BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Sumbar Berpotensi Ekstrem Sepekan ke Depan

6 hours ago 3

KLIKPOSITIF- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di seluruh Sumatera Barat (Sumbar) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan kondisi cuaca dalam sepekan ke depan.

Hal itu disampaikan Prakirawan Stasiun Meteorologi Minangkabau dalam rilis yang diterima, Senin (30/6/2026). Imbauan tersebut berdasarkan analisis potensi hujan di Sumbar periode 30 Juni hingga 6 Juli 2026 yang dipengaruhi penguatan aktivitas konvektif dan prospek hujan pada masa peralihan musim.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Minangkabau menjelaskan, selama 24-29 Juni 2026 sejumlah wilayah di Sumbar mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

Pada 24 Juni, Kabupaten Solok tercatat mengalami hujan sangat lebat dengan curah hujan mencapai 111,0 mm. Selanjutnya pada 25 Juni, Kabupaten Lima Puluh Kota mengalami hujan sedang dengan curah hujan 38 mm.

Kemudian pada 28 Juni, sejumlah wilayah termasuk Kabupaten Padang Pariaman mengalami hujan sangat lebat. Kota Pariaman bahkan mencatat curah hujan ekstrem mencapai 163,3 mm.

Sementara pada 29 Juni, hujan lebat kembali terjadi di Kabupaten Solok, Kabupaten Pasaman Barat, dan Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan curah hujan tertinggi di Lima Puluh Kota mencapai 71,6 mm.

BMKG menyebut kondisi tersebut dipicu dinamika atmosfer yang memengaruhi wilayah Sumatera Barat. Pada 24-26 Juni, pola sirkulasi regional dipengaruhi sirkulasi siklonik di perairan barat Sumatera serta pembentukan jalur konvergensi yang meningkatkan pasokan uap air dan pertumbuhan awan hujan.

Kondisi itu memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat dan petir, terutama di wilayah pesisir barat dan kawasan Bukit Barisan.

Memasuki 27-29 Juni, dinamika atmosfer berubah seiring berkembangnya bibit siklon tropis 96W di Samudra Pasifik timur yang ikut memperpanjang zona pertemuan angin ke wilayah Indonesia bagian tengah hingga barat.

Kombinasi tersebut meningkatkan ketidakstabilan atmosfer dan memperluas peluang hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Sumbar, termasuk peningkatan potensi petir.

Sementara itu, berdasarkan dinamika atmosfer periode 30 Juni hingga 6 Juli 2026, potensi hujan di Sumatera Barat masih tergolong tinggi terutama pada awal periode, meski secara umum wilayah Indonesia bagian selatan mulai memasuki penguatan musim kemarau.

Dalam kondisi tersebut, hujan diperkirakan tidak terjadi merata sepanjang hari, melainkan cenderung turun secara lokal pada siang hingga malam hari. Kondisi ini dipengaruhi pemanasan permukaan, tingginya kelembapan udara, serta proses pengangkatan massa udara yang terjadi secara bersamaan.

Pada akhir Juni, BMKG juga masih mendeteksi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan pada awal periode lantaran peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi masih cukup besar.

Memasuki periode 2 hingga 6 Juli 2026, peluang hujan diperkirakan mulai menurun secara bertahap, namun belum hilang sepenuhnya. Kondisi cuaca yang berpotensi terjadi berupa kombinasi berawan, cerah berawan, hingga hujan singkat yang muncul secara lokal pada sore atau malam hari saat atmosfer kembali tidak stabil.

Secara meteorologis, kondisi tersebut menunjukkan atmosfer masih menyimpan cukup uap air serta adanya pemicu pembentukan awan hujan, seperti konvergensi angin dan efek orografis pegunungan. Meski demikian, frekuensi dan cakupan hujan diperkirakan lebih terbatas dibandingkan periode awal.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news