Underpass Dinilai Lebih Efektif Tekan Kecelakaan Pelintasan Sebidang

8 hours ago 6

Underpass Dinilai Lebih Efektif Tekan Kecelakaan Pelintasan Sebidang Ilustrasi pelintasan kereta api. - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar

Harianjogja.com, JAKARTA—Solusi keselamatan pelintasan sebidang kembali menjadi sorotan setelah angka kecelakaan masih tinggi. Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menilai pembangunan underpass lebih realistis dibanding flyover untuk menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.

Dalam keterangannya, Darmaningtyas menyebut faktor biaya menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan infrastruktur. Jalur layang atau flyover dinilai membutuhkan anggaran besar sehingga sulit diterapkan secara luas, sementara underpass dianggap lebih memungkinkan dari sisi pembiayaan maupun pelaksanaan di lapangan.

"Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik," kata Darmaningtyas saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan, pemerintah tetap perlu memperbanyak fasilitas penyeberangan di titik-titik perlintasan sebidang guna mengurangi potensi kecelakaan yang terus berulang.

"Memang pemerintah perlu menambah tempat penyeberangan untuk perlintasan sebidang itu," ucapnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Darmaningtyas menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas di pelintasan kereta. Menurutnya, pembangunan fisik tidak akan efektif tanpa diimbangi kepatuhan pengguna jalan terhadap aturan keselamatan.

Ia juga menilai keberadaan pelintasan liar tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena banyak muncul akibat kebutuhan akses masyarakat maupun perkembangan kawasan permukiman. Namun demikian, pengawasan tetap harus dilakukan secara konsisten.

"Pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan yang konsisten," ucap dia.

Dengan demikian, kombinasi antara pembangunan underpass, penguatan pengawasan, serta edukasi masyarakat dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan angka kecelakaan di pelintasan sebidang.

Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tahun 2026 mencatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 57,5 persen atau 23 kejadian terjadi di pelintasan tanpa palang pintu, sedangkan 42,5 persen atau 17 kejadian terjadi di pelintasan berpalang pintu.

Penyebab utama kecelakaan didominasi perilaku pengendara yang menerobos pelintasan dengan 34 kasus. Selain itu, terdapat empat kasus kendaraan mogok dan tiga kasus keterlambatan penutupan palang pintu. Dampak kecelakaan tergolong fatal, dengan 25 korban meninggal dunia (61 persen), lima korban luka berat (12 persen), dan 11 korban luka ringan (27 persen).

Adapun jenis kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen). Sementara itu, penyebab kendaraan mogok di perlintasan antara lain mesin mati mendadak, beban berlebih pada sepeda motor hingga roda tersangkut, gangguan mesin di tengah rel, serta truk lowdeck yang tersangkut akibat perbedaan elevasi jalur rel dengan kendaraan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news