Malioboro Bebas Bentor pada 2028, 900 Becak Listrik Disiapkan

11 hours ago 4

Malioboro Bebas Bentor pada 2028, 900 Becak Listrik Disiapkan

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo (tengah) menghancurkan becak motor dengan menggunakan palu dalam penyerahan Becak Listrik PT KAI dan Penghancuran Becak Motor di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub Kota Jogja pada Rabu (3/6/2026).(Stefani Yulindriani)

JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menargetkan kawasan Malioboro bebas becak motor (bentor) dalam dua tahun ke depan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan kawasan Sumbu Filosofi sebagai kawasan rendah emisi (Low Emission Zone).

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengatakan bentor yang masih menggunakan bahan bakar fosil secara bertahap akan digantikan dengan becak listrik. Hingga kini, menurutnya ada 260 unit becak listrik telah beroperasi di Kota Jogja. Pihaknya pun menargetkan becak listrik mencapai 900 unit pada 2028.

"Saya berharap 900 unit itu bisa dipercepat, paling lambat dalam waktu dua tahun sudah tergantikan seluruhnya. Kami akan mengusulkan anggaran melalui APBD Perubahan 2026 dan APBD Murni 2027 untuk membeli 500 unit sekaligus. Kalau hanya mengandalkan bantuan pihak ketiga atau CSR, prosesnya akan lambat," katanya dalam Penyerahan Becak Listrik PT KAI dan Penghancuran Becak Motor di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub Kota Jogja pada Rabu (3/6/2026).

Menurut Hasto, percepatan konversi bentor menjadi becak listrik penting dilakukan untuk mengurangi emisi kendaraan di kawasan wisata sekaligus memperkuat citra Jogja sebagai kota budaya yang ramah lingkungan.

Untuk memastikan program berjalan efektif, setiap pengemudi yang menerima becak listrik diwajibkan menyerahkan bentor lama untuk dimusnahkan. Langkah ini ditempuh agar tidak muncul armada bentor baru yang beroperasi di kawasan wisata.

Sementara itu, Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menegaskan pembatasan kendaraan berbahan bakar minyak di kawasan Malioboro akan diperketat mulai akhir November 2026.

"Mulai akhir November, bentor tidak diperkenankan lagi melintas di Malioboro. Kebijakan bajaj juga sama, tidak boleh melintas dan batas operasionalnya akan kami koordinasikan dengan pemerintah kabupaten dan kota," ujarnya.

Menurut Erni, ke depan kawasan Malioboro hanya akan dilalui kendaraan non-BBM, kendaraan darurat, serta transportasi publik resmi seperti Trans Jogja yang secara bertahap akan diperkuat dengan armada bus listrik.

Selain itu, Dishub DIY juga berencana memasang portal di sejumlah jalan sirip Malioboro pada akhir tahun ini setelah melakukan koordinasi dengan warga setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pengaturan lalu lintas dan penerapan kawasan rendah emisi secara lebih optimal.

Di sisi lain, Kepala Dishub Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, menjelaskan pengawasan armada dilakukan melalui sistem pendataan ketat berbasis koperasi. Bantuan becak listrik hanya diberikan kepada pengemudi yang terdaftar sehingga jumlah armada dapat dikendalikan.

"Dari sekitar 780 armada yang beroperasi dari kawasan Teteg hingga Titik Nol Kilometer, sekitar 60 persen pengemudinya ber-KTP Kota Jogja, sedangkan sisanya berasal dari Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul," katanya.

Transformasi transportasi ramah lingkungan tersebut juga mendapat dukungan dari PT KAI Daop 6 Jogja. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT KAI menyerahkan bantuan 50 unit becak listrik dengan nilai hampir Rp1 miliar.

Kepala PT KAI Daop 6 Jogja, Bambang Respationo mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan mendukung program pengurangan emisi yang dijalankan Pemda DIY dan Pemkot Jogja.

"Kami mengalokasikan dana ini agar program PT KAI selaras dengan Pemprov DIY dan Pemkot Jogja dalam mendukung ekosistem ramah lingkungan. Tidak hanya becak listrik, di internal stasiun kami juga sudah mulai beralih menggunakan solar cell," ujarnya.

Sementara Jakio, 60, seorang pengemudi yang biasa mangkal di kawasan Malioboro, mengaku siap beralih ke becak listrik karena lebih ringan digunakan dibanding bentor maupun becak kayuh.

"Kalau ditukar tanpa bayar ya saya mau sekali. Sudah dicoba dan rasanya enak, tidak capek karena ada bantuan listriknya. Di usia tua begini sangat menghemat tenaga," katanya.

Ia berharap seluruh pengemudi becak dapat merasakan manfaat yang sama sehingga tetap bisa mencari nafkah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan nyaman bagi wisatawan di kawasan Malioboro. (Adv)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news