Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Ini Kata Pemerintah

3 hours ago 1

Newswire

Newswire Senin, 10 Agustus 2026 20:52 WIB

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Ini Kata Pemerintah

Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 dinilai semakin berkualitas karena berjalan beriringan dengan penurunan jumlah penduduk miskin dan tingkat pengangguran. Pemerintah menilai perkembangan tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga mulai memberikan dampak terhadap kondisi sosial masyarakat.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan penurunan kemiskinan dan pengangguran menjadi salah satu indikator yang memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya solid secara angka, tetapi juga semakin berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Kemiskinan Turun 430.000 Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Di sisi sosial, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang. Angka tersebut turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 23,36 juta orang.

Penurunan juga terlihat pada tingkat pengangguran. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 berada di angka 4,68 persen atau turun 0,08 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi, penurunan jumlah penduduk miskin, dan berkurangnya tingkat pengangguran tersebut menjadi dasar pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 semakin berkualitas.

Konsumsi Rumah Tangga Tetap Tumbuh

Qodari menjelaskan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2026 ditopang sejumlah komponen pembentuk PDB. Salah satunya konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen secara tahunan.

Menurut Qodari, pertumbuhan konsumsi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga. Kondisi itu antara lain didukung kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi serta pelaksanaan sejumlah program prioritas.

Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga masih menunjukkan kinerja positif. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen secara tahunan.

Pertumbuhan PMTB tersebut, menurut Qodari, menunjukkan aktivitas investasi tetap kuat meski perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian.

“Dari sisi investasi, pemerintah terus mendorong penanaman modal pada sektor hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah juga berkomitmen menuntaskan berbagai hambatan investasi melalui Satuan Tugas Debottlenecking,” katanya.

Pemerintah Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun

Memasuki semester II 2026, pemerintah berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi melalui sejumlah kebijakan. Salah satunya Paket Stimulus Ekonomi Semester II dengan nilai mencapai Rp26,34 triliun.

Paket tersebut mencakup bantuan pangan bagi sekitar 33,4 juta penerima manfaat. Selain itu, pemerintah memberikan insentif tarif transportasi serta menjalankan program magang nasional dan pelatihan vokasi bagi angkatan kerja muda.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga pertumbuhan sekaligus memperkuat daya beli dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi dinamika ekonomi pada semester II 2026.

Dalam jangka panjang, pemerintah akan memperkuat sektor-sektor produktif melalui hilirisasi industri. Penguatan juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan dan energi, transformasi digital, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Seluruh langkah tersebut akan diiringi dengan kebijakan yang menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya saing nasional, serta meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan para investor,” kata Qodari.

Dengan pertumbuhan ekonomi 5,29 persen pada triwulan II 2026, pemerintah kini berupaya menjaga agar momentum tersebut berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Penurunan jumlah penduduk miskin dan TPT menjadi bagian dari indikator yang digunakan untuk melihat dampak pertumbuhan terhadap masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news