
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Upaya pencegahan anemia dan stunting pada remaja pelajar di Kabupaten Gunungkidul kembali diperkuat melalui program Gerakan Serentak Aksi Bergizi yang menyasar sekolah tingkat SMP hingga SMA sederajat. Program ini difokuskan pada remaja putri sebagai kelompok yang paling rentan mengalami kekurangan zat besi.
Langkah tersebut dijalankan oleh Dinas Kesehatan Gunungkidul sebagai bagian dari strategi membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah. Kegiatan dilakukan secara berkala di sekolah dan madrasah dengan melibatkan berbagai pihak di lingkungan pendidikan.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono, menyebutkan bahwa anemia pada remaja dapat berdampak langsung pada konsentrasi belajar dan prestasi akademik. Kondisi ini terutama banyak dialami oleh remaja putri akibat kurangnya asupan zat besi.
“Anemia dapat menurunkan konsentrasi belajar dan prestasi di sekolah, terutama pada remaja putri yang sangat rentan mengalami anemia akibat kekurangan zat besi,” kata Ismono, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa gerakan ini memiliki empat pilar utama, yakni sarapan bersama dengan menu bergizi seimbang, konsumsi tablet tambah darah (TTD) sekali dalam seminggu bagi remaja putri, aktivitas fisik rutin, serta edukasi gizi berdasarkan pedoman Isi Piringku.
Menurut Ismono, pemberian tablet tambah darah menjadi langkah penting untuk menjaga cadangan zat besi dalam tubuh remaja putri. Sementara itu, aktivitas fisik dan pola makan sehat turut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang lebih sehat dan bebas stunting.
“Melalui gerakan ini kami ingin membangun kebiasaan multi-sektor agar siswa memiliki kesadaran terhadap pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat,” ujarnya.
Sejumlah sekolah di Gunungkidul telah menjadi lokasi pelaksanaan program ini. Ke depan, Dinkes menargetkan seluruh sekolah dan madrasah tingkat SMP dan SMA sederajat dapat melaksanakan Aksi Bergizi secara rutin setiap Jumat.
Data Dinkes Gunungkidul menunjukkan tren penurunan angka stunting dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting tercatat 23,5 persen pada 2022, turun menjadi 22,2 persen pada 2023, kemudian 19,7 persen pada 2024.
Pada 2025, angka tersebut kembali turun menjadi 16,62 persen. Sementara itu, data per Februari 2026 mencatat terdapat 4.453 anak mengalami stunting dengan prevalensi 15,72 persen.
Penurunan ini menjadi dasar penguatan program pencegahan di tingkat sekolah, terutama untuk menjaga tren positif agar tetap berlanjut melalui edukasi gizi dan kebiasaan makan sehat di kalangan pelajar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































