Harianjogja.com, JOGJA— Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah mendorong perubahan besar pada sektor transportasi di Nepal. Saat sejumlah negara mengalami kelangkaan bahan bakar, Nepal justru mempercepat adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Peralihan ini memberi keuntungan bagi pelaku transportasi. Salah satunya dialami Purushottam Adhikari, pengemudi mikrobus listrik yang mengaku pendapatannya tetap stabil bahkan meningkat di tengah kenaikan harga minyak dunia.
“Pekerjaan saya tidak terdampak konflik. Bahkan, semakin banyak orang memilih EV,” ujarnya dikutip dari AFP, Senin (4/5/2026).
Adhikari melayani rute sejauh 300 kilometer dari Distrik Chitwan menuju ibu kota Kathmandu. Ia menyebut tidak terdampak gangguan pasokan minyak global, termasuk isu penutupan Selat Hormuz yang memicu antrean BBM di banyak negara.
Pakar energi alternatif, Govind Raj Pokharel, menilai ketahanan Nepal tidak lepas dari meningkatnya penggunaan EV. Saat ini, sekitar 50.000 unit kendaraan listrik telah beroperasi dari total 6,2 juta kendaraan, dan permintaan terus meningkat.
Faktor utama pendorong peralihan ini adalah efisiensi biaya operasional. Sejak konflik memicu lonjakan harga energi pada akhir Februari 2026, harga bensin di Nepal hampir dua kali lipat karena ketergantungan pada impor.
Sebagai perbandingan, biaya pengisian penuh mikrobus listrik hanya sekitar US$8, jauh lebih murah dibandingkan kendaraan diesel yang bisa mencapai lebih dari US$66 untuk jarak tempuh serupa—atau sekitar delapan kali lipat lebih mahal.
Efisiensi ini membuat tarif transportasi tetap terjangkau di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang kini lebih selektif dalam memilih moda transportasi.
Salah satu penumpang, Susmita Bishowkarma, mengaku beralih ke kendaraan listrik karena lebih nyaman dan ekonomis.
Selain itu, perkembangan infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik yang semakin luas di jalur utama turut mendukung mobilitas kendaraan listrik jarak jauh.
Bagi Nepal, krisis energi global justru menjadi momentum percepatan transisi menuju transportasi ramah lingkungan. Ketergantungan pada listrik domestik dinilai lebih aman dibandingkan bahan bakar fosil impor di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
2

















































