
Suasana sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bantul Nomor 5 Tahun 2025 tentang Pengendalian Minuman Beralkohol dan Larangan Minuman Oplosan kepada kalangan pelajar di SMPN 2 Imogiri./ Harian Jogja - Kiki Luqman
Satpol PP Bantul Temukan Pelajar SMP Beli Miras Oplosan, Sosialisasi Perda Digencarkan
BANTUL - Peredaran minuman beralkohol (miras) dan minuman oplosan tidak lagi hanya menjadi persoalan orang dewasa. Temuan pelajar SMP yang kedapatan membeli minuman oplosan saat operasi penegakan peraturan daerah menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Bantul untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan Satpol PP Bantul menggencarkan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bantul No. 5/2025 tentang Pengendalian Minuman Beralkohol dan Larangan Minuman Oplosan kepada kalangan pelajar. Salah satu kegiatan digelar di SMP Negeri 2 Imogiri, Selasa (23/6).
Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Bantul, Supriyanta, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar mengenalkan aturan hukum, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga kesehatan dan masa depan.
"Kegiatan ini bukan hanya menyampaikan aturan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga kesehatan, menjaga masa depan, dan menciptakan lingkungan yang lebih positif," katanya, Selasa.
Menurut Supriyanta, derasnya arus informasi di era digital membuat berbagai gaya hidup mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. Tidak sedikit konten yang menampilkan konsumsi minuman beralkohol seolah menjadi sesuatu yang biasa. Padahal, dampaknya dapat merusak kesehatan sekaligus memicu berbagai persoalan sosial.
"Kita hidup di era yang penuh tantangan. Arus informasi begitu deras sehingga beberapa konten yang menampilkan gaya hidup tertentu, termasuk konsumsi minuman beralkohol, sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa," ujarnya.
Ia mengungkapkan Satpol PP Bantul terus melakukan operasi penertiban minuman beralkohol maupun minuman oplosan. Dalam salah satu operasi yang digelar di wilayah Pundong beberapa waktu lalu, petugas menemukan pelajar SMP yang sedang membeli minuman oplosan.
"Temuan ini menjadi perhatian bersama," katanya.
Selain minuman beralkohol, Satpol PP juga menyoroti penyalahgunaan pil sapi yang mulai merambah kalangan pelajar. Obat yang sejatinya digunakan untuk terapi penyakit Parkinson itu disebut kerap disalahgunakan oleh kelompok tertentu dan bahkan ditemukan dalam sejumlah kasus kenakalan remaja.
"Pil sapi juga menjadi perhatian kami karena sudah masuk di ranah sekolah. Pil ini sebenarnya untuk mengatasi penyakit Parkinson. Klitih juga sering menggunakan pil sapi dan tentunya minuman beralkohol," ungkapnya.
Karena itu, Supriyanta meminta para siswa menjauhi minuman beralkohol, minuman oplosan, maupun obat-obatan yang disalahgunakan. Ia juga mendorong pelajar untuk saling mengingatkan apabila menemukan teman yang mulai terjerumus.
Kepala SMP Negeri 2 Imogiri, Eko Margiyanto, menyambut baik sosialisasi tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai bahaya minuman beralkohol sangat penting karena siswa merupakan generasi yang sedang dipersiapkan menjadi penerus bangsa.
Eko menilai tantangan yang dihadapi pelajar saat ini semakin kompleks. Tidak sedikit remaja yang terjerumus dalam perilaku menyimpang akibat pengaruh lingkungan maupun media sosial. Karena itu, sekolah berupaya membangun karakter siswa agar mampu mengatakan tidak terhadap berbagai bentuk penyimpangan.
"Harapan kami, kegiatan ini bisa bermanfaat untuk anak-anak semua untuk mengatakan tidak. Tidak ikut-ikutan minuman beralkohol," katanya.
Ia juga mengingatkan siswa agar bijak menggunakan media sosial. Jejak digital yang ditinggalkan seseorang dapat berdampak pada masa depan apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.
Melalui sosialisasi tersebut, sekolah berharap seluruh siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya minuman beralkohol dan minuman oplosan. Eko menegaskan SMP Negeri 2 Imogiri berkomitmen mewujudkan lingkungan pendidikan yang beretika, berkarakter, dan bebas dari pengaruh alkohol maupun penyalahgunaan obat-obatan.
"Sehingga kami harapkan sekolah kita zero dari kegiatan seperti itu dan ke depan menjadi sekolah yang beretika serta berakhlak," ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































