Jalan Terong-Dlingo Bantul Licin Saat Hujan, Warga Soroti Truk Tanah

4 hours ago 2

Harianjogja.com, BANTUL—Kondisi Jalan Terong–Dlingo di Kabupaten Bantul dikeluhkan warga karena kerap menjadi kotor dan licin saat musim hujan. Tanah yang tercecer dari truk pengangkut tanah disebut membuat permukaan jalan berbahaya bagi pengguna jalan.

Keluhan mengenai kondisi Jalan Terong–Dlingo di Kabupaten Bantul mencuat di kalangan warga. Saat musim hujan, ruas jalan tersebut kerap dipenuhi tanah yang tercecer dari truk pengangkut sehingga membuat permukaan aspal menjadi kotor dan licin.

Tanah yang menempel pada ban kendaraan berat tersebut kemudian jatuh di sepanjang badan jalan. Kondisi ini membuat jalan tampak becek dan memicu kekhawatiran pengguna jalan, terutama ketika hujan turun.

Lurah Kalurahan Terong, Sugiyono, mengatakan hingga kini belum ada laporan resmi yang masuk ke kantor kalurahan terkait keluhan tersebut.

Ia mengetahui persoalan itu justru dari video yang beredar di media sosial.

“Kalau laporan resmi ke kalurahan belum ada. Saya justru tahunya dari video yang beredar di media sosial,” kata Sugiyono saat dikonfirmasi, Selasa (10/3).

Sugiyono menjelaskan bahwa kondisi jalan yang terlihat kotor bukan disebabkan kerusakan pada infrastruktur jalan, melainkan tanah yang terbawa ban truk pengangkut kemudian tercecer di sepanjang ruas jalan.

Menurutnya, kondisi tersebut lebih sering terjadi pada musim hujan karena tanah menjadi lebih lengket sehingga mudah menempel pada ban kendaraan.

“Jalannya sebenarnya tidak rusak. Hanya saja kalau musim hujan, tanah yang menempel di ban truk itu tercecer di jalan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebenarnya sudah ada upaya pembersihan terhadap tanah yang mengotori jalan tersebut. Namun proses pembersihan masih dilakukan secara manual sehingga belum mampu membersihkan seluruh area jalan secara maksimal.

“Memang ada yang membersihkan, tapi manual. Belum menggunakan semprotan air tangki atau alat lain, jadi kadang masih terlihat kotor,” jelasnya.

Sugiyono juga menyampaikan bahwa aktivitas pengangkutan tanah maupun pembersihan jalan sebagian dilakukan oleh warga setempat. Meski demikian, pihak kalurahan belum mengetahui secara pasti warga mana saja yang merasa terdampak secara langsung oleh aktivitas tersebut.

“Yang mengangkut tanah itu juga ada warga sini. Yang membersihkan juga warga. Tapi kalau yang merasa keberatan itu siapa saja, kami belum tahu secara pasti,” katanya.

Ia menilai keluhan yang beredar di media sosial belum tentu mewakili seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karena itu, hingga saat ini belum ada rencana untuk menggelar mediasi khusus antara warga dan pihak pengangkut tanah.

“Kadang di media sosial mengatasnamakan warga, tapi bisa saja hanya satu dua orang. Kalau ada yang merasa keberatan, silakan disampaikan langsung ke kalurahan,” ujarnya.

Sementara itu, Rara, seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) yang tinggal di sekitar wilayah tersebut, mengaku cukup sering melintasi Jalan Terong-Dlingo. Ia membenarkan bahwa truk pengangkut tanah masih sering melintas di jalur tersebut.

“Di sini memang masih sering dilewati truk-truk itu,” kata Rara.

Menurutnya, kondisi Jalan Terong–Dlingo menjadi lebih berisiko ketika hujan turun. Tanah yang tercecer di jalan membuat permukaan aspal terasa licin sehingga berpotensi membahayakan pengendara yang melintas.

“Kalau hujan jalannya kelihatan licin, jadi bisa membahayakan pengguna jalan. Setahu saya tiap hari memang ada yang membersihkan jalan, tapi mungkin memang belum maksimal. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news