampu bertahan bahkan mencatat pertumbuhan permintaan, terutama saat momentum wisuda.

Usaha yang dirintis Dimas Septian (28) bersama istrinya ini kini berkembang pesat dari skala rumahan menjadi bisnis kecil dengan dua karyawan. Berlokasi di kawasan Warungboto, Umbulharjo, posisinya yang dekat dengan kampus seperti Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Teknologi Yogyakarta menjadi salah satu faktor pendorong tingginya permintaan, khususnya di musim wisuda.

Namun di balik tren positif tersebut, tantangan besar datang dari lonjakan harga bahan baku. Dimas mengungkapkan sejumlah material utama mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Tusuk sate dulu Rp8.000 sekarang jadi Rp15.000 per pack. Plastik dari Rp17.000 sekarang bisa Rp30.000 sampai Rp35.000. Yang paling tinggi kain jute, dari Rp50.000 sekarang tembus Rp150.000,” ujarnya saat ditemui, Rabu (10/6/2026).

Kenaikan harga juga merembet ke bahan pelengkap seperti pita satin. Meski terlihat kecil, akumulasi kenaikan tersebut cukup membebani biaya operasional bulanan. Plastik, misalnya, menjadi komponen yang paling sering digunakan sehingga dampaknya paling terasa.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Ayabi Buket tidak hanya mengandalkan kenaikan harga jual. Dimas memilih strategi yang lebih adaptif dengan memperkuat pemasaran digital dan kreativitas konten.

“Margin keuntungan memang tidak sebesar dulu, tapi kami kejar dari volume penjualan. Kuncinya di kreativitas, terutama di media sosial,” katanya.

Strategi tersebut terbukti efektif. Permintaan buket meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir seiring musim wisuda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Bahkan, menurut Dimas, performa penjualan tahun ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Flow pembeli justru lebih bagus tahun ini. Momen wisuda sangat membantu,” jelasnya.

Menariknya, perubahan strategi juga berdampak pada pola kerja tim. Jika sebelumnya karyawan lebih banyak fokus pada produksi, kini sebagian besar waktu dialokasikan untuk membuat konten promosi di media sosial. Langkah ini dinilai penting karena perilaku konsumen saat ini sangat dipengaruhi oleh platform digital.

“Sekarang orang tahu produk dari sosial media. Jadi kami harus ikut beradaptasi,” imbuhnya.

Kisah Ayabi Buket menjadi gambaran bagaimana UMKM di Jogja mampu bertahan di tengah tekanan biaya dengan mengandalkan inovasi dan pemanfaatan teknologi digital. Fleksibilitas strategi dan kemampuan membaca pasar menjadi kunci agar usaha tetap tumbuh di tengah tantangan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news