Kemenkes Perkuat Peran Bidan Tangani Mental Ibu Hamil

2 hours ago 3

Kemenkes Perkuat Peran Bidan Tangani Mental Ibu Hamil

Pemeriksaan ibu hamil. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan tiga langkah utama untuk memperkuat peran bidan dalam menangani masalah kesehatan mental perempuan selama masa kehamilan hingga menyusui. Upaya tersebut dilakukan melalui pemerataan tenaga bidan, pelatihan pemulihan luka psikologis, hingga kampanye publik untuk mengurangi stigma kesehatan jiwa maternal.

Direktur Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan perhatian terhadap kesehatan mental ibu menjadi isu penting dalam peringatan Hari Bidan Internasional 2026 yang jatuh pada 5 Mei dengan tema “One Million More Midwives”. Tema tersebut menyoroti pentingnya penambahan dan pemberdayaan tenaga kebidanan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurut Imran, penguatan peran bidan berkaitan langsung dengan kemampuan sistem kesehatan dalam mendeteksi, merespons, dan mencegah gangguan kesehatan jiwa pada ibu hamil maupun ibu pascamelahirkan.

"Di Indonesia angka-angka menunjukkan tantangan nyata. Prevalensi masalah kesehatan jiwa tercatat sekitar 12,6 persen pada ibu hamil dan 10,1 persen pada ibu pasca melahirkan. Prevalensi depresi selama kehamilan sekitar 7,9 persen dan pada masa postpartum 5,9 persen," katanya di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan pada 2025 baru sekitar 228.113 ibu hamil yang menjalani skrining kesehatan jiwa. Selain cakupan skrining yang masih terbatas, tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan juga dinilai perlu diperkuat.

Tambah dan Pemerataan Bidan

Langkah pertama yang disiapkan pemerintah ialah menambah jumlah bidan sekaligus memastikan pemerataan penempatan tenaga kebidanan di berbagai daerah. Kemenkes menilai keberadaan bidan tidak hanya penting untuk mendukung persalinan aman, tetapi juga memperluas layanan kesehatan jiwa maternal.

Imran menyebut saat ini terdapat sekitar 362.000 bidan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 257.000 bidan bekerja di fasilitas kesehatan pemerintah dan sekitar 86 persen di antaranya bertugas di puskesmas.

Pelatihan Pemulihan Luka Psikologis

Langkah kedua adalah mempercepat pelatihan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) serta keterampilan konseling singkat bagi bidan. Pelatihan tersebut diharapkan membuat bidan mampu memberikan intervensi awal secara konsisten meski menghadapi beban kerja tinggi.

"Mendengarkan tanpa menghakimi, menenangkan, membantu ibu mengelola emosi, dan mengajarkan strategi pengasuhan positif yang langsung berdampak pada bonding orangtua-anak," katanya.

Menurut Imran, bidan juga memiliki peran penting ketika ibu menunjukkan gejala risiko tinggi atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dalam kondisi tersebut, bidan dapat menjadi penghubung untuk mengarahkan pasien ke layanan psikologis maupun psikiatri.

Selain itu, bidan juga berperan memfasilitasi akses telekonseling dan memantau kepatuhan rujukan pasien. Di sejumlah wilayah, langkah cepat bidan disebut mampu mencegah dampak jangka panjang terhadap ibu dan anak.

Kampanye Publik Kurangi Stigma

Langkah ketiga yang disiapkan Kemenkes ialah memperkuat kampanye publik terkait kesehatan mental ibu. Kampanye tersebut akan menampilkan kisah nyata bidan yang berhasil membantu ibu dengan masalah kesehatan jiwa agar stigma di masyarakat dapat berkurang.

Imran menilai kontribusi bidan bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi juga bagian dari pendekatan kemanusiaan dalam mendampingi ibu dan keluarga menghadapi tekanan psikologis selama kehamilan dan setelah persalinan.

"Seorang bidan yang mendengarkan, memberi ruang bagi ibu untuk bercerita, dan menghubungkan keluarga dengan dukungan yang tepat, seringkali mengubah arah hidup ibu dan anaknya," katanya.

Kemenkes juga menyiapkan sejumlah inovasi praktis untuk mendukung layanan kesehatan jiwa maternal, seperti integrasi hasil skrining ke rekam medis elektronik dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pemanfaatan telekonseling, hingga indikator kinerja puskesmas yang memasukkan cakupan skrining kesehatan jiwa sebagai ukuran keberhasilan layanan.

"Inovasi praktis juga penting. Integrasi hasil skrining ke rekam medis elektronik dan buku KIA untuk memudahkan monitoring, pemanfaatan telekonseling, insentif, serta indikator kinerja puskesmas yang memasukkan cakupan skrining dan persentase tindak lanjut sebagai ukuran keberhasilan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news