Newswire Sabtu, 08 Agustus 2026 17:47 WIB

Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, MATARAM—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Gelombang laut diperkirakan mencapai ketinggian hingga 6 meter pada 8-9 Agustus 2026.
Kondisi tersebut salah satunya dipicu aktivitas monsun Australia yang membawa angin timuran dan menguat selama musim kemarau. Angin tersebut bertiup melewati wilayah perairan selatan NTB sehingga membentuk wind waves atau gelombang yang dipicu langsung oleh hembusan angin.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, mengatakan aktivitas monsun Australia pada Agustus turut meningkatkan kecepatan angin di sekitar NTB.
"Monsun Australia yang aktif juga mendukung adanya peningkatan kecepatan angin di sekitar NTB, daratan maupun lautan," ujar Ari saat dikonfirmasi di Mataram, Sabtu.
Berdasarkan informasi BMKG Stasiun Meteorologi ZAM, gelombang dengan ketinggian 4-6 meter berpotensi terjadi pada 8-9 Agustus 2026. Wilayah yang perlu mendapat perhatian adalah Selat Lombok bagian selatan dan Samudra Hindia di sebelah selatan NTB.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian 2,5-4 meter berpotensi menerjang sejumlah perairan lainnya. Wilayah tersebut meliputi Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara dan selatan, perairan selatan Sumbawa, serta Selat Sape bagian selatan.
Gelombang Dipengaruhi Swell Samudra Hindia
Ari menjelaskan terbentuknya gelombang tinggi di perairan NTB tidak hanya dipengaruhi angin yang bertiup di sekitar wilayah tersebut. Kondisi laut juga dapat dipengaruhi gelombang rambatan atau swell yang berasal dari Samudra Hindia.
Swell merupakan gelombang yang terbentuk akibat sistem angin kuat di wilayah yang jauh dari lokasi perairan tertentu. Gelombang tersebut kemudian merambat hingga mencapai perairan NTB.
Kondisi tersebut membuat wilayah selatan NTB menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih. Penguatan angin monsun Australia dapat meningkatkan kecepatan angin sekaligus memperbesar potensi terjadinya gelombang tinggi.
"Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, perairan selatan Lombok dan Sumbawa, serta Samudra Hindia selatan NTB merupakan wilayah yang perlu diwaspadai akan adanya peningkatan tinggi gelombang," papar Ari.
Selain kecepatan angin, terdapat faktor lain yang turut mendukung pembentukan gelombang tinggi, yakni fetch. Istilah tersebut merujuk pada panjang wilayah laut yang dilalui angin sebelum mencapai suatu lokasi.
Ari mengatakan angin timuran yang bertiup secara persisten selama musim kemarau memiliki fetch yang panjang. Kondisi tersebut turut mendukung peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan NTB.
Gelombang Tinggi Masih Berpotensi Terjadi
BMKG memprakirakan potensi gelombang tinggi masih dapat terjadi selama beberapa hari ke depan. Kondisinya dapat semakin meningkat apabila angin timuran kembali menguat dan bertiup secara persisten.
Meski demikian, Ari menegaskan gelombang tinggi bersifat fluktuatif. Fenomena tersebut tidak terjadi secara terus-menerus sepanjang musim kemarau karena kondisi laut dipengaruhi perubahan pola dan kekuatan angin serta gelombang dari Samudra Hindia.
Karena itu, nelayan dan pelaku pelayaran diminta memperhatikan perkembangan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di laut. Penyesuaian rute maupun waktu pelayaran perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi perairan terkini.
"Kami mengimbau nelayan maupun pelaku pelayaran untuk memperhatikan kondisi angin, gelombang, serta cuaca dan kemudian menyesuaikan rute serta waktu pelayaran dengan kondisi perairan," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































