
Sebuah helikopter mengambil air dari Ranu Regulo untuk melakukan water bombing di karhutla TNBTS, Sabtu (8/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Lumajang\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dapat dilaksanakan. Kondisi itu terjadi karena awan konvektif yang menjadi syarat utama penyemaian garam belum terbentuk di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.
Penundaan tersebut terjadi ketika laporan kebakaran hutan dan lahan menunjukkan peningkatan di berbagai daerah pada periode 7–10 Agustus 2026. Sebaran karhutla tercatat meliputi sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, Jawa, Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan pelaksanaan OMC diperkirakan belum memungkinkan setidaknya dalam 10 hari ke depan. Namun, waktu tersebut tetap bergantung pada perkembangan pertumbuhan awan di masing-masing wilayah.
"Kondisi setiap daerah beda-beda, tapi kami pantau terus sampai ada potensi (awan) untuk OMC," kata dia saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Awan Konvektif Jadi Syarat OMC
OMC merupakan upaya untuk meningkatkan potensi hujan melalui penyemaian garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan. Proses tersebut dilakukan menggunakan pesawat khusus dan berbasis data ilmiah.
Pelaksanaan OMC melibatkan tim ahli dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI Angkatan Udara. Namun, metode tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena keberadaan awan konvektif menjadi salah satu syarat utama dalam proses penyemaian.
Karena itu, BMKG masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan awan di setiap daerah terdampak. OMC baru dapat dilakukan ketika terdapat potensi awan yang memenuhi kondisi untuk penyemaian.
Situasi tersebut menjadi perhatian di tengah meluasnya karhutla yang dilaporkan BNPB dalam beberapa hari terakhir. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melaporkan sejumlah kejadian kebakaran dengan luasan yang cukup besar di berbagai wilayah.
Karhutla Bromo Capai 520 Hektare
Di Jawa Timur, karhutla berdampak signifikan terhadap kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga Minggu (9/8) malam, total luas lahan yang terbakar mencapai 520 hektare.
Kondisi tersebut membuat otoritas taman nasional menutup total seluruh pintu masuk wisata sejak Sabtu (8/8). Penutupan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan.
Karhutla juga terjadi di Gunung Watangan, Kabupaten Jember. Kebakaran menghanguskan 6,5 hektare lahan Perhutani di wilayah tersebut.
Di Jawa Barat, kebakaran melalap dua hektare lahan di Subang. Sementara di Jawa Tengah, karhutla membakar dua hektare lahan di Jepara serta tiga hektare lahan di Banyumas yang terbakar akibat pembakaran sampah.
Puluhan Hektare Lahan Terbakar di Sulawesi
Sebaran karhutla juga terjadi di Pulau Sulawesi. Di Pulau Bakalan, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, kebakaran meluas hingga membakar 72,4 hektare lahan.
Kebakaran lainnya tercatat di Gunung Batu Pongki, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, dengan luas lahan terbakar mencapai tiga hektare. Di Sulawesi Selatan, tim gabungan masih melakukan pemadaman terhadap api yang membakar 15 hektare lahan di Tana Toraja.
Sementara itu, kebakaran di luar Pulau Jawa dan Sulawesi juga tercatat di sejumlah daerah. Di Halmahera Timur, Maluku Utara, sebanyak 23 hektare lahan terbakar yang tersebar di tiga kecamatan.
Karhutla juga menghanguskan dua hektare lahan di Sorong, Papua Barat Daya. Di Belitung Timur, Bangka Belitung, luas lahan terbakar mencapai 2,29 hektare, sedangkan di Aceh Besar, Aceh, tercatat satu hektare lahan terbakar.
Penanganan Karhutla Tetap Dilakukan
Meski OMC belum dapat dilaksanakan karena belum terdapat awan konvektif yang memenuhi syarat, BNPB memastikan penanganan kebakaran tetap dimaksimalkan di daerah terdampak.
Abdul Muhari mengatakan tim petugas gabungan di berbagai daerah terus disiagakan untuk menangani sekaligus memitigasi penyebaran api. Penanganan dilakukan dengan memanfaatkan sejumlah metode dan peralatan sesuai kondisi di lapangan.
Peralatan penyiraman darat dan truk tangki air disiagakan untuk mendukung proses pemadaman. Petugas juga membuat sekat bakar untuk membantu mengendalikan pergerakan api agar tidak semakin meluas.
Selain penanganan dari darat, upaya pemadaman juga dilakukan dari udara. Tim gabungan menyiagakan helikopter untuk melakukan penyiraman udara menggunakan metode waterboombing.
Dengan langkah tersebut, penanganan karhutla tetap berjalan sembari BMKG memantau perkembangan kondisi atmosfer di masing-masing wilayah. Jika pertumbuhan awan memenuhi potensi yang diperlukan, OMC dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan terdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

4 hours ago
1

















































