Jumali Selasa, 30 Juni 2026 16:57 WIB

Anak-anak menonton tayangan melalui gadget. - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Industri kreator konten yang selama ini identik dengan popularitas dan penghasilan besar kini menghadapi realitas baru yang jauh lebih kompetitif. Ledakan jumlah kreator di berbagai platform media sosial membuat persaingan semakin ketat, sementara skema monetisasi yang terus berubah justru mempersempit peluang pendapatan, termasuk bagi kreator besar di Indonesia.
Pertumbuhan industri ini memang berlangsung sangat cepat. Laporan Goldman Sachs 2023 mencatat sekitar 50 juta orang di dunia telah memperoleh penghasilan dari media sosial, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 80 juta pada 2026. Dengan laju pertumbuhan tahunan 12–18 persen hingga 2028, “kue ekonomi” digital harus dibagi ke semakin banyak pelaku, sehingga pendapatan rata-rata per kreator cenderung tertekan.
Di sisi lain, ketimpangan pendapatan di industri ini juga semakin nyata. Data NeoReach menunjukkan pada 2024 hampir separuh kreator global masih berpenghasilan di bawah US$15.000 per tahun, sementara hanya sebagian kecil yang mampu menembus penghasilan enam digit. Tren ini diperkirakan semakin tajam pada 2025–2026, ketika mayoritas kreator tetap berada pada kategori pendapatan rendah hingga menengah.
Fenomena ini juga terlihat dari pengalaman kreator dengan jutaan pengikut yang tetap menghadapi pendapatan tidak stabil. Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa jumlah pengikut dan penayangan kini tidak lagi menjadi jaminan utama penghasilan, karena algoritma serta model pembagian pendapatan platform terus berubah.
Perubahan kebijakan platform turut memperburuk situasi. TikTok mengubah skema dana kreator menjadi program berbasis performa dengan syarat ketat, seperti jumlah pengikut dan durasi video. YouTube juga memperketat monetisasi, termasuk pada format Shorts, sementara Instagram mengubah sistem bonus menjadi berbasis target performa yang tidak menentu setiap bulan. Akibatnya, banyak kreator harus mencari sumber pendapatan lain di luar platform utama.
Di Indonesia, tren serupa juga terjadi. Nilai pasar influencer marketing masih tumbuh, namun dengan laju yang mulai melambat. Dari jutaan kreator aktif, hanya sebagian kecil yang mampu meraih pendapatan tinggi secara konsisten, sementara mayoritas berada pada kisaran pendapatan terbatas dan sangat bergantung pada algoritma serta tren yang cepat berubah.
Di sisi lain, profesi kreator konten tidak memiliki sistem perlindungan seperti pekerjaan formal. Tidak ada jaminan kesehatan, pensiun, maupun pendapatan tetap. Tekanan untuk terus menciptakan konten viral, menjaga engagement, dan mengikuti tren membuat profesi ini semakin menuntut secara mental dan waktu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri kreator konten kini memasuki fase baru: bukan lagi sekadar soal popularitas, tetapi soal kemampuan bertahan di tengah persaingan yang semakin padat dan sistem yang terus berubah. Bagi banyak kreator, termasuk figur besar sekalipun, tantangan utama bukan lagi menjadi viral, melainkan menjaga keberlanjutan karier di ekosistem digital yang makin tidak pasti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

8 hours ago
4

















































