Iran Andalkan Armada Nyamuk untuk Kuasai Selat Hormuz

2 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Iran disebut mengerahkan strategi pertahanan laut menggunakan “armada nyamuk” untuk menjaga kendali di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik Timur Tengah. Strategi ini mengandalkan ribuan kapal cepat bersenjata dan kapal selam mini untuk menghadapi kekuatan laut negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.

Laporan Financial Times, Minggu (10/5/2026), menyebut konsep “armada nyamuk” itu menjadi salah satu kekuatan utama Iran dalam mempertahankan pengaruhnya di kawasan Teluk Persia. Armada tersebut terdiri atas kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi yang dirancang untuk bergerak lincah dan sulit dilacak dalam operasi laut.

Sebelumnya pada April lalu, sejumlah analis pertahanan yang dikutip majalah National Defense mengungkapkan Iran memiliki sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir serta beberapa ribu kapal cepat rudal dan kapal serang. Kombinasi kekuatan tersebut dinilai mampu memberikan tekanan besar terhadap pergerakan Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz maupun Teluk Persia.

Sebagian kapal dalam armada itu hanya dipersenjatai ringan. Namun, beberapa unit lain dilengkapi rudal jarak pendek yang dinilai cukup efektif untuk operasi serangan cepat di wilayah perairan sempit seperti Selat Hormuz.

Financial Times menilai kekuatan tersebut semakin diperkuat dengan dukungan sistem rudal dan drone milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kombinasi armada laut cepat dengan teknologi serangan jarak jauh itu disebut membuat Iran tetap memiliki daya tekan strategis terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur perdagangan energi dunia tersebut.

Dalam laporannya, media itu juga menyebut “armada nyamuk” kini menjadi kekuatan permukaan paling aktif yang dimiliki Iran. Selain menggunakan kapal produksi domestik yang murah dan mudah diganti, Iran juga mengoperasikan sejumlah model kapal dengan teknologi yang lebih modern dan kemampuan tempur lebih tinggi.

Strategi pertahanan tersebut diperkirakan tetap menjadi elemen penting dalam pengawasan Selat Hormuz meski konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah mereda. Financial Times menyebut keberadaan armada itu masih memainkan peran sentral dalam menjaga posisi tawar Iran di kawasan.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri sempat memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Washington dan Teheran kemudian menyatakan gencatan senjata pada 8 April. Namun, situasi kawasan belum sepenuhnya stabil setelah pembicaraan lanjutan di Islamabad disebut belum menghasilkan kesepakatan konkret. Hingga kini belum ada laporan dimulainya kembali perang terbuka, meski Amerika Serikat disebut mulai memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Selat Hormuz Urat Nadi Energi Global

Selat Hormuz merupakan urat nadi terpenting dalam sistem distribusi energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, selat ini merupakan titik sempit yang secara strategis memisahkan wilayah Iran di utara dengan Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.

Pentingnya jalur ini terletak pada volume minyak mentah yang melaluinya; diperkirakan sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau lebih dari 20 juta barel per hari, melewati selat ini menuju pasar-pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Keberadaan Selat Hormuz memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas harga energi dunia karena tidak adanya jalur alternatif yang setara dalam kapasitas pengiriman. Perannya tidak hanya terbatas pada minyak bumi, tetapi juga sebagai jalur utama bagi sebagian besar ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dari produsen besar seperti Qatar.

Karena lebarnya yang hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, jalur ini sangat rentan terhadap gangguan geopolitik. Ketegangan di wilayah tersebut sering kali memicu kekhawatiran pasar akan terhambatnya pasokan, yang secara instan dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global dan mengganggu ketahanan energi di berbagai negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news