Rupiah Melemah ke Rp17.859, Dolar AS Masih Perkasa

1 hour ago 1

Rupiah Melemah ke Rp17.859, Dolar AS Masih Perkasa

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026). Tekanan global membuat mata uang Garuda ditutup di level Rp17.859 per dolar AS, atau turun 16 poin (0,09%) dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.843.

Pergerakan ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase hati-hati, terutama karena pelaku keuangan global terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa tekanan utama rupiah saat ini masih berasal dari penguatan dolar AS di pasar global.

“Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS, meskipun pelemahannya diperkirakan tidak terlalu dalam karena sebagian sentimen global mulai menunjukkan perbaikan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Dolar AS Masih Kuat, The Fed Jadi Sorotan

Penguatan dolar tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang masih bertahan di kisaran 101,00. Kondisi ini dipengaruhi ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Sikap hawkish dari pejabat The Fed, termasuk Ketua Kevin Warsh, turut memperkuat keyakinan pasar bahwa peluang kenaikan suku bunga masih terbuka dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi ini membuat investor cenderung kembali ke aset berbasis dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Global Mulai Mereda

Meski demikian, tekanan dolar AS mulai sedikit tertahan setelah muncul perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, yang sebelumnya menjadi faktor pendorong inflasi.

Redanya ketegangan geopolitik tersebut memberikan ruang stabilisasi bagi pasar keuangan global, meski belum cukup kuat untuk membalikkan tren penguatan dolar.

Faktor Domestik Jadi Penahan Tekanan

Dari sisi dalam negeri, sejumlah sentimen positif turut membantu menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Salah satunya adalah rencana penerbitan Panda Bond melalui skema Local Currency Transaction (LCT), yang dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Menurut Amru, langkah tersebut berpotensi mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah. Namun, ia menegaskan bahwa kebutuhan valuta asing untuk impor dan pembayaran kewajiban luar negeri masih menjadi faktor yang membatasi penguatan rupiah.

“Meski ada dukungan dari instrumen pembiayaan baru, permintaan valas tetap tinggi sehingga ruang penguatan rupiah masih terbatas,” jelasnya.

JISDOR Juga Melemah

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke posisi Rp17.868 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.819.

Pergerakan ini menandakan tekanan terhadap rupiah masih konsisten di pasar spot maupun acuan resmi, sejalan dengan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.

Prospek Rupiah ke Depan

Ke depan, arah rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed, dinamika geopolitik, serta kebutuhan impor domestik. Selama dolar AS masih kuat, ruang penguatan rupiah diprediksi terbatas, meski sejumlah sentimen lokal berupaya menjaga stabilitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news