Menkes Targetkan Transplantasi Hati Tersedia di 34 Provinsi

4 hours ago 3

Menkes Targetkan Transplantasi Hati Tersedia di 34 Provinsi

Dokter dan pasien. - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan layanan transplantasi hati di Indonesia dapat berkembang hingga menjangkau 34 provinsi. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses pengobatan bagi pasien penyakit hati sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat yang selama ini harus menjalani transplantasi di luar negeri.

Saat ini, layanan transplantasi hati masih sangat terbatas. Menurut Budi, prosedur tersebut baru dapat dilakukan di dua kota dengan total empat rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan transplantasi hati. Kondisi ini membuat banyak pasien Indonesia memilih mencari layanan kesehatan ke luar negeri.

"Banyak orang-orang Indonesia yang ditransplant, yang terkena, kemudian akhirnya ke luar negeri. Karena saya juga baru tahu, bahwa yang bisa transplant hati itu baru 2 kota, 4 rumah sakit," kata Budi di Jakarta, Selasa.

Budi menjelaskan penyakit hati menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Secara global, terdapat sekitar 300 juta orang yang hidup dengan penyakit hati dan sekitar dua juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit tersebut.

Di Indonesia, jumlah penderita penyakit hati kronis diperkirakan mencapai 70 juta orang. Namun, nilai klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk penanganan penyakit hati masih relatif rendah, yakni sekitar Rp1 triliun. Salah satu penyebabnya adalah sejumlah layanan terkait penyakit hati, termasuk transplantasi hati, belum sepenuhnya masuk dalam cakupan layanan yang dibayarkan BPJS Kesehatan.

"Misalnya kayak transplant hati. Jadi hati itu kalau udah rusak, salah satu caranya harus ditransplant," katanya.

Untuk mempercepat pemerataan layanan transplantasi hati di Indonesia, Kementerian Kesehatan menugaskan Rumah Sakit Fatmawati sebagai rumah sakit pengampu. Rumah sakit tersebut akan berperan dalam mendampingi pengembangan kapasitas layanan transplantasi hati di berbagai daerah hingga menjangkau seluruh provinsi.

Selain penguatan layanan transplantasi, Budi menilai masih ada sejumlah tantangan lain yang harus diselesaikan. Di antaranya terkait harga obat yang dinilai masih menjadi persoalan serta pentingnya memperluas skrining penyakit hati di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat deteksi dini dan tata laksana penyakit hati sehingga pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat sebelum memasuki kondisi yang lebih berat.

Dalam peringatan Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026, Budi mengatakan hati merupakan organ yang memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan regenerasi.

Ia menjelaskan bahwa hati atau liver mampu tumbuh kembali meskipun sebagian organ telah diangkat. Kemampuan regeneratif tersebut membuat peluang kesembuhan pasien seharusnya dapat lebih ditingkatkan apabila penyakit terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Untuk menjaga kesehatan hati, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, serta rutin melakukan aktivitas fisik agar terhindar dari obesitas.

Menurut Budi, obesitas dapat memicu terjadinya fatty liver atau perlemakan hati yang berisiko berkembang menjadi kanker hati. Selain itu, kerusakan hati juga dapat dipicu oleh infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C, konsumsi alkohol, serta berbagai faktor risiko lain yang berkaitan dengan gaya hidup.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news