
Ilustrasi sedot lemak./Freepik
TANGERANG SELATAN — Penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik karena memicu resistensi insulin yang menjadi salah satu mekanisme penting dalam perkembangan diabetes melitus tipe 2.
Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes, Prof. Sidartawan Soegondo, mengatakan obesitas perlu dipandang sebagai salah satu faktor risiko berbagai penyakit serius, bukan sekadar persoalan berat badan.
"Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2," kata Sidartawan yang juga Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital dalam sebuah acara di Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu.
Menurut Sidartawan, risiko tersebut semakin berkaitan dengan kondisi ketika lemak menumpuk di sekitar perut. Penumpukan lemak dapat membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin sehingga terjadi resistensi insulin.
Insulin sendiri merupakan hormon yang diproduksi pankreas. Hormon ini berperan membantu sel tubuh menyerap dan menggunakan glukosa dalam darah sebagai sumber energi.
Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, pankreas harus bekerja lebih keras dengan menghasilkan lebih banyak insulin. Upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan kadar gula darah agar tetap berada dalam batas normal.
Namun, kondisi tersebut dapat menjadi masalah apabila berlangsung dalam waktu lama.
"Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2," kata dia.
Penanganan Dimulai dari Gaya Hidup
Sidartawan mengatakan penanganan obesitas tetap perlu diawali dengan perubahan gaya hidup. Pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan berat badan sekaligus menurunkan risiko penyakit metabolik.
Meski demikian, tidak semua pasien memperoleh hasil penurunan berat badan yang optimal hanya melalui perubahan gaya hidup. Pada sebagian pasien, terapi obat dapat dipertimbangkan oleh dokter berdasarkan kondisi dan kebutuhan medis.
Terapi obat, menurut dia, terutama dapat dipertimbangkan pada pasien obesitas yang telah memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol.
"Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif," ujarnya.
Terapi Diabetes Berkembang
Di sisi lain, perkembangan terapi diabetes dalam beberapa tahun terakhir telah menghadirkan sejumlah pilihan pengobatan yang tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah, tetapi juga dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan berat badan.
Salah satunya adalah kelompok obat GLP-1 receptor agonist serta terapi dual incretin.
Sidartawan menjelaskan terapi tersebut bekerja melalui sejumlah mekanisme, antara lain meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta membantu meningkatkan pengendalian kadar gula darah.
Terapi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, khususnya ketika target pengendalian gula darah belum tercapai melalui terapi sebelumnya.
Sejumlah penelitian menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c. Parameter tersebut merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat pengendalian kadar gula darah dalam jangka panjang.
Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup.
Namun, Sidartawan mengingatkan terapi untuk diabetes maupun obesitas tidak dapat diberikan secara seragam kepada seluruh pasien. Kondisi setiap penyandang diabetes dapat berbeda, termasuk kondisi fisik dan respons metaboliknya terhadap terapi.
"Setiap penyandang diabetes memiliki kondisi fisik dan respons metabolik yang berbeda. Karena itu, terapi harus direncanakan secara personal berdasarkan evaluasi dan kondisi masing-masing pasien," katanya.
Ia menekankan pengendalian berat badan pada pasien diabetes tidak semata-mata bertujuan memperbaiki penampilan. Upaya tersebut juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko komplikasi metabolik sekaligus menjaga kualitas hidup.
"Masyarakat yang memiliki berat badan berlebih, terutama yang disertai faktor risiko seperti riwayat keluarga diabetes, tekanan darah tinggi, atau gangguan kolesterol, dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

4 hours ago
2

















































