Angkat Dinamika Anak Kampus, Film Dan Bandung Tayang Perdana di Jogja

2 hours ago 1

Angkat Dinamika Anak Kampus, Film Dan Bandung Tayang Perdana di Jogja

Film Dan Bandung menggelar special screening di Jogja, mengangkat kehidupan mahasiswa, persahabatan, keluarga, dan dinamika perasaan. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah film menarik bertajuk Dan Bandung diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq membawa cerita tentang kehidupan mahasiswa dengan segala dinamika yang menyertainya, mulai dari persahabatan, hubungan orang tua dan anak, hingga konflik perasaan antarkarakter. Film ini menggelar special screening di XXI Ambarrukmo Plaza, Sleman, Sabtu (8/8/2026).

Kehadiran Dan Bandung di Jogja menjadi salah satu rangkaian promosi film yang menyasar penonton dari kalangan anak muda. Latar kehidupan perkuliahan menjadi salah satu elemen yang ditonjolkan dalam film tersebut karena dianggap dekat dengan pengalaman dan persoalan generasi muda.

Produser Film Dan Bandung, Titin Suryani, mengatakan proses penggarapan film tidak sekadar memindahkan cerita dalam novel ke layar lebar. Tim produksi bersama sutradara Rudy Soedjarwo melakukan sejumlah penyesuaian agar cerita dapat diterjemahkan secara lebih efektif dalam medium film.

Menurut Titin, novel karya Pidi Baiq memiliki cakupan cerita yang panjang dan kompleks. Kondisi tersebut membuat tim produksi harus memilih bagian-bagian cerita yang dinilai penting untuk kemudian disusun menjadi alur film yang lebih linier.

"Pastinya mengambil scene-scene yang berkaitan dan penting. Ada penambahan dan perubahan sedikit untuk kebagusan sebuah film, karena medium film dan novel tentunya berbeda," ujar Titin, Sabtu.

Angkat Kehidupan Mahasiswa

Latar kehidupan kampus menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan Dan Bandung. Film tersebut mencoba menghadirkan kehidupan mahasiswa beserta relasi sosial dan persoalan emosional yang berkembang di dalamnya.

Titin menilai cerita mengenai dinamika kehidupan mahasiswa masih memiliki ruang yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Menurutnya, industri perfilman Indonesia sudah cukup lama tidak banyak menghadirkan cerita yang secara khusus mengeksplorasi kehidupan mahasiswa yang dekat dengan realitas anak muda.

Selain persoalan perkuliahan, film ini juga membawa penonton mengikuti hubungan antarkarakter. Persahabatan, keluarga, serta persoalan perasaan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam perkembangan cerita.

Proses penggarapan film juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para pemain. Keisya Levronka yang memerankan karakter Susi mengaku mendapatkan tantangan dari gaya penyutradaraan Rudy Soedjarwo.

Menurut Keisya, proses kreatif selama produksi tidak selalu terpaku pada dialog yang sudah tertulis dalam naskah. Skrip lebih banyak digunakan sebagai panduan dasar, sementara para pemain diberikan ruang untuk mengembangkan dialog dan membangun interaksi antarkarakter.

"Skrip itu hanya untuk guide saja. Jadi kami membangun dialog sendiri dan brainstorming bareng-bareng," kata Keisya.

Tantangan Memainkan Karakter Elma

Pengalaman serupa juga dirasakan Shanna Shannon yang berperan sebagai Elma. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok pendiam yang dalam beberapa sisi memiliki kemiripan dengan kepribadian Shanna.

Meski demikian, kemiripan tersebut tidak lantas membuat proses pendalaman karakter menjadi mudah. Shanna mengaku tetap menghadapi tantangan ketika harus mengeksplorasi emosi Elma, terutama ketika memainkan adegan yang berkaitan dengan persoalan keluarga.

Proses persiapan bahkan dilakukan sebelum proses syuting dimulai. Para pemain menjalani simulasi selama sekitar satu bulan untuk membangun karakter dan memahami dinamika cerita.

"Proses syuting sekitar tiga pekan, tetapi simulasinya berjalan saebulan sebelum syuting. Paling menantang itu saat harus memainkan adegan emosional, terutama yang berkaitan dengan keluarga Elma," tutur Shanna.

Persiapan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun chemistry antarpemain sekaligus memastikan emosi setiap karakter dapat tersampaikan kepada penonton.

Melalui pendekatan tersebut, Dan Bandung tidak hanya menawarkan cerita mengenai kehidupan mahasiswa, tetapi juga mencoba menghadirkan persoalan yang lebih luas mengenai hubungan antarmanusia.

Kisah persahabatan, hubungan anak dengan orang tua, hingga persoalan perasaan menjadi bagian dari perjalanan para karakter dalam menghadapi fase kehidupan mereka.

Film Dan Bandung diharapkan dapat memberikan warna baru bagi penikmat film Indonesia, khususnya generasi muda dan mahasiswa. Penggunaan latar kehidupan perkuliahan sekaligus dinamika emosional para tokohnya menjadi salah satu kekuatan yang ditawarkan film tersebut kepada penonton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news