
Nintendo Switch. (Nintendo)
Harianjogja.com, JAKARTA—Perusahaan gim asal Jepang, Nintendo, resmi mengumumkan kenaikan harga konsol generasi terbarunya, Nintendo Switch 2, beserta sejumlah aksesorinya mulai 2026.
Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar global yang dinilai akan terus berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang.
Dalam pernyataan resminya, Nintendo menyebutkan revisi harga akan diberlakukan di Jepang dan secara bertahap meluas ke pasar global.
Harga Naik Bertahap, Jepang Lebih Dulu
Di Jepang, harga Switch 2 naik dari 49.980 yen menjadi 59.980 yen dan mulai berlaku pada 25 Mei 2026.
Sementara itu, untuk pasar global seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, kenaikan harga sebesar 50 dolar AS akan mulai diterapkan pada 1 September 2026.
Nintendo juga menyesuaikan harga produk lainnya, termasuk Switch generasi pertama, Switch OLED, dan Switch Lite dengan kenaikan sekitar 8.000 hingga 10.000 yen. Aksesorinya turut mengalami kenaikan antara 5 hingga 10 dolar AS.
“Kami memohon maaf atas dampak yang ditimbulkan dan sangat menghargai pengertian pelanggan,” tulis perusahaan.
Dampak Tarif dan Kebijakan Global
Salah satu faktor utama kenaikan harga adalah kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Donald Trump pada April 2025.
Kebijakan tersebut berdampak pada biaya produksi dan distribusi perangkat elektronik, termasuk konsol gim.
Fenomena “RAMageddon” Dorong Biaya Produksi
Selain faktor tarif, lonjakan harga komponen teknologi juga menjadi penyebab utama. Krisis memori global yang dikenal sebagai RAMageddon membuat harga RAM melonjak tajam sejak akhir 2025.
Peningkatan kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) mendorong permintaan besar terhadap modul memori, terutama DDR5 berkapasitas 16GB hingga 64GB.
Akibatnya, biaya produksi perangkat elektronik, termasuk konsol gim, ikut terdongkrak.
Tak hanya RAM, komponen lain seperti solid-state drive (SSD) juga mengalami kenaikan harga signifikan.
Industri Gim Ikut Terdampak
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada Nintendo. Sejumlah perusahaan besar lain di industri gim juga mengalami tekanan serupa.
Sony misalnya, harus menaikkan harga PlayStation 5 Pro dari 750 menjadi 900 dolar AS.
Sementara Microsoft juga melakukan penyesuaian harga pada lini Xbox Series X dan Xbox Series S.
Di sisi lain, Valve bahkan menunda peluncuran perangkat Steam Machine akibat keterbatasan pasokan komponen.
Konsumen Diminta Bersiap
Dengan berbagai tekanan biaya yang masih berlangsung, tren kenaikan harga perangkat teknologi diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Konsumen pun diminta bersiap menghadapi harga konsol dan perangkat gaming yang semakin mahal, seiring meningkatnya kebutuhan teknologi global dan terbatasnya pasokan komponen utama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
3

















































