Jumali Senin, 15 Juni 2026 17:57 WIB

Ilustrasi rupiah. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.709 per dolar AS atau menguat sekitar 0,85%, sekaligus menjadi posisi terbaik dalam kurun tiga pekan terakhir.
Penguatan tersebut terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global setelah muncul kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka jalan bagi normalisasi perdagangan energi dunia.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Pertama, meningkatnya optimisme pasar menyusul kesepakatan damai AS-Iran yang mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Kedua, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,50% yang membuat aset keuangan domestik lebih menarik bagi investor. Ketiga, turunnya harga minyak dunia yang membantu meredakan tekanan eksternal.
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar merespons positif perkembangan geopolitik tersebut. Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 4,1% menjadi US$83,75 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 4,72% ke level US$80,87 per barel.
Pasar kini menanti arah kebijakan Bank Indonesia dalam pertemuan berikutnya. Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026. Sejak Mei 2026, total kenaikan suku bunga telah mencapai 75 basis poin sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi risiko arus keluar modal asing.
Dari sisi global, kesepakatan antara AS dan Iran menjadi perhatian utama investor. Presiden AS Donald Trump mengumumkan Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya. Selain itu, blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran juga disebut akan segera diakhiri.
Media Iran melaporkan rancangan kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Jika terealisasi, pasokan energi global yang sempat terganggu selama beberapa bulan terakhir berpotensi kembali normal.
Bagi masyarakat, penguatan rupiah berpotensi memberikan manfaat berupa penurunan tekanan harga barang impor. Kondisi ini juga dapat membantu pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri karena biaya impor menjadi lebih terkendali.
Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati arah kebijakan suku bunga. Jika BI kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, biaya pinjaman seperti kredit pemilikan rumah (KPR) maupun kredit kendaraan bermotor berpotensi ikut meningkat.
Dalam jangka pendek, para ekonom memperkirakan rupiah masih berpeluang bergerak pada kisaran Rp17.500-Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik global, pemulihan arus energi melalui Selat Hormuz, serta kebijakan moneter bank sentral AS dan Bank Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
6

















































