Selat Hormuz Belum Dibuka, Iran-Oman Masih Bahas Jalur Aman

1 hour ago 1

Newswire

Newswire Senin, 10 Agustus 2026 18:37 WIB

Harianjogja.com, ISTANBUL— Iran menyebut perundingan dengan Oman mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz berlangsung lancar dan konstruktif. Kedua negara telah mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, tetapi masih membahas sejumlah poin teknis dalam pernyataan bersama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan konsultasi antara Teheran dan Muscat masih berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers mingguan dan dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.

“Telah tercapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, dan konsultasi masih berlangsung untuk menyelesaikan sejumlah poin teknis dalam pernyataan bersama,” kata Baqaei.

Menurut dia, sejumlah mekanisme akan dibentuk untuk memastikan keselamatan lalu lintas maritim, melindungi lingkungan, serta menangani “kejahatan maritim.”

“Ditegaskan pula bahwa biaya dan tarif yang relevan akan dikenakan kepada kapal akan dikenai biaya dan tarif terkait,” tambahnya.

Iran Tetapkan Syarat Pembukaan Selat Hormuz

Baqaei mengatakan pembicaraan antara Teheran dan Muscat diarahkan untuk menghasilkan kesepahaman yang berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah menjamin keamanan penuh di Selat Hormuz.

Dia menegaskan pembahasan dengan Oman merupakan proses bilateral yang ditujukan untuk menentukan jalur aman bagi pelayaran internasional. Menurutnya, pembicaraan tersebut tidak berkaitan dengan perbedaan politik.

Namun, Iran tetap menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran.

Salah satu tuntutan tersebut adalah penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pernyataan itu disampaikan ketika pembicaraan mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz masih menghadapi kebuntuan.

Kesepakatan Iran-AS Terhenti

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan terbuka sekaligus membuka jalan menuju perundingan untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas.

Nota kesepahaman itu mengatur pemulihan secara bertahap pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Namun, pelaksanaannya kemudian terhenti setelah Iran dan AS saling menuduh telah melanggar ketentuan yang telah disepakati.

Di tengah kebuntuan tersebut, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Mike Waltz mengeklaim Iran diduga lebih memprioritaskan persoalan keuangan dalam negosiasi dengan AS.

Menurut Waltz, persoalan tersebut terutama berkaitan dengan pencairan aset Iran yang dibekukan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington bernegosiasi dengan Teheran dengan tempo yang setengah hati. Pada saat yang sama, kondisi ekonomi Iran disebut memburuk.

“Warga Iran saat ini lebih takut kepada Menteri Keuangan (Scott) Bessent daripada Menteri Perang (Pete) Hegseth. Ketika mereka datang ke meja perundingan dengan negosiator kami, mereka berbicara tentang uang, uang, uang, karena mereka akan menanggung pemboman. Mereka tidak peduli dengan militer mereka,” kata Waltz kepada Fox News.

Waltz menambahkan bahwa kondisi tersebut sesuai dengan maksud Trump ketika berbicara mengenai tekanan terhadap Teheran.

“Hal itu, ditambah dengan blokade, pada akhirnya akan membuat warga Iran bergerak,” kata Waltz.

Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran pada 18 Juni tidak lagi berlaku.

Setelah pernyataan tersebut, pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menjelaskan serangan tersebut merupakan respons terhadap provokasi terhadap kapal-kapal sipil yang berlayar melalui Selat Hormuz.

Militer Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di sejumlah negara Timur Tengah.

Teheran juga menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Di tengah situasi tersebut, pembicaraan Iran dan Oman mengenai jalur aman pelayaran terus berlangsung. Meski telah mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, Selat Hormuz masih belum dibuka kembali karena Iran tetap mensyaratkan dipenuhinya tuntutan terhadap Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news