
Ibadah haji oleh jemaah haji - Foto ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Tidak sedikit jamaah haji yang mengaku mengalami perasaan rindu mendalam terhadap suasana ibadah di Tanah Suci setelah kembali ke Indonesia. Kondisi yang dikenal sebagai sindrom pasca-haji ini dinilai sebagai respons psikologis yang wajar setelah seseorang menjalani pengalaman spiritual yang sangat berkesan.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog menjelaskan pengalaman haji dan umrah melibatkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari emosi, spiritualitas, relasi sosial, hingga pencarian makna hidup. Karena itu, pengalaman selama berada di Makkah dan Madinah dapat meninggalkan jejak emosional yang kuat dalam memori seseorang.
"Dalam perspektif bio-neuropsikologi, haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek manusia, emosi, spiritualitas, hubungan sosial, makna hidup, serta pengalaman sensorik yang sangat kuat," kata Efnie di Jakarta, Selasa.
Pranata Humas (PR) Asosiasi Neuropsikologi Indonesia-Himpunan Psikologi Indonesia itu menjelaskan bahwa jamaah haji maupun umrah umumnya merasakan kedekatan spiritual yang intens dengan Tuhan selama berada di Tanah Suci. Selain itu, lingkungan yang mendukung ibadah dan kebersamaan dengan jutaan umat Muslim dari berbagai negara turut memperkuat pengalaman emosional tersebut.
Menurut Efnie, pengalaman spiritual yang mendalam itu tersimpan kuat dalam sistem limbik yang berperan sebagai pusat emosi serta hippocampus yang berfungsi sebagai pusat memori di otak. Karena itu, ketika jamaah kembali ke rutinitas sehari-hari, muncul proses perbandingan antara kondisi saat ini dengan pengalaman yang pernah dirasakan selama berhaji.
"Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari yang penuh tuntutan pekerjaan, kemacetan, tagihan, konflik keluarga, atau tekanan sosial, otak membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan di Tanah Suci," ujarnya.
Rindu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa kehilangan, kerinduan, hingga keinginan untuk kembali mengenang momen-momen selama beribadah di Tanah Suci. Tidak sedikit jamaah yang kembali melihat foto maupun video saat berada di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi sebagai bentuk pelepas kerinduan.
Selain itu, sebagian jamaah juga dapat merasakan kesedihan ketika mengenang perjalanan ibadahnya. Bahkan, ada yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan rutinitas harian yang kembali terasa padat, sibuk, dan penuh tekanan setelah pulang ke tanah air.
"Fenomena ini secara psikologis mirip dengan proses re-entry adjustment, yaitu penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna," kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha tersebut.
Faktor yang Memicu Sindrom Pasca-Haji
Efnie mengungkapkan terdapat sejumlah faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami sindrom pasca-haji. Salah satunya adalah tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama menjalankan ibadah haji maupun umrah. Semakin mendalam pengalaman spiritual yang dirasakan, semakin kuat pula jejak memori emosional yang terbentuk.
Faktor lain adalah kondisi psikologis seseorang sebelum berangkat ke Tanah Suci. Bagi sebagian orang, ibadah haji menjadi ruang untuk beristirahat secara mental dari berbagai tekanan kehidupan. Saat kembali ke lingkungan sehari-hari dan menghadapi persoalan yang sama, kontras emosional yang muncul dapat terasa lebih kuat.
Selain itu, individu yang memiliki karakter reflektif dan emosional juga dinilai lebih rentan mengalami kerinduan mendalam setelah pulang dari Tanah Suci. Mereka cenderung lebih banyak merenung, memiliki empati tinggi, dan sensitif terhadap pengalaman spiritual yang dialaminya.
Perubahan besar dalam kehidupan juga dapat menjadi pemicu munculnya sindrom pasca-haji. Menurut Efnie, kondisi seperti kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, memasuki fase krisis paruh baya, atau mengalami perubahan signifikan dalam hidup dapat membuat seseorang lebih mudah mencari makna hidup melalui pengalaman spiritual yang diperoleh saat berhaji.
"Sedang berada dalam fase pencarian makna hidup. Misalnya setelah kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, krisis usia paruh baya, atau perubahan besar dalam kehidupan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

2 hours ago
4
















































