Video TikTok dan Instagram Reels Jadi Jalan Baru Sebar Malware

7 hours ago 5

Jumali

Jumali Minggu, 14 Juni 2026 18:17 WIB

Video TikTok dan Instagram Reels Jadi Jalan Baru Sebar Malware

Foto ilustrasi Malware. - Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Pengguna TikTok dan Instagram diminta meningkatkan kewaspadaan setelah peneliti keamanan siber menemukan modus baru penyebaran malware melalui video tutorial yang menawarkan perangkat lunak premium secara gratis. Modus tersebut diketahui digunakan untuk menyebarkan malware pencuri data bernama Vidar yang dapat menguras informasi penting dari perangkat korban tanpa disadari.

Temuan terbaru dari perusahaan keamanan siber ReversingLabs menunjukkan kampanye berbahaya tersebut telah menjangkau jutaan pengguna media sosial. Dilansir dari Techspot, Minggu (14/6/2026), para pelaku memanfaatkan video pendek yang tampak meyakinkan untuk mengarahkan korban menjalankan perintah tertentu di komputer mereka.

Dalam sejumlah video yang beredar, pelaku menggunakan identitas yang terlihat resmi, termasuk nama akun yang menyerupai perusahaan teknologi besar serta tampilan visual profesional. Konten tersebut menawarkan aktivasi gratis untuk layanan berbayar seperti Spotify Premium maupun Microsoft Office.

Korban kemudian diarahkan mengikuti langkah-langkah yang tampak sederhana. Salah satunya dengan membuka fitur Run di sistem operasi Windows menggunakan kombinasi tombol tertentu, lalu menyalin dan menjalankan perintah yang ditampilkan dalam video.

Di balik proses tersebut, perintah yang dijalankan ternyata berfungsi mengunduh malware secara diam-diam ke perangkat korban. Setelah aktif, malware bekerja di latar belakang tanpa menampilkan tanda-tanda mencurigakan.

Peneliti menyebut malware yang digunakan adalah Vidar, salah satu malware pencuri informasi yang telah lama beredar di dunia siber. Program berbahaya ini dirancang untuk mengumpulkan berbagai data sensitif dari perangkat yang terinfeksi.

Informasi yang menjadi sasaran antara lain kata sandi akun, cookie browser, data autofill, token sesi login, dokumen pribadi, hingga informasi yang berkaitan dengan dompet aset kripto.

Setelah berhasil mengumpulkan data, seluruh informasi tersebut dikirim ke server yang dikendalikan pelaku. Data curian kemudian berpotensi diperjualbelikan di forum kejahatan siber atau digunakan untuk mengambil alih akun korban.

Menurut laporan ReversingLabs, sebagian video yang digunakan dalam kampanye tersebut memperoleh puluhan ribu hingga ratusan ribu tayangan. Salah satu video bahkan dilaporkan telah ditonton lebih dari 100.000 kali.

Tingkat penyebaran yang tinggi didorong oleh algoritma media sosial yang mengutamakan konten dengan banyak interaksi. Fitur simpan dan bagikan yang digunakan pengguna tanpa sadar membantu memperluas jangkauan konten berbahaya tersebut.

Peneliti menilai metode ini menunjukkan perubahan strategi para pelaku kejahatan siber. Jika sebelumnya serangan lebih banyak dilakukan melalui email phishing atau situs palsu, kini media sosial mulai dimanfaatkan sebagai jalur distribusi malware yang efektif.

Tidak seperti email penipuan yang biasanya disertai pesan mendesak atau ancaman tertentu, video tutorial semacam ini tampil lebih santai dan meyakinkan. Kondisi tersebut membuat banyak pengguna tidak menyadari risiko yang sedang dihadapi.

Vidar sendiri dikenal sebagai malware yang dipasarkan dengan model Malware-as-a-Service (MaaS). Melalui skema ini, pelaku kejahatan siber dapat menyewa atau membeli akses malware untuk menjalankan berbagai operasi pencurian data.

Para ahli keamanan mengingatkan masyarakat agar tidak menjalankan perintah pemrograman yang tidak dipahami, terutama jika diperoleh dari media sosial. Pengguna juga disarankan hanya mengunduh perangkat lunak dari situs resmi pengembang serta mengaktifkan autentikasi multifaktor pada akun penting untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan data apabila terjadi kebocoran kredensial.

Selain itu, pembaruan sistem operasi dan perangkat lunak keamanan secara berkala tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi peluang serangan. Di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat, kewaspadaan terhadap konten yang tampak menarik namun tidak jelas sumbernya menjadi salah satu lapisan perlindungan paling efektif terhadap ancaman siber yang terus berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news