Keracunan di Mlati, Sleman: 10 Orang Masih Jalani Rawat Inap

2 hours ago 2

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah warga yang menjalani perawatan akibat dugaan keracunan pangan di Padukuhan Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, terus bertambah. Hingga Kamis (7/5/2026) pagi, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat sebanyak 60 orang harus mendapatkan penanganan medis setelah menyantap hidangan dalam acara pamitan haji.

Dari total korban tersebut, 10 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit, sedangkan 50 warga lainnya menjalani rawat jalan. Kasus ini memicu kekhawatiran warga sekitar karena gejala muncul hampir bersamaan setelah acara berlangsung.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan hingga pukul 07.00 WIB sebanyak 93 orang telah mengisi pendataan melalui Google Forms. Dari jumlah tersebut, 69 orang dilaporkan mengalami gejala yang mengarah pada keracunan pangan.

“Rawat jalan 50 orang, rawat inap 10 orang,” kata Yuli, Kamis (7/5/2026).

Pasien rawat inap tersebar di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Sleman dan Jogja. Empat korban dirawat di RSUD Sleman, dua orang sempat dirawat di RSA UGM dengan satu pasien sudah diperbolehkan pulang, sementara satu pasien lainnya dirawat di RS Queen Latifa.

Selain itu, dua korban sebelumnya sempat menjalani perawatan di Klinik Shaqi sebelum dipulangkan. Satu pasien tambahan juga baru masuk rawat inap di PKU Sleman pada Rabu (6/5/2026) malam.

Gejala yang dialami korban bervariasi, mulai dari sakit perut, mual, diare, pusing, demam, hingga panas dingin. Sebagian warga mulai merasakan keluhan beberapa jam setelah menyantap makanan dalam acara tersebut.

“Gejala yang muncul sakit perut, mules, diare, pusing, panas dingin dan demam,” ujar Yuli.

Untuk memastikan penyebab keracunan, Dinkes Sleman telah mengirim sejumlah sampel makanan ke Laboratorium Balai Labkesmas Jogja. Dua menu yang diperiksa adalah ayam panggang serta sambal goreng krecek dan jeroan.

Selain sampel makanan, petugas kesehatan juga mengirimkan sampel feses salah satu korban guna mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi bakteri atau zat tertentu dalam makanan yang disajikan.

“Sampel makanan yang dikirim untuk diperiksa Laboratorium Balai Labkesmas Yogyakarta, ayam panggang/bakar dan sambal goreng krecek plus jeroan,” terang Yuli.

Kasus dugaan keracunan ini bermula dari acara pamitan haji yang digelar pada Minggu (3/5/2026). Acara tersebut menghadirkan ratusan tamu dari kalangan tetangga dan keluarga.

Salah satu anggota keluarga penyelenggara acara, Nayuku Bramantyo, mengatakan keluarganya memesan sekitar 250 porsi makanan untuk tamu undangan. Orang tua Nayuku sendiri dijadwalkan berangkat haji pada 21 Mei mendatang.

Makanan datang sekitar pukul 07.30 WIB dan acara dimulai sekitar pukul 08.00 WIB di sebuah gedung dakwah di wilayah Mlati. Sekitar 130 tamu menyantap makanan langsung di lokasi, sedangkan sisanya dibagikan kepada warga lainnya.

Nayuku mengaku mulai merasakan gejala sekitar pukul 22.30 WIB di hari yang sama. Ia mengalami diare disertai kondisi badan yang mulai panas keesokan harinya.

Menu yang disajikan dalam acara tersebut terdiri atas ayam panggang kecap, telur, sambal goreng krecek dengan rempela ati, timun, dan pisang. Sementara makanan ringan atau snack disebut berasal dari penyedia berbeda.

Dari seluruh menu yang disantap, Nayuku menyebut sambal goreng krecek terasa berbeda dibanding biasanya.

“Krecek yang disajikan terasa kecut,” katanya.

Hingga kini Dinkes Sleman masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber pasti dugaan keracunan pangan tersebut. Warga di sekitar lokasi juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala serupa setelah menghadiri acara itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news