
Ilustrasi mimisan/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Mimisan kerap dianggap sebagai masalah ringan yang dipicu udara kering atau kebiasaan mengorek hidung. Namun, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) mengingatkan bahwa mimisan yang terjadi berulang bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.
Dokter spesialis THT dari Max Smart Hospital Saket, Dr. Sumit Mrig, menjelaskan bahwa mimisan atau dalam istilah medis disebut epistaksis merupakan kondisi yang umum terjadi. Meski demikian, frekuensi dan tingkat keparahannya perlu diperhatikan.
“Jika mimisan terjadi berulang atau dalam jumlah banyak, itu bisa menjadi indikasi adanya penyakit yang mendasari,” ujarnya seperti dikutip Antara dari Hindustan Times, Selasa (30/6/2026).
Pada anak-anak, penyebab paling umum mimisan adalah kebiasaan mengorek hidung. Bagian depan sekat hidung memiliki banyak pembuluh darah kecil yang sangat sensitif, sehingga mudah mengalami iritasi dan berdarah. Namun, pada kondisi tertentu seperti talasemia, anemia sel sabit, atau gangguan pembekuan darah, mimisan bisa terjadi lebih sering dan dalam jumlah lebih banyak.
Dokter menyarankan orang tua untuk tidak mengabaikan kondisi ini. Jika mimisan sering terjadi, anak sebaiknya diperiksakan untuk memastikan tidak ada penyakit lain yang mendasari. Dalam kasus ringan, cukup dengan menghentikan kebiasaan mengorek hidung dan menjaga kelembapan rongga hidung. Namun pada kondisi tertentu, tindakan medis seperti kauterisasi mungkin diperlukan.
Sementara itu, pada orang dewasa hingga lanjut usia, mimisan sering berkaitan dengan kondisi yang lebih kompleks. Salah satu penyebab yang paling umum adalah hipertensi yang tidak terkontrol.
Tekanan darah tinggi dapat membuat pembuluh darah kecil di hidung lebih mudah pecah. Pada lansia, perdarahan bahkan bisa berasal dari bagian belakang hidung yang lebih sulit ditangani dan berisiko membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Selain hipertensi, mimisan berulang juga dapat menjadi tanda gangguan serius seperti penyakit hati, termasuk sirosis hati, serta gagal ginjal stadium akhir. Kedua kondisi tersebut dapat mengganggu produksi faktor pembekuan darah sehingga perdarahan lebih mudah terjadi dan sulit dihentikan.
Penggunaan obat pengencer darah seperti warfarin, aspirin, maupun clopidogrel juga meningkatkan risiko mimisan, terutama pada pasien dengan riwayat penyakit jantung atau setelah prosedur medis tertentu.
Dokter menegaskan, masyarakat tidak boleh menganggap remeh mimisan yang terjadi berulang, apalagi jika disertai gejala lain seperti perdarahan hebat, sulit berhenti, atau muncul tanpa penyebab yang jelas.
Pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab utama, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































