Stephen Chow Sebut Kung Fu Soccer Angkat Isu Gender dan Mental

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Sabtu, 08 Agustus 2026 15:27 WIB

Stephen Chow Sebut Kung Fu Soccer Angkat Isu Gender dan Mental

Kung Fu Soccer/instagram.com;cgv_id

Harianjogja.com, JOGJA—Sutradara sekaligus penulis naskah ternama Hong Kong, Stephen Chow, mengungkap perbedaan mendasar antara film terbarunya, Kung Fu Soccer, dengan film kultus yang melambungkan namanya, Shaolin Soccer.

Menurut Chow, kedua film yang sama-sama memadukan unsur sepak bola dan kung fu tersebut lahir dari latar sosial dan fase kehidupan yang sangat berbeda. Perubahan itu turut memengaruhi cara ia membangun cerita, karakter, hingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Dalam sesi siaran langsung bersama kreator konten asal China, Dong Yuhui, Chow menjelaskan bahwa Shaolin Soccer lahir pada masa ketika Hong Kong sedang menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Karena itu, film yang dirilis pada 2001 tersebut sarat dengan tema perjuangan masyarakat kelas bawah untuk mengubah nasib.

Kala itu, cerita berpusat pada sekelompok pria dari lapisan masyarakat paling bawah yang berusaha bangkit melalui sepak bola. Mereka harus menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan sekaligus membuktikan harga diri di tengah tekanan sosial dan ekonomi.

“Konflik yang diangkat tidak lagi seputar bertahan hidup di tengah kemiskinan, melainkan perlawanan terhadap stereotip gender, diskriminasi usia, serta tekanan mental di lingkungan kerja,” kata Stephen Chow saat menjelaskan arah cerita Kung Fu Soccer, seperti dikutip dari Sina.com.

Berbeda dengan Shaolin Soccer, film terbaru ini mengusung pendekatan yang lebih ringan dan emosional. Fokus cerita bergeser dari perjuangan ekonomi menuju persoalan sosial yang lebih relevan dengan kehidupan modern, terutama yang dihadapi perempuan.

Dalam Kung Fu Soccer, Chow menempatkan solidaritas perempuan sebagai tema utama. Cerita tidak lagi berpusat pada obsesi meraih kemenangan atau mengalahkan lawan, melainkan perjalanan para karakter untuk menerima diri sendiri, bangkit dari kegagalan, dan menemukan makna hidup yang lebih luas.

Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang Chow sebagai sineas setelah lebih dari dua dekade berkarya di industri perfilman Asia.

Perbedaan lain yang cukup mencolok terlihat dari peran Chow dalam produksi film tersebut. Jika dalam Shaolin Soccer ia tampil sebagai pemeran utama dan menjadi pusat cerita bersama almarhum Ng Man-tat, kali ini ia memilih sepenuhnya bekerja di balik layar.

Chow menyerahkan peran utama kepada sejumlah aktor dan aktris ternama, seperti Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang.

Ia juga menghilangkan konsep antagonis murni yang sebelumnya menjadi salah satu elemen penting dalam Shaolin Soccer. Sebagai gantinya, konflik lebih banyak muncul dari pergulatan internal para karakter dan tekanan sosial yang mereka hadapi.

Dong Yuhui menilai meski pendekatan kedua film berbeda, pesan emosional yang ingin disampaikan Chow tetap konsisten. Menurutnya, penonton masih dapat merasakan semangat perjuangan yang sama seperti ketika menyaksikan Shaolin Soccer lebih dari dua dekade lalu.

“Teknologi dan susunan pemainnya memang berbeda, tetapi sebagai penonton, saya melihat pesan emosional yang tidak pernah berubah,” ujar Dong Yuhui.

Ia menambahkan perjalanan tim Emei dalam Kung Fu Soccer yang bangkit dari kegagalan menjadi simbol perjuangan hidup yang dekat dengan pengalaman banyak orang.

Perubahan tema dan pendekatan cerita tersebut juga dianggap mencerminkan perjalanan pribadi Stephen Chow. Dari seorang sineas muda yang penuh ambisi dan kemarahan terhadap ketidakadilan sosial, kini ia berkembang menjadi pembuat film yang lebih matang dan menempatkan cinta terhadap kehidupan sebagai pusat narasinya.

Film Kung Fu Soccer dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 Agustus 2026 dan menjadi salah satu film Asia yang paling dinantikan tahun ini, terutama oleh para penggemar karya-karya Stephen Chow yang telah lama menunggu kembalinya sang maestro ke genre komedi olahraga fantasi yang membesarkan namanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news