
RB Dwi Wahyu/Instagram:Pdiperjuangan
Harianjogja.com, JOGJA—DPRD DIY melalui Komisi D mulai memperluas keterlibatan publik akademik dalam penguatan konsep Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang selama ini dinilai masih perlu pengembangan, terutama pada aspek implementasi di ruang kelas dan lingkungan pendidikan. Kolaborasi ini diarahkan agar kurikulum berbasis keistimewaan Yogyakarta tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga lebih operasional dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu, menegaskan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam merumuskan arah pengembangan PKJ, termasuk dalam menyusun desain kurikulum yang lebih detail. DPRD DIY, kata dia, membuka ruang dialog yang lebih intens dengan mahasiswa melalui Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DIY untuk memperkuat gagasan tersebut.
"Ke depan kami berharap ada harmonisasi kurikulum khas Yogyakarta dengan melibatkan perguruan tinggi. Mahasiswa dari Forum BEM DIY kami harapkan menyusun konsep yang lebih rinci untuk dibahas bersama DPRD dan perangkat daerah," katanya, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, tantangan pendidikan karakter di DIY tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Faktor keluarga dan lingkungan sosial juga berperan penting dalam membentuk perilaku generasi muda, termasuk dalam menekan persoalan kenakalan remaja yang masih menjadi perhatian bersama.
Di sisi lain, Dwi menyoroti kesiapan sumber daya manusia (SDM) pendidik yang menjadi ujung tombak implementasi PKJ. Ia menilai masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami substansi keistimewaan DIY karena pembelajaran masih dominan mengacu pada kurikulum nasional.
"Konsekuensinya harus ada SDM yang mampu mengeksplorasi keistimewaan dalam pembelajaran. Hari ini guru-guru belum tentu memahami keistimewaan karena masih terkonsep kurikulum nasional. Kalau SDM sudah ada, kompetensinya harus ditingkatkan melalui bimtek maupun pendidikan yang tentu membutuhkan dukungan anggaran," tandasnya.
Penguatan kapasitas tenaga pendidik ini, lanjutnya, menjadi kunci agar PKJ tidak berhenti pada tataran teori, melainkan benar-benar hadir dalam proses pembelajaran sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa penguatan ini penting untuk menjaga posisi DIY sebagai Kota Pelajar yang tidak hanya menjadi tujuan pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan karakter berbasis budaya.
Sementara itu, Forum BEM DIY mendorong agar implementasi PKJ diperluas hingga perguruan tinggi melalui pendekatan yang lebih kontekstual. Koordinator Umum Forum BEM DIY, Faturahman Djaguna, mengusulkan konsep sinergi Kampus, Kampung, dan Kraton (3K) sebagai model penguatan pendidikan berbasis budaya.
"Mahasiswa yang datang ke Yogyakarta tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memahami, menjaga, dan mengembangkan nilai-nilai Kejogjaan selama berada di Daerah Istimewa Yogyakarta," ujarnya.
Ia menilai konsep tersebut penting agar PKJ tidak berhenti sebagai materi akademik, tetapi juga menjadi praktik sosial yang hidup di masyarakat. Menurutnya, Yogyakarta sebagai kota pendidikan, budaya, dan pariwisata membutuhkan pedoman pendidikan yang mampu menyatukan ruang akademik dan kehidupan sosial.
Forum BEM DIY juga menilai perlu adanya penguatan regulasi agar PKJ dapat diimplementasikan secara lebih luas hingga jenjang perguruan tinggi, sehingga nilai keistimewaan benar-benar terinternalisasi dalam ekosistem pendidikan.
Dari sisi pemerintah daerah, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, menegaskan bahwa PKJ sejauh ini telah diterapkan melalui pendidikan karakter berbasis budaya di semua jenjang, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi.
"Nilai-nilai budaya diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran sehingga pembentukan karakter berlangsung secara berkelanjutan. Namun keberhasilannya tidak hanya bergantung pada sekolah, melainkan juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
3

















































