KLIKPOSITIF- Mes personel polisi di Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, digegerkan dengan penemuan jasad seorang pria yang diketahui berprofesi sebagai guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Sabtu (27/6/2026) dini hari.
Kapolres Pesisir Selatan AKBP Derry Indra melalui Kasat Reskrim IPTU Ai Am’ar Faradhyba membenarkan adanya penemuan tersebut. Korban diketahui berinisial IPP (32), warga Kecamatan IV Jurai yang juga merupakan guru PPPK di salah satu SD di daerah setempat.
Kasat Reskrim menjelaskan, korban ditemukan sekitar pukul 03.00 WIB di salah satu kamar mes personel Polres Pesisir Selatan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
“Memang benar ditemukan seorang laki-laki meninggal dunia di kamar salah satu personel Polres Pesisir Selatan. Saat ditemukan sekitar pukul 03.00 WIB, kondisinya sudah terbujur kaku,” ungkapnya dikonfirmasi Katasumbar, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, korban diketahui memiliki hubungan pertemanan dengan penghuni kamar mes tersebut. Sebelum kejadian, korban disebut menumpang beristirahat di kamar personel tersebut saat pemilik kamar sedang menjalankan tugas piket di Polres Pesisir Selatan.
Saat personel yang bersangkutan kembali usai menjalankan tugas, korban ditemukan sudah dalam keadaan tidak bergerak.
“Korban sebelumnya menumpang beristirahat di kamar tersebut. Saat anggota kembali dari piket, korban sudah ditemukan terbujur kaku. Kemudian meminta bantuan personel lain untuk membawa korban ke rumah sakit, namun setelah diperiksa korban dinyatakan telah meninggal dunia,” terangnya.
Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Proses otopsi juga telah dilakukan dan pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan menunggu hasil otopsi. Apabila ada riwayat penyakit ataupun hal lainnya, nanti akan dijelaskan secara ilmiah melalui hasil medis,” jelasnya.
Ia menegaskan, kepolisian tetap akan mendalami kasus tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana.
“Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang dicurigai menjadi penyebab kematian. Namun apabila nantinya ditemukan unsur kesengajaan atau tindak pidana, tentu akan kami tindaklanjuti sesuai fakta yang ada,” tegasnya.
Terpisah, pihak keluarga korban menilai terdapat sejumlah kejanggalan terkait meninggalnya IPP atau Ingga Pratama Putra. Hal tersebut disampaikan orangtua IPP, Asna (56), Senin (29/6/2026).
Asna mengaku, keluarga pertama kali mendapat informasi dari pihak kepolisian pada Minggu (28/6/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Namun saat tiba di lokasi, menurutnya, sejumlah fasilitas dan kendaraan sudah berada di sekitar tempat kejadian.
“Saat kami diberitahu oleh dua orang dari pihak kepolisian dan datang ke lokasi, kami melihat sudah ada mobil Inafis Polri, ambulans dan kendaraan kepolisian yang siaga di lokasi. Menurut kami ini menjadi salah satu hal yang menimbulkan pertanyaan,” ujarnya kepada wartawan.
Selain itu, ia juga mengaku mempertanyakan kondisi lokasi kejadian yang menurutnya belum dipasangi garis polisi saat keluarga tiba.
“Intinya, saat keluarga datang ke mes polisi untuk melihat Ingga, menurut kami semuanya sudah seperti dipersiapkan,” katanya.
Pihak keluarga juga mengaku awalnya menerima informasi bahwa korban hanya mengalami pingsan dan diminta datang untuk melihat kondisinya di mes polisi.
“Pada Minggu sekitar pukul 04.00 WIB kami diberitahu oleh aparat kepolisian bahwa Ingga pingsan. Namun setelah sampai di lokasi ternyata korban sudah meninggal dunia,” ungkapnya.
Kuasa hukum keluarga IPP, Dr Rodi Chandra, menyatakan pihaknya akan memperjuangkan hak keluarga untuk memperoleh keadilan serta mengungkap kebenaran atas kasus tersebut.
“Kami akan mengawal dan memperjuangkan kasus ini, karena kami melihat dan menilai ada banyak kejanggalan terkait meninggalnya Ingga Pratama Putra,” tutupnya.

5 hours ago
1


















































