Foto ilustrasi maskapai penerbangan. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Aktivitas penerbangan sipil di Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi mulai beroperasi kembali secara bertahap dan terbatas sejak Senin (2/3/2026) malam. Pembukaan operasional dilakukan secara terkoordinasi dengan otoritas terkait dan maskapai, setelah sebelumnya ditutup akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan pantauan Flightradar24 di Abu Dhabi, Selasa, sejumlah jadwal penerbangan mulai kembali muncul dalam sistem, meski status keberangkatan masih dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Data penerbangan publik yang ditampilkan Flightradar24 menunjukkan sedikitnya 15 pesawat penumpang milik Etihad Airways telah lepas landas dari Abu Dhabi dalam kurun sekitar tiga jam setelah pembukaan operasional sebagian.
Sejumlah sumber lain menyebut jumlahnya mencapai 16 penerbangan pada periode awal tersebut, sementara laporan berbeda mencatat sedikitnya delapan penerbangan telah berangkat sejak pukul 14.00 waktu setempat pada hari pertama pembukaan.
Langkah pembukaan terbatas juga dilakukan di Dubai dan Ras Al Khaimah. Otoritas bandara mengonfirmasi bahwa operasional terbatas dimulai pada Senin malam di Dubai International Airport serta Al Maktoum International Airport. Sementara itu, Ras Al Khaimah International Airport juga memberlakukan skema serupa.
Sebelumnya, sejumlah penerbangan dibatalkan atau ditunda menyusul penutupan sebagian wilayah udara Uni Emirat Arab (UEA) sebagai langkah pencegahan di tengah perkembangan situasi keamanan regional.
Untuk meredakan kekhawatiran penumpang, maskapai-maskapai besar UEA menyediakan opsi pengembalian dana dan penjadwalan ulang bagi pelanggan yang terdampak gangguan operasional tersebut.
Membantu Penumpang Terlantar
Otoritas Penerbangan Sipil UEA atau General Civil Aviation Authority (GCAA) menyatakan pembukaan kembali penerbangan bertujuan membantu penumpang yang sempat terlantar sejak penutupan bandara diberlakukan.
Maskapai akan menyampaikan jadwal terbaru secara langsung kepada penumpang terdampak, termasuk rincian tujuan dan waktu keberangkatan.
GCAA mengimbau masyarakat agar tidak datang ke bandara sebelum menerima pemberitahuan resmi dari maskapai masing-masing. Kepatuhan terhadap arahan tersebut dinilai krusial demi menjaga kelancaran prosedur dan ketertiban operasional di tengah situasi yang masih berkembang.
Dari sisi maskapai, Emirates mengonfirmasi telah mengoperasikan sejumlah penerbangan terbatas sejak Senin malam. Maskapai berbasis di Dubai itu menyatakan akan memprioritaskan pelanggan dengan pemesanan lebih awal serta penumpang yang telah dijadwalkan ulang dan akan dihubungi secara langsung.
Penerbangan Repatriasi
Sementara itu, Etihad Airways menyampaikan kemungkinan pengoperasian penerbangan repatriasi dan kargo dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas UEA. Namun, penerbangan reguler terjadwal masih ditangguhkan seiring konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Salah satu penerbangan yang dilaporkan berhasil diberangkatkan adalah Etihad EY216 yang lepas landas dari Abu Dhabi pukul 15.42 waktu setempat dan mendarat di New Delhi pukul 20.31 waktu India, membawa penumpang yang sebelumnya terdampak gangguan perjalanan.
Pergerakan ini menandai tahap awal pemulihan aktivitas penerbangan di Uni Emirat Arab setelah beberapa hari terdampak eskalasi ketegangan antara Israel dan Iran, meski otoritas menegaskan operasional tetap bersifat terbatas dan dapat berubah sesuai dinamika keamanan regional.
Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, mengimbau WNI yang masih tertahan di UEA agar terus berkoordinasi dengan KBRI Abu Dhabi atau KJRI Dubai serta secara berkala memantau pembaruan jadwal penerbangan dari maskapai sebelum menuju bandara guna menghindari kepadatan di terminal.
“Otoritas sudah menegaskan bahwa kepatuhan terhadap instruksi yang dikeluarkan sangat penting untuk mendukung kelancaran prosedur dan ketertiban operasional,” katanya.
Sebelumnya, GCAA mengumumkan penutupan sementara wilayah udara sejak 28 Februari 2026 sebagai langkah mitigasi keamanan. Sejumlah negara di Timur Tengah seperti Irak, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Suriah juga dilaporkan menutup wilayah udaranya.
Ketegangan kawasan dipicu serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.
Akibat serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei syahid bersama beberapa anggota keluarganya, komandan militer senior, serta warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah, yang berdampak langsung pada penutupan wilayah udara dan gangguan operasional penerbangan di kawasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

10 hours ago
4

















































