Between Two Gates Kotagede Ditutup, Diserbu Turis Tanpa Izin

10 hours ago 6

Between Two Gates Kotagede Ditutup, Diserbu Turis Tanpa Izin

Kompleks Makam Kota Gede di Kampung Wisata Purbayan. (Instagram/@kamwispurbayan)

Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan cagar budaya Between Two Gates di Kotagede terpaksa ditutup sementara oleh pengelola bersama warga pada Minggu (31/5/2026). Penutupan ini dipicu kedatangan dua bus wisatawan tanpa izin yang langsung memasuki area permukiman.

Pengelola kawasan, Joko Nugroho, menjelaskan rombongan berjumlah sekitar 70 hingga 80 orang tersebut diduga merupakan wisatawan asing. Mereka disebut masuk secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan maupun koordinasi dengan warga setempat.

"Karena tidak ada pemberitahuan dan team leader tidak memberikan informasi apa pun, warga menjadi tidak berkenan," ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Menurut Joko, banyak wisatawan salah kaprah dengan menganggap Between Two Gates sebagai ruang publik. Padahal, lorong ikonik di Kotagede itu merupakan bagian dari lokangan atau lahan milik pribadi warga.

Ia mengungkapkan, awalnya warga membuka akses tersebut sebagai jalur darurat. Namun, popularitas di media sosial justru memicu lonjakan kunjungan tak terkendali dan mendorong fenomena wisata massal.

Akibatnya, kawasan yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi titik berburu konten, terutama oleh wisatawan muda. Hal ini berdampak langsung pada kenyamanan warga yang tinggal di dalamnya.

"Beberapa pengunjung ada yang bermasalah. Anak muda bawa kamera, masuk tanpa nuwun sewu. Ada pemilik rumah, mereka tidak aruh-aruh. Lama-lama warga menjadi tidak nyaman," keluhnya.

Padahal, papan informasi telah dipasang untuk mengingatkan pengunjung agar menjaga etika. Namun, imbauan tersebut dinilai belum efektif menahan arus wisatawan.

Pasca-insiden, pengelola dan warga langsung melakukan evaluasi untuk merumuskan langkah mitigasi ke depan, termasuk kemungkinan pengetatan akses kunjungan.

Joko menegaskan kawasan Between Two Gates tidak dirancang untuk wisata massal berskala besar. Ia meminta agen perjalanan agar wajib berkoordinasi sebelum membawa rombongan.

Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang belum dirasakan warga meski jumlah kunjungan terus meningkat sejak kawasan ini viral sekitar 2015. Banyak wisatawan hanya datang untuk melihat-lihat tanpa berkontribusi pada ekonomi lokal.

"Di Jogja kunjungan berjuta orang, tetapi dampaknya belum terasa. Dari pihak hotel dan tour travel, mereka berkunjung doang, tidak belanja," katanya.

Padahal, warga telah menyiapkan berbagai potensi ekonomi lokal, mulai dari katering, kerajinan perak khas Kotagede, hingga jajanan tradisional. Namun, peluang tersebut belum optimal karena kunjungan wisatawan cenderung tidak terkelola dengan baik.

Penutupan sementara ini diharapkan menjadi momentum evaluasi agar aktivitas wisata di kawasan heritage tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan warga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news