Kebijakan India Tekan Batu Bara Global, Ekspor Indonesia Terancam

7 hours ago 3

Jumali

Jumali Kamis, 25 Juni 2026 12:27 WIB

Kebijakan India Tekan Batu Bara Global, Ekspor Indonesia Terancam

Alat berat (ekskavator) memindahkan batu bara ke atas mobil truk dari atas kapal tongkang di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018)./JIBI/Bisnis Indonesia-Paulus Tandi Bone

Harianjogja.com, JOGJA— Harga batu bara global kembali mengalami tekanan setelah India mempercepat langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara impor. Kebijakan tersebut memicu pelemahan harga batu bara Newcastle sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekspor batu bara Indonesia ke salah satu pasar utamanya.

Dikutip dari Reuters, pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), harga acuan ICE Newcastle kontrak Juli 2026 turun 1,94% menjadi US$129,05 per ton. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 22 April 2026 atau dalam sekitar dua bulan terakhir.

Penurunan ini memperpanjang tren lesu harga batu bara yang dalam beberapa hari sebelumnya bergerak terbatas di kisaran US$131 per ton. Tekanan utama datang dari India yang mulai meningkatkan penggunaan batu bara produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

India yang selama ini menjadi importir batu bara termal terbesar kedua di dunia memutuskan meningkatkan porsi batu bara domestik hingga lebih dari 50% pada sejumlah pembangkit listrik yang sebelumnya dirancang menggunakan batu bara impor.

Langkah tersebut ditempuh untuk mengurangi beban biaya impor energi yang dinilai semakin mahal. Kebijakan ini sekaligus menjadi tantangan bagi negara-negara pemasok utama seperti Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia.

Data perusahaan perdagangan batu bara India, iEnergy Natural Resources, menunjukkan impor batu bara dari Indonesia sepanjang Januari-April 2026 turun sekitar 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara impor dari Afrika Selatan merosot lebih dalam hingga sekitar 68%.

Penurunan impor terjadi seiring meningkatnya kemampuan pembangkit listrik India dalam menggunakan batu bara lokal. Hingga saat ini, batu bara domestik telah digunakan pada pembangkit berkapasitas 5,7 gigawatt (GW) dari total 18,7 GW pembangkit yang sebelumnya bergantung pada batu bara impor.

Pemerintah India juga sedang menguji penggunaan batu bara domestik pada tambahan kapasitas pembangkit sekitar 4,3 GW. Jika berhasil, kebutuhan impor batu bara diperkirakan kembali berkurang dalam beberapa tahun mendatang.

Selama ini, upaya substitusi impor sempat menghadapi kendala teknis karena pembangkit listrik berbasis batu bara impor dirancang menggunakan bahan bakar berkualitas tinggi. Namun berbagai modifikasi yang dilakukan operator pembangkit membuat penggunaan batu bara lokal semakin memungkinkan.

Beberapa pembangkit bahkan dilaporkan telah mampu menggunakan hingga 70% batu bara domestik yang memiliki kandungan abu lebih tinggi dibandingkan batu bara impor.

Situasi tersebut semakin didukung oleh peningkatan produksi energi terbarukan di India yang membuat pasokan batu bara domestik lebih longgar. Data Grid-India menunjukkan produksi listrik berbahan bakar batu bara meningkat 10% pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akibat kombinasi faktor tersebut, impor batu bara termal India turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir. Konsultan komoditas BigMint mencatat impor batu bara termal India pada Januari-Mei 2026 hanya sekitar 65 juta metrik ton, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, pasar batu bara kokas juga menghadapi tekanan dari Tiongkok. Produksi batu bara kokas negara tersebut mulai pulih setelah sebelumnya terganggu akibat penutupan sejumlah tambang pascakecelakaan di Provinsi Shanxi.

Meski pemulihan belum sepenuhnya kembali normal, sekitar 63%-64% kapasitas tambang yang sempat ditutup telah kembali beroperasi hingga pertengahan Juni. Tingkat utilisasi tambang diperkirakan berada di kisaran 70%-80%.

Kondisi tersebut membuat pasokan batu bara kokas global mulai membaik, meski permintaan dari sektor baja Tiongkok masih terbatas akibat margin keuntungan pabrik baja yang terus tertekan.

Kombinasi penurunan impor India dan membaiknya pasokan dari Tiongkok menjadi sentimen negatif bagi pasar batu bara global. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk memperluas pasar ekspor dan mengurangi ketergantungan terhadap negara tujuan tertentu agar risiko pelemahan permintaan dapat diminimalkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news