Pahlawan Reich dan Manusia dari Jerman

19 hours ago 5

Hayati Sumbar

Berlin 10 November 2025.

Reich Ketiga memasuki usia ke-80 tahun. Tahun 1945 menjadi tahun resmi Reich Ketiga setelah memenangi Perang Dunia II. Main Fuhrer sendiri yang mendeklarasikan setelah hampir seluruh Eropa berada di bawah pemerintahan yang “demokratis” ini. Langit kota Berlin tetap dipenuhi bendera, parade dan aroma daging panggang standar kelima yang diwajibkan Kementerian Gizi Nasional. Di dalam Reichaus, dua potret besar diletakkan berdampingan: Adolf Hitler dan Anne Frank. “Pahlawan Nasional” baru tahun itu.

Kombinasi yang menggelikan—kecuali bagi mereka yang hidup di bawah rezim yang sudah lama kehilangan rasa humor. Namun hal yang paling aneh dari upacara itu bukanlah penobatan tersebut, melainkan kehadiran tokoh yang semestinya telah mati delapan dekade lalu; Joseph Goebbels, ia berdiri tegap, kulitnya nyaris tak berkerut, rambut disisir ke belakang dengan minyak klasik “Ubermensch No. 3”—sebuah pomade paling terkenal di Eropa pada masanya.

Wartawan asing yang jarang diundang berbisik: “Bukankah itu JG? Tapi bagaimana mungkin dia masih hidup..?” tanya wartawan asing itu dengan nada tidak percaya.

Jawabannya tentu hanya diketahui sebagian kecil elit Reich.

Hari itu….

Berlin, Maret 1945

Kemenangan Reich Ketiga semakin dekat, Uni Soviet telah takluk. Musuh terakhir yang harus dituntaskan Jerman sebelum menguasai seluruh Eropa. Jepang dan Amerika Serikat secara mendadak mendeklarasikan perjanjian damai dengan catatan bahwa Filipina harus diserahkan pada negara Uncle Sam itu. Jepang menyetujui.

Di sebuah ruangan rahasia, seorang ilmuwan yahudi—yang namanya telah dihapus dari seluruh arsip penelitian Jerman—dipaksa menciptakan dua buah kapsul keabadian. Rencananya satu untuk Hitler dan satu lagi untuk istrinya. Kala kapsul itu diserahkan, Hitler menatapnya dengan jijik.

“Ini dibuat oleh seorang Yahudi?”

“Ya, Mein Fuhrer, tetapi—” belum sempat ketua laboratorium itu menyelesaikan kalimatnya Hitler langsung menyela.

“Buang saja. Aku tidak akan mencemari darah Aryaku dengan karya mereka.” Hitler melempar dua buah kapsul itu ke lantai dan segera pergi meningalkan ruangan.

Tidak ada yang berani mengambilnya kembali kecuali satu orang: Goeebels. Sambil melirik kanan-kiri, ia memungut kapsul itu layaknya seorang anak kecil menemukan permen jatuh. Ia kemudian menelannya diam-diam di salah satu ruangan arsip rahasia bawah tanah Reichshaus, meyakinkan dirinya bahwa jika Hitler menolak keabadian tentu ada “alasannya.” Goebbels berkata dalam hati “Ada baiknya seseorang dari masa ini tetap hidup untuk memastikan kebenaran (propaganda) tetap berajalan ke arah yang semestinya.”

Kapsul kedua—yang seharusnya untuk istri Hitler tak pernah ditemukan, hilang. Konon katanya, gosip dan desas-desus yang beredar di kalangan kaum prol (kaum kelas buruh, rendahan dan ilmuwan yang termarjinalkan) bahwa kapsul itu mungkin saja dimakan tikus di laboratorim yang kini entah hidup di mana. Mungkin abadi pula.

Goebbels telah berusia lebih dari satu abad. Di tanah Eropa yang telah menjadi satu negara, ia sering diundang sebagai tokoh kebudayaan dan sejarah United of Europea—sebuah perserikatan yang dibentuk Jerman untuk mempererat hubungan negara induk dan negara anak (konsep yang diperkenalkan ilmuwan sosial yang aslinya adalah kolonisasi pasca 1945). Negara induk tentu adalah Jerman itu sendiri.

Goebbels yang abadi memberikan ia lebih banyak waktu daripada seluruh manusia di belahan bumi manapun abad ke-20 dan 21 untuk melakukan apa yang paling ia cintai: menulis teori-teori konyol yang terdengar meyakinkan bila diucapkan dengan sangat percaya diri. Ia menunjuk Zon Adler, budayawan gila yang sedikit gemuk, maniak dan muda untuk menjadi Menteri Kebudayaan Jerman. Awal tahun 2025, ia bersama Zon Adler menerbitkan buku fenomenal “Out of Germany: Manusia berasal dari Arya, Semua Bangsa Turunan Kita.”

Dalam bukunya, ia mengajukan argumen seperti: Tengkorak manusia paling tua seharusnya ditemukan di Jerman, “hanya saja belum ditemukan karena birokrasi arkeologi terlalu lambat”; Jika ada fosil manusia tertua di Afrika, itu “pasti tersesat dalam perjalanan kembali ke Tanah Arya”; Kehadiran orang-orang di luar Eropa adalah bukti bahwa “Arya senang bepergian”; Lukisan gua di Tanah Arya telah dihapus oleh kaum komunis saat Perang Dunia II berkecamuk. Ia bahkan pernah menyatakan dalam wawancara TV: “Secara genetis, semua manusia berasal dari Jerman. Bahkan jika fakta tidak setuju, maka fakta harus memperbaiki diri.”

Kementerian Sains, yang sepenuhnya di bawah kendalinya, tentu saja menyetujui teori itu. Rakyat Reich akhirnya diajari bahwa garis keturunan manusia bermula dari sebuah desa kecil di Bavaria, dengan ilustrasi keluarga Arya berkulit pucat memegang tombak berbulu putih.

Berlin, 10 November 2025.

Pada 10 November yang cerah di Berlin. Jam 10 pagi, Zon Adler mengumumkan dua orang pahlawan nasional baru. Rakyat bersorak sorai, sudah biasa di Berlin.

Ketika Anne Frank diumumkan sebagai Pahlawan Nasional, sebagian orang menahan tawa gugup. Sebagian lagi menahan keheranan. Sisanya hanya berdiri diam, karena kamera ada di mana-mana.

Goebbels, abadi dan bersemangat seperti anak muda, ikut berdiri tepat di samping kanselir.

“Ini hari yang amat bersejarah”, katanya dengan suara yang nyaris tak berubah sejak 1943. “Kita menghormati Bapak Bangsa kita, ia juga kadang disebut Bapak Pembangunan Eropa, The Smilling General dan yang telah memulihkan ekonomi Jerman dengan baik di masanya. Dan juga seorang gadis yang menjadi simbol… ehh… apa tadi?” Seorang staf protokoler berbisik, .. “Simbol kerendahan hati rakyat” .. “Ahh tentu, itu sangat cocok.”

Kamera mengabadikan ekspresinya yang begitu puas, sejarah telah berjalan ke arah yang benar. Begitu gumamnya dalam hati.

Amsterdam yang kini dikenal dengan nama Neu-Holland sebuah ibukota negara anak negara bagian Jerman, warganya sudah biasa melihat patung Anne Frank yang berdampingan dengan patung Hitler. Para turis Reich berfoto sambil menunjukkan tanda kemenangan, sementara penduduk lokal hanya menghela nafas panjang sambil menyapu halaman rumah menyongsong musim dingin yang akan segera tiba.

Seorang guru sekolah berkata di ruangan kelas kepada para murid: “Anak-anak, ingat. Dua tokoh ini adalah pahlawan bangsa.,menurut buku paket SNI (Sejarah Nasional Indo-Arya). Anak-anak mengangguk patuh, tidak ada pilihan lain di Reich. Pilihan ganda di kolom ujian hanya berisi satu kolom, paradoks.

10 November di Berlin, sore hari pukul lima. Sebuah gereja tua yang tidak lagi digunakan—yang sekarang secara diam-diam menjadi pusat diskusi rahasia—seorang sejarawan berbisik. “Lucu ya. Pemburu dan korbannya disatukan dalam satu panggung.” Salah seorang lainnya menimpali “Dan orang yang paling bersemangat merayakannya adalah orang yang harusnya sudah mati”

Yang lain menjawab “Ya. Setelah 80 tahun, nampaknya propaganda lebih abadi daripada manusia”

Salah seorang lelaki tua menyela dengan segelas bir basi di tangan kirinya “Tidak, propaganda memang abadi—Goebbels membuktikannya sendiri” sambil tertawa pahit dan mengeluarkan batuk berdarah karena ia mengalami bronkiektasis akut.

10 November 2025, Berlin yang semakin dingin menyambut musim dingin. Di musem Anne Frank yang dibangun, satu catatan kecil tersembunyi—yang tidak pernah dipajang bertuliskan:

“Jika suatu saat mereka menyebutku pahlawan di negeri yang menghancurkan diriku, mungkin bukan aku yang menjadi pahlawan—melainkan ironi itu sendiri.”

Lilin elektronik di depan foto Anne tetap menyala, simbol resmi Reich tentang “rekonsiliasi sejarah”. Persis seperti yang disampaikan Zon Adler “Sejarah itu harus menyatukan, sejarah harus ditulis dengan tone yang positif.” Ia melanjutkan “Fakta kerusuhan selama Perang Dunia II itu dilebih-lebihkan secara statistika. Persatuan dan tone positif harus diutamakan.”

Namun, seperti biasa, sejarah yang direkonsiliasi adalah sejarah yang sudah disetrika, dibungkus rapi, dan dilepaskan dari kebenaran. Sambil diberi sedikit parfum seperti laundry-laundry yang menjadi primadona belakangan ini.

Di luar gedung, menjelang tengah malam, Goebbels berjalan pulang dengan langkah ringan, memikirkan teori baru “bahwa manusia sebenarnya mungkin bukan hanya berasal dari Jerman… tetapi seluruh alam semesta juga berasal dari sana”.

“Aku akan membicarakan pada Zon Adler keesokan harinya, Kanselir Jerman baru itu pasti setuju. Apalagi anak dari keponakan Hitler adalah istrinya sendiri”. Goebbels berjalan dengan bahagia, 10 November memang bersejarah bagi Jerman. Selain merupakan bagian dari proses runtuhnya monarki, kita juga punya dua pahlawan baru hari ini.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news