Konsistensi Tata Kelola, Politeknik Negeri Padang Kembali Raih Opini WTP Dua Tahun Berturut-turut

3 hours ago 2

PADANG, KLIKPOSITIF – Politeknik Negeri Padang (PNP) kembali mencatatkan capaian prestisius dalam manajemen keuangan institusi. Untuk tahun kedua secara beruntun, kampus vokasi terbesar di Sumatera Barat ini sukses mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan tahunannya.

Capaian ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari komitmen PNP dalam menerapkan standar transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola organisasi yang sehat di lingkungan perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU).

Auditor Akuntan Publik, Drs. Syahril Ali, menjelaskan bahwa opini WTP merupakan strata tertinggi dalam audit laporan keuangan. Opini ini memberikan jaminan bahwa seluruh data keuangan institusi telah disajikan secara wajar, disusun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku, serta memiliki bukti pendukung yang akurat dan komprehensif.

“Ini adalah opini terbaik. Artinya, tidak ada hal material yang perlu dikecualikan oleh auditor. Kami melihat pengelolaan keuangan di PNP berjalan sesuai dengan regulasi. Sistem pengendalian internal di sini juga cukup aktif dan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Syahril.

Ia merinci bahwa dalam audit keuangan, terdapat empat spektrum opini, yakni WTP, Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Tidak Wajar (*Adverse Opinion*), dan Tidak Menyatakan Pendapat (*Disclaimer*). Raihan WTP menunjukkan bahwa PNP telah melampaui standar yang ditetapkan.

Syahril juga menyoroti aspek pengawasan yang ketat. Meskipun audit dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) independen, seluruh prosesnya—mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan di lapangan, hingga hasil akhir pemeriksaan—tetap berada dalam koridor pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hal ini memastikan bahwa objektivitas audit tetap terjaga.

Bukan Sekadar Mengejar Predikat

Bagi Direktur PNP, Revalin Herdianto, opini WTP bukanlah target utama atau “piala” yang menjadi fokus akhir institusi. Ia memandang predikat ini sebagai bentuk rekognisi atas ketaatan dan integritas dalam menjalankan proses kerja sehari-hari.

“Bagi kami, WTP bukan tujuan, tetapi apresiasi. Jika kita hanya berorientasi pada predikat, kita mungkin akan melewatkan proses yang justru paling krusial. Keberhasilan ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang kita jalankan dengan benar,” ujar Revalin.

Menurutnya, fokus utama PNP saat ini adalah membangun fondasi sistem yang kuat. Ia menaruh perhatian besar pada mitigasi risiko, pemetaan potensi ketidaktercapaian target, serta langkah preventif untuk mencegah *fraud* (kecurangan) dan menghindari potensi kerugian negara.

“Tata kelola yang baik tidak boleh bergantung pada figur atau individu tertentu. Jika hanya bergantung pada orang, maka saat terjadi pergantian pimpinan, capaian bisa merosot. Kami ingin memastikan bahwa sistem, prosedur, dan kebijakan terdokumentasi dengan baik, sehingga menjadi budaya organisasi yang konsisten dijalankan oleh siapa pun yang memimpin,” tambahnya.

Strategi Kemandirian di Era BLU

Sebagai institusi dengan status BLU, PNP dituntut untuk lebih mandiri secara finansial tanpa mengorbankan prinsip tata kelola yang transparan. Revalin menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan potensial.

Penguatan reputasi jurnal ilmiah hingga pengembangan kemitraan strategis dengan sektor industri dan pihak eksternal menjadi langkah konkret PNP dalam memperluas cakupan pendapatan institusi.

“Perguruan tinggi hari ini dituntut untuk semakin mandiri. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan potensi pendapatan tersebut dengan tetap berpegang teguh pada prinsip tata kelola yang benar. Kami tidak ingin kemandirian ini justru mencederai integritas,” tegas Revalin.

Fondasi Kepercayaan Publik

Di akhir penjelasannya, Revalin menegaskan bahwa raihan WTP merupakan modal berharga dalam membangun kepercayaan publik. Baginya, sebuah institusi pendidikan yang sehat adalah institusi yang mampu menghormati proses.

“Proses yang baik akan menghasilkan tata kelola yang baik, dan pada akhirnya, hal itulah yang akan melahirkan kepercayaan masyarakat. Bagi kami, WTP bukan akhir dari perjalanan, melainkan fondasi untuk membangun institusi yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan di masa depan,” pungkasnya.(*)

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news